Agus Riyadi Lahir di Palembang; Penyuka Kopi dan Ilmu; Mengabdi di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Jangan [Lupa] Mandi

1 min read

Joko Pinurbo (Jokpin) menulis puisi tentang “Lupa”. Puisi ini terdapat dalam buku kumpulan puisinya yang berjudul “Telepon Genggam” terbit pada tahun 2003. Pada bagian akhir puisi, hanya terdiri dua baris: yang pertama berupa pertanyaan retorik:

Adakah yang benar-benar habis digerogoti lupa?

yang kedua saya kira murni tentang sebuah pernyataan definitif:

“lupa: matawaktu yang tidur sementara”.

Saya tertarik dengan puisi ini pada bagian tengah:

“Mandi lupa membawa handuk atau celana untuk ganti
itu biasa. Mandi lupa telanjang mungkin saja terjadi.
Tapi mandi lupa membawa topeng? Bisa berabe. Untuk
apa topeng diajak mandi? Untuk menakut-nakuti sepi.
Untuk menemani wajah sendiri.”

Puisi tentang lupa ini seutuhnya terdiri dari enam bagian. Potongan puisi di atas, merupakan bagian ke-4 dan saya kira ini sungguh menarik. JokPin mengungkap lupa yang terjadi di aktivitas mandi; (biasa) lupa bawa handuk; (mungkin) lupa telanjang. Namun bila lupa bawa topeng menjadi masalah.

Jokpin mengungkap mandi bawa topeng. Ini mandi yang bagaimana? Bagi manusia, mandi adalah satu momen yang mempunyai ragam makna; Pertama, dalam keseharian, mandi tidak lebih dari upaya membersihkan tubuh. Membasahi seluruh anggota badan supaya bebas dari kotoran. Kedua, dalam rekreasi, mandi dapat dilihat sebagai usaha penyegaran, refreshing dan pembaruan diri. Pada aktivitas mandi yang seperti ini, kaitanya tentu dengan kondisi dan suasana hati.

Lebih dalam, mandi berarti semacam aktivitas meziarahi diri, pertobatan, perenungan. Persis pada makna ini bahwa mandi (menziarahi diri) akan bertemu dengan sepi. Ruang kosong itu horor; kehampaan menjadi sebab bunuh diri. Karena itu mandi lupa bawa topeng bisa berabe.

Kemudian, Jokpin mengungkap pada baris berikutnya fungsi topeng, yaitu “untuk menakut-nakuti sepi” dan “untuk menemani wajah sendiri”. Topeng ini tidak lebih wajah lain dari diri sendiri. Topeng ikut mandi adalah strategi untuk berkomunikasi dengan diri sendiri. Fungsinya adalah untuk menyembunyikan sekaligus menertawakan diri sendiri. Akhirnya, bisa dimaknai bahwa mandi bawa topeng adalah aktivitas menyenangkan sehingga sepi menjadi pucat ketakutan.

Baca Juga  Wedhatama: Pupuh Sinom, Jalan Salik Sufi Bagi Generasi Muda (2)

Pergi Mandi..!! Jangan lupa topengnya… [HM]

Agus Riyadi Lahir di Palembang; Penyuka Kopi dan Ilmu; Mengabdi di STAI Sunan Pandanaran Yogyakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *