Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang

Tiga Kiai Masduqi dan Doa KH. Wahab Chasbullah

1 min read

Foto KH. Masduqi Mahfudz (duduk di kursi) dan KH. Masduqi Abdurrahman (bersorban, membelakangi kamera) bertemu saat pemakaman KH. Sholeh Abdul Hamid (2006) di Tambakberas. Keduanya memimpin doa bergantian. Saya berkacamata.

KH Masduqi Mahfudz, pengurus PBNU, Rois Syuriah NU Jawa Timur sebelumnya, dan pengasuh Pesantren Nurul Huda Mergosono, Malang ini banyak dikenal masyarakat sebagai kiai yang memegang teguh prinsip. Biasanya pribadi yang teguh prinsip kalau punya amalan juga teguh-istikamah ngugemi-nya. Benar, beliau teguh mengamalkan Hizib Nashar. Di banyak kesempatan dan acara diriwayatkan beliau membaca doa Hizib Nashar tersebut.

Tentu kalau orang tidak paham bisa menganggap hal itu (membaca Hizib Nashar) sebagai pamer atau sombong atau bisa juga dianggap tidak tahu situasi dan kondisi. Namun bagi yang berwawasan luas dan paham dimensi spiritual masyarakat akan bersyukur dengan apa yang dilakukan oleh tidak banyak orang seperti yang dijalankan oleh KH. Masduqi Mahfudz.

Kami, tim pengumpul doa kiai sepuh Tambakberas, juga berhasil menghimpun dalam berbagai jalur “perawi” atau penerima ijazah Hizib Nashar yang muaranya ke Kiai Wahab Chasbullah. Para penerima ijazah dari Kiai Wahab tersebut:

  1. KH. Mahrus Ali,
  2. KH. Anwar Manshur,
  3. KH. Aziz Manshur,
  4. Nyai Mu’tamaroh binti Wahab Chasbullah,
  5. KH. Abdul Adhim,
  6. KH. Fauzi Abdullah.

Tentu kami menyesal belum sempat meminta ijazah dari beliau yang mulia KH. Masduqi Mahfudz.

Karena ijazah yang istikamah diamalkan, apalagi pengamalnya adalah pribadi teguh prinsip tentu afdhal dan akan semakin memperkuat jalur genealogis (sanad-ijazah) yang telah kami dapat.

Sedangkan kiai yang kedua adalah KH. Masduqi Abdurrahman Al Hafidz. Beliau teguh dan istikamah dengan hafalan Alqurannya. Pesantrennya di Perak Jombang pun diberi nama Roudhotu Tahfidzil Quran. Pada setiap acara yang saya ikuti, beliau kalau berdoa hampir bisa dipastikan membaca doa khatm al-Qur’ān.

Orang yang berpandangan sempit juga bisa menilai apa yang dilakukan KH. Masduqi Abdurrahman adalah sejenis pamer akan hafalnya karena membaca doa memakai doa khatm al-Qur’ān. Padahal hal itu jauh pribadi mulia dan apa adanya seperti KH. Masduqi Abdurrahman ini.

Baca Juga  Dhikr al-Mawt [3]: Mengingat Kematian

Kapan hari beliau bercerita kepada saya bahwa doa yang beliau baca ini sudah diamini oleh Kiai Wahab. Syahdan, saat itu KH. Masduqi yang merupakan santri kalong di Tambakberas, selesai ngaji diminta membaca doa oleh Kiai Wahab, lalu beliau membaca doa khatm al-Qur’ān yang sudah beliau hafal di hadapan Kiai Wahab. Maka hal itu dianggap KH. Masduqi sudah direstui atau diijazahi oleh Kiai Wahab Chasbullah.

Sebenarnya ada lagi KH. Masduqi yang ketiga, yakni KH. Masduqi Abdul Ghani (kakak Rais Syuriyah PBNU, KH. Miftachul Achyar). Sama dengan KH. Miftachul Achyar, KH. Masduqi ini alumni Tambakberas. Sayangnya karena korona kami belum bisa sowan ke beliau. Dalam buku sejarah Tambakberas beliau bolak balik mengatakan tentang kewalian Kiai Hamid Chasbullah.

Untuk seluruh para kiai baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup kita bacakan al-Fātihah. [MZ]

Ainur Rofiq Al Amin Dosen Pemikiran Politik Islam UINSA dan UNWAHA Tambakberas serta pengasuh Al Hadi 2 PP Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang