Asri Sawiji Dosen Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya; Departemen Media Moderate Muslim Institute

Filosofi Kembang Telon: Mawar, Kenanga, dan Kantil

1 min read

Orang Jawa pasti tidak asing dengan tiga jenis bunga yaitu Bunga Mawar, Bunga Kenanga dan Bunga Cempaka Putih (kantil). Konon ketiga jenis bunga ini dikemas menjadi sebuah pitutur oleh kanjeng Sunan Kalijaga sebagai analogi filosofi kehidupan.

Filosofi Kembang Telon ini sangat dalam maknanya.  Kembang yang berarti bunga, sedangkan telon bisa dimaknai sebagai angka tiga.

Kanjeng Sunan mengilustrasikan manusia dalam menjalani kehidupan ini seperti layaknya kembang mawar, kembang kenongo, kembang kantil.

Mawar

Kembang Mawar, kehidupan di dunia ini layaknya mawar yang indah dan selalu menarik hati siapa yang melihatnya.

Bisa juga mawar yang berarti mawarno-warno (berwarna-warni). Allah menciptakan bumi dan seisinya dengan sangat beragam. Hal ini diterangkan pula pada surat Al Hujurat:13 (Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal).

Begitu pula dengan kehidupan. Banyak sekali pilihan dalam hidup yang terlihat indah bak bunga mawar yang mekar. Ingin sekali kita memandangi dan mengagumi keelokan dunia. Manusia sebagai makhluk Allah yang diberi akal, diberi banyak pilihan dalam menjalani hidup. Selain itu, manusia juga diminta oleh Allah untuk mengenal keberagaman tersebut.

Kenanga

Kembang Kenanga. Manusia diberikan free will oleh Allah SWT. Kebebasan dalam menentukan kemana arah hidup ini. Layaknya kembang kenongo, keno ngono keno ngene. Bebas tidak diperintah dan memerintah. Terserah, mau bergerak kemana saja diperbolehkan. Keberagaman dalam berbagai aspek di dalam kehidupan ini membuat kita seperti dihadapkan dalam banyak jalan. Banyak jalan yang artinya sebenarnya Allah juga meminta kita untuk mengenalinya.

Sebagai contoh bila kita menganalogikan seperti halnya kita menggunakan maps google. Kita dipersilakan oleh google maps memilih jalan A/B/C untuk pergi ke tempat tujuan. Jika kita sangat mengenali daerah tersebut, apa yang ada di kiri dan kanan jalan, bagaimana kondisi jalannya, macet/tidak, dan lain sebagainya, maka kita tidak akan serta merta mengikuti perintah google yang memberikan pilihan hanya dari beberapa klasifikasi dan rekomendasi berdasarkan jalur tercepat saja.

Baca Juga  Pentingnya Dakwah dalam Menekan Penyebaran Hoaks COVID-19

Sesungguhnya Allah memberikan kita kebebasan untuk menentukan kita mau kemana/mengambil keputusan apa.

Kantil

Kembang kantil. Kantil yang berarti tidak dapat terpisahkan. Yang dimaksud adalah keputusan yang kita ambil tidak bisa terpisahkan oleh karma atau dampak yang akan terjadi selanjutnya. Segala keputusan/pemikiran/perbuatan yang kita ambil saat ini, maka akan berdampak pada hidup kita kedepan. Kita hari ini adalah kumpulan dari keputusan-keputusan yang telah kita ambil di masa lampau.

Dalam ilmu fisika kuantum, bisa kita masukkan dalam sub-bab law of attraction“you get what you think about, your thought determines your experience”. Pikiran kita (sadar dan bawah sadar), emosi, kepercayaan akan menarik kita pada suatu pengalaman yang juga seperti yang kita harapkan/pikirkan tersebut.

Mengingat hukum daya tarik tersebut, sebenarnya kita dipaksa oleh Allah untuk berfikir sebelum memutuskan apa yang akan kita pilih dalam hidup ini. Dan ini tak lepas dari doa dan syukur. Agar apa yang kita pilih adalah benar, tepat serta sesuai dengan yang Allah ridhoi.

Jika disimpulkan, pitutur Jawa ini menganalogikan bahwa kehidupan ini layaknya mawar-kenanga-kantil. Tuhan Semesta Alam menciptakan keanekaragaman/pilihan hidup. Manusia bebas menentukan pilihan, keputusan hidup/perbuatan yang telah diambil akan menentukan karma/pengalaman yang akan dihadapi ke depan.

Asri Sawiji Dosen Ilmu Kelautan UIN Sunan Ampel Surabaya; Departemen Media Moderate Muslim Institute