Aly Reza Pegiat di Sanggar Seni dan Sastra Bengkel Muda Surabaya

Apa Salahnya Menghafal Alquran Agar Mendapat Beasiswa atau Haji Gratis?

3 min read

Orang tua mana yang tak mendambakan anaknya jadi penghafal Alquran? Karena selain membanggakan, jika merujuk HR. Thabrani, kelak di akhirat si orang tua juga akan diberi mahkota kehormatan dan jubah kebesaran yang indah.

Kemudian muncul pertanyaan, bagaimana jika tujuan menghafal Alquran agak bergeser ke arah materialistik, di mana mengharap keuntungan duniawi terkesan lebih dominan ketimbang sekadar laba ukhrawi seperti dalam hadis tersebut?

Misalnya, hari ini banyak sekali yang berlomba-lomba mengkursuskan anak-anaknya hafalan Alquran hanya agar kelak si anak bisa mendapat beasiswa ketika sekolah (mulai dari SMA-kuliah). Atau supaya bisa ikut even-even semisal Hafiz Indonesia sehingga punya peluang haji atau umrah gratis. Selanjutnya, akhirnya bermunculan tempat-tempat kursus Alquran yang memberi garansi hafal Alquran dalam waktu singkat.

Bahkan ada beberapa sekolah (termasuk SMA saya) yang membuka kelas ekstrakulikuler khusus program tahfiz Alquran dengan tagline: Mencetak generasi Qurani. Padahal, niat terselubungnya adalah agar lulusan-lulusan dari program ini bisa lolos ke PTN-PTN kenamaan dengan modal hafalan yang mereka punya. Ujung-ujungnya; mengatrol rating sekolahan.

Pertanyaan selanjutnya, apakah etis menghafal Alquran dengan skema tujuan transaksionis seperti itu? Untuk itu, saya akhirnya memutuskan untuk diskusi dengan dua orang kawan saya yang masing-masing merupakan hafiz Alquran. Satunya anak pesantren tulen (nyantri sampai sekarang), dan satunya lagi adalah jebolan pesantren yang sekarang kuliah berkat program beasiswa tahfiz. Ada dua pendapat:

Pendapat Pertama: Mempermasalahkan

Pendapat pertama saya ulik dari kawan saya yang santri tulen. Dia amat sangat menyayangkan adanya program-program hafalan Alquran yang disiarkan di televisi dan menentang adanya ‘praktik transaksional’ seperti menghafal Alquran dengan angan-angan bisa dapat beasiswa, haji atau umrah gratis, atau keuntungan-keuntungan duniawi lainnya.

Baca Juga  Pentingnya Tasawuf Sosial dalam Kehidupan Sehari-Hari

“Kok bisa gitu loh, Mas, menghafal Alquran dikomersilkan,” keluhnya kepada saya. Dia menjelaskan, ada beberapa aspek yang sudah menyimpang dari khittah para penghafal Alquran. Pertama, dalam tradisi pesantren yang dia anut, adalah pantangan seseorang yang masih dalam proses menghafal Alquran menunjuk-nunjukkan hafalannya kepada khalayak umum. Baik dari segi bacaan maupun jumlah juz yang dihafal.

Aturan ini sangat ketat sekali. Bahkan, menurut pengakuan kawan saya, kalau ada yang nanya, “Eh, sudah hafal berapa?,” maka jangan sampai dijawab apa adanya. Jangan dijawab, misalnya “Sudah sekian juz” kalau tidak mau keutamaan hafalannya buyar. Betul-betul harus mengambil posisi mengasingkan diri. Bagian ini sudah dilanggar dengan penayangan-penayangan orang menghafal Alquran di televis atau lomba-lomba hafalan Alquran lainnya. “Hafalan Quran kok dilombain,” gerutu kawan saya.

Kedua, menghafal Alquran itu ya menghafal saja, titik. Jangan ada embel-embel biar dapat ini biar bisa itu. Karena yang ada nantinya banyak yang tidak benar-benar murni ‘menjaga’ kalam Allah, sementara paham atau tidak paham maksud ajarannya dinomor sekiankan. Kata kawan saya, tidak cocok kalau program-program hafalan Alquran bawa-bawa tagline: Menciptakan generasi Qurani.

“Yang namanya generasi Qurani itu ya bukan cuma hafal teksnya thok. Tapi isinya juga mengendap di hati. Jadi pedoman buat berlaku sehari-hari,” terang kawan saya.”Makanya tidak heran kalau ada hadis yang menyebut; bahwa sebagian besar penghuni neraka kelak adalah para penghafal Alquran. Ya karena itu tadi, cuma hafal saja, tapi tidak bisa menerapkan nilai-nilainya. Jadinya malah penghafal Alquran tapi ahli maksiat.” Kawan saya memberi contoh seorang penghafal Alquran bernama Bal’am bin Baura yang menjelang akhir hayatnya jutsru dinistakan Allah bertingkah seperti anjing (menjulur-julurkan lidah) karena selalu menebar fitnah kepada Nabi Musa.

Baca Juga  Ketika Nasihat Kebaikan Melalui Perantara Media Sosial Menimbulkan Kesalahpahaman

Ketiga, yang sangat menyinggung tentu adalah hadirnya pusat-pusat kursus dengan tawaran menggiurkan: hafal Alquran dalam waktu singkat. Kawan saya kemudian menyitir penggalan Q.S. al-Qiyāmah: 16-17 yang artinya; Janganlah kamu menggerakkan lidahmu untuk (membaca atau menghafal) Alquran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya (di dadamu) dan (membuatmu pandai) membacanya.

“Rasulullah dan para sahabat itu butuh 23 tahun loh, Mas, buat menghafal. Artinya, urusannya emang bukan sekadar menghafal saja, tapi memahami konteks isinya juga.” Tandas kawan saya.

Pendapat Kedua: Tidak Mempermasalahkan

Berhubung kawan saya yang hafiz cum mahasiswa ini sibuknya amit-amit, alhasil diskusi kami berlangsung sekenanya saja. Tapi yang jelas, kawan saya  ini berpendapat bahwa tidak ada yang salah, kok, jika seorang hafiz pada akhirnya meraup keuntungan dari hafalan Alquran-nya. “Itu adalah bagian dari syafaat Alquran di dunia, Mas,” ucapnya. “Adapun yang di akhirat kelak ya bisa mengenakan mahkota dan jubah kebesaran kepada orang tua itu tadi.”

Landasan yang digunakan oleh kawan saya ini adalah HR. Bukhari yang kurang lebih bermaksud; bahwa Allah menjanjikan bagi para penghafal Alquran kebaikan, berkah, dan kenikmatan. Nah, bagian ini kalau ditafsiri agak luas, bukan cuma untuk kehidupan akhirat, namun juga berlaku untuk kenikmatan duniawi. Maka, mendapat beasiswa, haji atau umrah gratis, dan lain-lain itu bisa dihitung sebagai berkah dan kenikmatan duniawi. Jadi menurutnya, kurang tepat jika disebut komersialisasi hafalan Alquran. Hla wong Allah sendiri yang udah jamin, og.

“Lalu bagaimana dengan cepet-cepetan hafalan Alquran?” saya coba memancing. “Konteksnya beda, Mas. Zaman Rasul Alquran turun berangsur disesuaikan dengan problem masyarakat pada masa itu. Jadi, mau tidak mau ya Rasulullah dan para sahabatnya baru bisa dibilang menghafal setelah 23 tahun,” jawabnya. Kawan saya juga menyebutkan beberapa list ulama yang hafal Alquran bahkan di usianya yang di bawah 10 tahun.

Baca Juga  ‘NU Global Action Melawan Covid-19

“Cepat atau tidak seseorang menghafal Alquran itu tidak ada hubungannya dengan melancangi Rasulullah. Lagi pula, Allah kan memang bakal memberi kemudahan bagi siapa saja yang berniat menghafal Alquran. Salah satu wujud kemudahannya ya bisa menghafal cepat itu.”

Terakhir kawan saya menuturkan, para penghafal Alquran memang dituntut buat menjaga perilaku. Tapi kalau harus perfect dan tidak bisa salah babar blas, itu malah kurang manusiawi. Kodratnya manusia itu ya bisa salah. Berakhkak total seperti Alquran itu cuma bisa dilakukan oleh Rasulullah sebagai manusia pilihan. [MZ]

Aly Reza Pegiat di Sanggar Seni dan Sastra Bengkel Muda Surabaya