




Khutbah I
اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرْ كَبِيْرًا وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً، لَاإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ، صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ، لاَإِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ اْلحَمْدُ
Hari ini, kita bersama kaum muslimin di seluruh dunia berkumpul di masjid-masjid dan lapangan-lapangan untuk melaksanakan shalat Idul Adha. Di hari yang sama, ratusan ribu umat Islam melaksanakan rukun Islam kelima di Makkah. Mereka bagaikan delegasi dari ratusan negara yang berkumpul setiap tahun untuk mengumandangkan talbiyah secara bersama-sama:
لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ
Ya Allah, aku memenuhi panggilan-Mu, Ya Allah aku memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, sesungguhnya pujian dan kenikmatan hanya milik-Mu, dan kerajaan hanyalah milik-Mu, tiada sekutu bagi-Mu
Apa sebenarnya makna dari semua ibadah dan ketaatan yang kita lakukan?
Kita tidak boleh hanya terpaku pada simbol dan bentuk ritual semata. Sebaliknya, kita harus menangkap makna yang lebih dalam dari semua ibadah itu. Setiap kalimah thayyibah (kalimat terbaik untuk menyanjung Allah) yang kita dengungkan harus mampu menggetarkan hati, membentuk kita menjadi pribadi yang thayyibah yakni, pribadi yang peka terhadap panggilan Allah, pribadi yang taat, dan yang mencintai-Nya sepenuhnya.
Ketaatan kepada Allah harus lebih utama dari ketaatan kepada apa atau siapa pun. Salah satu simbol ketaatan itu tampak nyata melalui ibadah kurban yang kita laksanakan pada hari yang mulia ini.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Kurban adalah ibadah yang dilakukan dengan menyembelih hewan tertentu seperti sapi, kambing, unta, atau domba. Ia merupakan simbol pengabdian dan penghormatan seorang hamba kepada Allah SWT.
Kesediaan untuk berkurban adalah cerminan kesadaran dan rasa syukur atas nikmat Allah yang tak terhitung jumlahnya. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ
Sesungguhnya Kami telah memberimu (Nabi Muhammad) nikmat yang banyak. Maka, laksanakanlah shalat karena Tuhanmu dan berkurbanlah! Sesungguhnya orang yang membencimu, dialah yang terputus (dari rahmat Allah). (Q.S. Al-Kautsar [108]: 1–3)
Ayat ini menunjukkan bahwa niat utama dalam beribadah, baik shalat, kurban, maupun ibadah lainnya, haruslah sebagai bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah anugerahkan. Bukan karena keinginan untuk mendapatkan balasan duniawi semata, apalagi bersifat transaksional.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Kita semua pernah berada dalam keadaan “tidak ada”. Kita berasal dari ketiadaan yang sangat panjang, bahkan tanpa permulaan. Kemudian Allah menciptakan kita melalui perantara kedua orang tua kita. Dari yang semula tiada dan tidak memiliki apa pun, menjadi ada dan diberi banyak nikmat—semuanya adalah anugerah luar biasa dari Allah SWT.
Imam Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam menyebutkan:
نعمتان ما خرج موجود عنهما، ولا بد لكل مكون منهما، نعمة الإيجاد ونعمة الإمداد
Ada dua nikmat besar yang tidak bisa dilepaskan dari setiap makhluk yang diciptakan: nikmat diciptakan (ijad) dan nikmat diberi pemeliharaan serta kecukupan (imdad).
Setiap makhluk, termasuk manusia, awalnya tidak memiliki eksistensi. Lalu Allah menciptakan, memelihara, dan memberikan berbagai kebutuhan hidup. Ini adalah nikmat besar yang wajib disyukuri.
Bagaimana cara kita mensyukuri nikmat ini? Jawabannya adalah dengan banyak memuji Allah dan terus meningkatkan kualitas ketakwaan kita.
Mari kita tingkatkan niat dalam setiap ibadah, dari niat transaksional menjadi niat pengabdian dan rasa syukur atas nikmat-Nya, sebagaimana diajarkan dalam Surah Al-Kautsar.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat rahimakumullah,
Ibadah lain yang sangat erat kaitannya dengan Hari Raya Idul Adha adalah ibadah haji. Dalam rangkaian ibadah haji terdapat satu amalan penting yang dikenal sebagai sa’i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil antara bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali.
Amalan ini merupakan napak tilas atas perjuangan Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim as., saat berusaha mencari air untuk dirinya dan anaknya, Nabi Ismail AS. Dari peristiwa ini kita melihat bahwa Siti Hajar bukan hanya seorang ibu yang hebat, tapi juga pribadi yang sangat tegar.
Dalam situasi sulit dan penuh tekanan, beliau tidak mengeluh, tidak menyalahkan orang lain, apalagi menyalahkan Allah. Beliau tetap tegar, optimis, dan terus berikhtiar, sembari menunggu datangnya pertolongan Allah. Hingga akhirnya, muncullah mata air di tengah padang pasir, kini dikenal sebagai Zamzam, sebagai bentuk kasih sayang dan kekuasaan Allah SWT.
Sikap tegar dan optimis Siti Hajar inilah yang perlu kita teladani. Maka dari itu, melalui ritual sa’i ini, kita diajarkan untuk tegar dalam menghadapi cobaan hidup, optimis dan tidak mudah menyerah dalam berusaha, dan dinamis, dalam arti terus berupaya meningkatkan kualitas diri dalam ibadah dan kebaikan.
Semoga dalam momen hari raya Idul Adha ini, kita mampu menangkap makna terdalam dari setiap ibadah yang kita lakukan: yakni syukur, ketundukan, pengorbanan, dan keteguhan iman.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ هَذَا الْيَوْمِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ وَالصَّدَقَةِ وَتِلَاوَةِ الْقُرْاَنِ وَجَمِيْعِ الطَّاعَاتِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ، أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقَهُ الْقُرْآنُ أَمَّا بَعْدُ، فَأُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ وَاتَّقُوا اللهَ تَعَالَى فِي هَذَا الْيَوْمِ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ، أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الصَّالحينَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلْ عِيدَنَا هَذَا سَعَادَةً وَتَلاَحُمًا، وَمَسَرَّةً وَتَرَاحُمًا، وَزِدْنَا فِيهِ طُمَأْنِينَةً وَأُلْفَةً، وَهَنَاءً وَمَحَبَّةً، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا بِالْخَيْرِ وَالرَّحَمَاتِ، وَالْيُمْنِ وَالْبَرَكَاتِ، اللّٰهُمَّ اجْعَلِ الْمَوَدَّةَ شِيمَتَنَا، وَبَذْلَ الْخَيْرِ لِلنَّاسِ دَأْبَنَا، اللّٰهُمَّ أَدِمِ السَّعَادَةَ عَلَى وَطَنِنَا، وَانْشُرِ الْبَهْجَةَ فِي بُيُوتِنَا، وَاحْفَظْنَا فِي أَهْلِينَا وَأَرْحَامِنَا، وَأَكْرِمْنَا بِكَرَمِكَ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، وَأَدْخِلْنَا الْجَنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ، يَا عَزِيزُ يَا غَفَّارُ عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ، وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنْهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ، عِيْدٌ سَعِيْدٌ وَكُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ
Pengasuh Pesantren Virtual al-Hidayah; Mengabdi di MUI Gresik; Penulis Buku Jagat Kiai Gresik