



Dilahirkan sebagai seorang muslim yang berada di Indonesia merupakan rahmat tersendiri yang wajib disyukuri, karena berkat keluasan pikiran dan rasa toleransi para wali, ulama’ dan kyai, saya dapat merasakan keindahan Islam dalam konteks ke-Indonesiaan. Menurut saya mereka sangat paham betul bahwa upaya melakukan perubahan atau pembaharuan yang dilakukan dari luar acapkali menemukan penolakan yang keras dan menimbulkan kegagalan.
Akhirnya mereka memilih melakukannya dari dalam dan dengan cara-cara beradab, betul saja pada gilirannya mereka berhasil meramu Islam dengan adat serta kebudayaan Nusantara, sehingga sekarang saya dapat merasakan praktik kebudayaan yang dibalut dengan nilai-nilai ke-Islaman, mulai dari sembahyang, tumpengan, kenduren, neloni, mitoni dan hal-ihwal lainnya.
Islam yang demikianlah yang hingga saat ini dipraktikkan dengan sangat khusyuk oleh masyarakat di tempat saya tinggal, dalam hal ini saya mengutip ungkapan Gus Dur yang mengudara di media sosial “Islam itu datang bukan untuk mengubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan aku menjadi ana, sampeyan jadi antum, sedulur jadi akhi. kita pertahankan milik kita, dan kita harus serap ajarannya bukan budaya Arabnya.”
Terdapat kaum sarungan yang sejak kelahirannya hingga saat ini berperan menggerakkan semangat toleransi dan telah bersumbangsih besar dalam menciptakan kemajemukan negeri, kaum sarungan ini adalah Nahdlatul Ulama (NU) yang merupakan organisasi Islam modern yang sangat konsisten memperjuangkan, menjaga sekaligus melestarikan warisan-warisan dari para wali, ulama’ dan kyai, baik warisan yang berupa ibadah ritual, paham Islam ke-Indonesiaan maupun produk-produk budaya ke-Nusantaraan, kerja-kerja perjuangan dalam ruang ini memerlukan beragam stimulan yang pastinya juga sangat menguras waktu, energi, tenaga dan pikiran yang cukup melelahkan. Namun sekali lagi NU mengambil porsi paling besar untuk menjaga keindahan tersebut.
Keindahan ini sebenarnya buah emas dari kerja-kerja tranformasi sosial yang dilakukan oleh kaum sarungan, mengingat NU telah menyejarah khususnya dalam menjadi alat yang canggih untuk melahirkan moeslem intellectual movement, menjadi sebuah agen yang secara aktif melakukan perubahan terhadap tatanan sosial yang telah usang, atas rekam sejarah mulia itulah. NU sebenarnya telah menjawab anggapan bahwa agama hanya menjadi rangkaian ibadah kering bagi pemeluknya dan hanya menjadi doktrin abstrak dan metafisis yang sulit dipahami. Dan agaknya kaum sarungan ini memang sangat paham betul bahwa kerja-kerja transformasi sosial akan menemukan signifikansi dan evektifitasnya jika dilakukan melalui tradisi atau budaya masyarakatnya.
Cara kaum sarungan memahami kondisi sosial historis masyarakat Indonesia dan menempatkan diri di tengah-tengahnya patut diapresiasi. Pendekatan-pendekatan kultural yang mereka lakukan kerap kali dapat diterima dengan terbuka oleh masyarakat. Hal ini banyak dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan kaum sarungan, yakni pendidikan pesantren dimana dalam pesantren semua santri hidup secara bersama-sama, gotong royong, makan, tidur dan belajar bersama. Berkat ekosistem belajar yang demikianlah kaum sarungan dapat dengan mudah bergumul dengan lingkungan baru dan modal ini tentu sangatlah baik dan menguntungkan bagi mereka dalam melakukan kerja-kerja transformasi sosial untuk mendatangkan kemaslahatan bagi masyarakat.
Kerja-kerja perjuangan melalui jalan transformasi sosial sudah dilakukan oleh NU sejak ia masih belia, hingga kini kaum sarungan tersebut masih istiqomah akan kerja-kerja mulia tersebut, dan melalui inilah salah satu penyebabnya NU dikenal sebagai organisasi Islam yang sangat akomodatif.
Melalui Laziznu misalkan, NU di seluruh jagat negeri ini kerap kali memberikan bantuan zakat dan modal usaha kepada masyarakat yang terjebak dalam jurang kemiskinan akibat ketimpangan ekonomi dan kuasa produksi. Kerja-kerja ini meskipun banyak orang memandang sangat sederhana tapi manfaatnya sangat terasa dan sangat signifikan untuk menekan angka kemiskinan.
Bahkan jika kita bandingkan dengan negarapun, salah satu program pemerintah untuk mengatasi kemiskinan adalah memberikan bantuan sekaligus modal usaha bagi masyarakat yang membutuhkan. Selain itu dibanyak ruang, baik di organisasi pelajar, organisasi kepemudaan maupun lembaga lainnya kaum sarungan kerap kali mengadakan kursus-kursus yang memang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hajat hidup orang banyak. Contoh ini ibarat sebutir padi dari sekian banyak padi mulia yang telah lahir dari rahim NU.
Jadi segala daya upaya yang dilakukan oleh kaum sarungan sebenarnya mendapatkan tempat tersendiri dalam denyut hidup masyarakat, dan khusus kerja-kerja transformasi sosial merupakan kerja-kerja yang paling di terukur dan paling bisa diingat sekaligus dirasakan langsung oleh waraga akar rumput NU. Jadi yang membuat NU menjadi organiasi terbanyak pengikutnya di Indonesia bahkan di dunia sekalipun, bukan hanya di pengaruhi oleh ulama-ulama besar yang telah sangat berhasil menahkodainya, disisi lain terdapat pula kaum sarungan yang sangat militan nderek NU lan kyai dan bersinggungan langsung dengan persoalan yang dirasakan masyarakat dan kemudian terlibat secara aktif dalam proses penyelesaian persoalan tersebut.
Dengan kebesarannya sekarang ini, NU yang sekarang mulai merangkak ke pentas global tidak boleh congkak dan lupa bahwa melaui kerja-kerja transformasi sosiallah NU menjadi besar. Karenanya menjaga nalar kritis kaum sarungan dan terus istiqomah menyelamatkan massa akar rumput NU akan ketimpangan merupakan DNA NU yang senantiasa harus diwariskan kepada muda-mudi pembaharunya.
“Untuk waktu sekarang, persoalan paling mendasar bagi kita adalah bagaimana memiliki mindset (pola pikir) yang tepat untuk dunia yang sedang dan akan selalu berubah.” Gus Yahya Cholil Staquf (Ketua Umum PBNU 2022-2027).
Selamat merayakan satu abad Nahdlatul Ulama!
Merawat jagat membangun peradaban.
Santri Ngalah dan Kader GMNI Yudharta