



اَلْحَمْدُ لِلّهِ، نَحْمَدُكَ اللَّهُمَّ عَلَى مَا هَدَيْتَنَا لِطَرِيْقِكَ القَوِبْمِ وَفَقَّهْتَنَا فِي دِيْنِكَ الْمُسْتَقِيْمِ، نُصَلِّى وَنُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ المُصْطَفَى، وَأَلِهِ وَصَحْبِهِ أَهْلِ الصِّدْقِ وَ الوَفَاء. أَمَّا بَعْدُ، يَا أَيُّهَا المُسْلِمِينَ أُصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى فِى كِتَابِهِ الكَرِيِمِ: وَلَا تَقُولُواْ لِمَن يُقۡتَلُ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِ أَمۡوَٰتُۢۚ بَلۡ أَحۡيَآءٞ وَلَٰكِن لَّا تَشۡعُرُونَ ١٥٤
Ma’syiral muslimin rahimakumullah,
November adalah bulan yang diidentikkan sebagai bulan pahlawan. Berbagai momentum perayaan hari pahlawan selalu diselenggarakan tiap pada tanggal 10 November.
Iya, 80 tahun lalu. Surabaya membara, semangat arek-arek Surabaya dan sekitar letuskan perlawanan nyata kepada koloni dan sekutu yang ingin kangkangi kemerdekaan bangsa ini. Sah-sah saja, kalau Soekarno tetapkan 10 November sebagai Hari Pahlawan untuk mengenang jasa para pahlawan.
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Hari ini, hari pahlawan seperti menjadi momen untuk obral gelar “pahlawan”, bahkan saking kepalang murah sampai sematan “pahlawan” seakan tak miliki nilai. Semoga saja asumsi khotib ini salah!
Mari kita telaah ulang tentang arti pahlawan, dalam KBBI pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran.
Senada dengan interpretasi Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Munir tentang ayat Al-Baqarah ayat 154 (2/40), bahwa orang-orang syahid (gugur sebagai pejuang di jalan Allah) atau—secara sederhana kita sebut—pahlawan adalah orang-orang berkorban untuk menolong dan siarkan agama Islam. Tak tanggung-tanggung, pahlawan dalam Islam mendapatkan jaminan langgeng di surga, mereka sudah tidak perlu sematan “pahlawan” dari pemerintah.
Lantas, bagaimana orang yang semasa hidup pernah menzalimi umat Islam, berbuat korup, kemudian mendapatkan sematan pahlawan?
Jemaah salat Jumat rahimakumullah,
Pahlawan identik dengan keberanian, Nabi Muhammad saw. merupakan sosok paling berani; berani melawan kebatilan, melawan musuh-musuh Allah, dan membela kebenaran. Hadis riwayat Anas r.a.,
كَانَ رَسُولُ اللهِ-صلى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّمَ- أَحْسَنَ النَّاسِ وَأَجْوَدَ النَّاسِ وَأَشْجَعَ النَّاسِ
“Nabi Muhammad saw. adalah sosok yang paling baik, sosok paling dermawan, dan sosok paling pemberani.“
Baginda Nabi adalah pahlawan sejati bagi umat ini! Beliau berkorban untuk tegakkan kebenaran yang bersumber dari Allah, bukan kebenaran bias dari tafsir sejarah yang dibuat oleh “pemenang”! Bahkan Nabi sendiri adalah kebenaran itu sendiri!
Jemaah Salat Jumat rahimakumullah,
Membicarakan pahlawan berarti berbicara tentang pejuang kebenaran. Nabi Muhammad saw. ajarkan kita untuk itu; berjuang demi kebenaran meski rasanya pahit!
عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ لِي النَّبِيُّ-صلى اللهُ عَلَيهِ وَسَلَّم-))قُلِ الحَقَّ وَلَوْ كَانَ مُرًّا))
Diriwiyatkan dari Abu Darrin, Nabi Muhammad saw. bersabda padaku, “Katakanlah kebenaran, meski itu pahit.“
Kebenaran dan kebatilan itu tidak bisa bercampur menjadi satu, bukan? Artinya, untuk sepakati siapa yang pantas mendapat sematan pahlawan atau tidak, cukup sederhana dan mudah!
Jemaah salat Jumat yang dirahmati Allah,
Bukankah dari hadis di atas bisa diambil simpulan, bahwa diam pada kezaliman (di masa lalu) dan tidak berani mengungkapkan bukankah termasuk kezaliman itu sendiri?
Membicarakan kebenaran itu memang pahit, seperti saat minum obat. Meski demikian, obat pahit itu harus diminum habis agar tetap sehat, kan!
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Momentum November ini harus menjadi momentum untuk berani katakan yang benar untuk melawan yang salah. Setidaknya di tengah era ketidakpastian dan kebimbangan ini. Kebenaran harus diajarkan, kesalahan sejarah harus diceritakan agar tidak terulang.
Masak iya, kelak anak-anak kita akan menganggap orang-orang korup sebagai pahlawan negara tercinta kita ini? Tentu, tidak demikian, kan!
Kita sepakat, “pahlawan” bisa disematkan kepada para pejuang kebenaran. Namun, apakah kita rela dan rida generasi bangsa ini tidak memiliki standar kebenaran dan kesalahan yang jelas?
Menutup khotbah, khotib ingin menyadur dawuh Kiai Abdurrahman Wahid.
“Bangsa ini penakut karena tidak berani bertindak kepada orang yang berbuat salah!“
Semoga Allah kuatkan kita sebagai muslim sekaligus warga negara Indonesia yang baik. Semoga Allah kuatkan kita untuk berkata jujur serta usahakan kebajikan dan kebaikan untuk orang–orang sekitar.
أَقوْلُ قوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتغْفِرُ اللهَ ُ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah II
اَلْحَمْدُ للّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. أَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
أَمَّا بَعدُ، فَيا أَيُّها الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفسِيْ بِتقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فقَالَ: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ، يَا أَيُّها الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ وَعَلَى اٰلِ سَيِّدِنَا إِبرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغيَ وَالسُّيوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ
عِبَادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى ويَنهَى عَنِ الفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالبَغيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ. فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ
Alumni Ponpes Mambaus Sholihin, Gresik.