Atun Wardatun Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram; Direktur Yayasan LA RIMPU (Sekolah Rintisan Perempuan Untuk Perubahan)

Peleburan Sekat Akademik PTKI: Refleksi Forum Tadarus Litapdimas

3 min read

Tadarus Litapdimas yang diselenggarakan selama delapan sesi selama era pandemik ini mendapatkan respons melalui partisipasi yang cukup menggembirakan. Hal ini terlihat dari animo insan akademis PTKI yang sangat tinggi. Peserta membludak lewat webinar yang memediasi berlangsungnya acara ini, baik di platform Zoom maupun YouTube.

Data profil peserta yang disampaikan oleh moderator pada sesi khataman (tadarus 8) memperlihatkan meluasnya cakupan kepesertaan acara ini baik dari jenis kelamin, usia, kepangkatan akademik, status kepegawaian, dan PTKI asal.

Satu hal yang menarik dari data dan proses berlangsungnya forum tersebut adalah meleburnya sekat akademik. Selama ini sekat akademik dirasakan dan diakui menjadi tantangan tersendiri bagi kaum akademisi di kalangan PTKI berupa ekslusivisme dan alitisme forum akademik termasuk di PTKI. Sekarang, nuansa inklusifisme dan egalitarianisme terasa melalui platform baru ini. Sekat-sekat yang terlebur itu kemudian berimplikasi pada lima hal positif berikut yang diharapkan menjadi new normal bagi pengembangan pengetahuan dan forum ilmiah ke depan di lingkungan PTKI

Pertama, dari pelosok ke pusat (from margin to centre). Forum litapdimas yang didesain melalui webinar dengan pola first come first serve ini memberikan kesempatan kepada seluruh civitas akademika PTKI di manapun berada untuk terlibat dalam forum bergengsi ini. Tidak ada pembatasan selain persyaratan memiliki kuota internet yang memadai. Civitas akademika dari PTKI di pusat pemerintah, kota metropolis, maupun dari pelosok dan sudut-sudut lain Indonesia memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan menyerap pengetahuan.

Selama ini, ada semacam kluster akademik berdasarkan posisi geografis yang membuat disparitas dan perbedaan akses kepada forum-forum bergengsi. Sekarang disparitas itu lebur. Tanpa webinar sulit rasanya sebuah forum diskusi ilmiah dihadiri oleh ribuan peserta tanpa kendala yang berarti. Pemerataan akses ini tidak hanya pada level peserta tetapi juga pembicara. Beberapa pembicara bisa berpartisipasi dengan lancar walaupun berada di daerah yang berbeda dan berjauhan. Sesuatu yang membutuhkan energi, waktu lebih, dan biaya tanpa teknologi tersebut.

Baca Juga  Menjadi Masyarakat Media Baru yang Up to Date, Apa Yang Perlu kita Persiapkan?

Tidak berlebihan jika dikatakan forum tadarus litapdimas telah memberikan akses yang merata bagi akademisi dari berbagai daerah. Meleburkan rasa tidak percaya diri bagi mereka yang kebetulan bertugas di PTKI yang secara kualitas masih jauh dari beberapa PTKI yang lebih dahulu dan bertempat di kota.

Kedua, memecah atap kaca (breaking glass ceiling). Atap kaca adalah simbol yang digunakan sebagai ilustrasi hambatan peningkatan karir bagi perempuan. Adalah menarik bahwa peserta tadarus perempuan lebih banyak daripada peserta laki-laki. Dua puluh tahun pengalaman menjadi dosen, penulis belum pernah melihat forum akademik baik di tingkat daerah maupun pusat yang dihadiri oleh lebih banyak perempuan, kecuali jika forum itu dilaksanakan oleh Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA)

Perempuan karena peran gendernya sering mendapatkan lebih banyak hambatan untuk terlibat aktif dalam forum ilmiah. Meninggalkan rumah untuk menghadiri forum-forum tersebut apalagi akademisi perempuan di daerah yang harus ke ibukota perlu mempertimbangkan banyak hal.

Perempuan seringkali dimandatkan oleh dunia partriarchy sebagai “media” bagi terpenuhinya kebutuhan orang lain bukan “tujuan” untuk kebutuhannya sendiri. Tidak heran, banyak dari mereka yang tidak berkesempatan atau enggan untuk me-recharge intelektualismenya lewat forum-forum akademik seperti ini.

Tadarus litapdimas lewat webinar ini memungkinkan para akademisi perempuan yang selama ini sebagian besar masih pasif menjadi peserta aktif tanpa kekhawatiran meninggalkan berbagai tanngungjawab mereka di rumah. Layar laptop atau telepon genggam, memfasilitasi mereka untuk memecahkan atap kaca tersebut

Ketiga, dialog keilmuan tak berbatas (borderless knowledge sharing). Dalam forum ini, tumpah ruah akademisi dalam jenjang kepangkatan yang berbeda, bahkan mahasiswa dan masyarakat umum, tetapi dengan posisi yang setara. Dari asisten ahli yang sedang memulai karir akademik sampai pada guru besar yang merupakan puncak tertinggi pencapaian akademik. Dari dosen yang masih berpendidikan S2 sampai mereka yang sudah meraih doktor.

Baca Juga  Tiga Formula Menghadapi Pandemi Covid-19

Dialog yang terbuka dan setara terjadi sehingga transfer of knowledge berlangsung tanpa batas. Secara psikologis, forum semacam ini akan memberikan para pemula kesempatan melakukan pertukaran ‘wakaf ilmu’ yang efektif dengan para Begawan. Akan menjadi sesuatu tradisi yang baru mereka untuk berinteraksi akademik dengan level tinggi seperti ini—dan ini sebentuk new normal bagi dunia akademik.

Forum ini menjembatani proses berbagi ilmu tadi tanpa sekat-sekat psikologis. Lebih dari sekedar knowledge transfer tetapi juga motivation transfer. Hal tersebut bisa mendorong berkembangnya pengetahuan di lingkungan PTKI dengan semangat menggebu dari akademisi PTKI sebagai ujung tombak inovasi dan pengembangan studi agama di Indonesia. Forum ini juga bisa menjadi uswah dan inspirasi bagi mahasiswa serta pengalaman yang berharga bagi masyarakat umum.

Keempat, memperkenalkan lebih luas pendekatan interdisipliner dalam studi agama (mainstreaming interdisciplinary approach). Berbagai topik yang diketengahkan dengan pendekatan yang multidisipliner menguatkan upaya integrasi-interkoneksi ilmu pengetahuan dalam studi agama. Projek ini yang, bagi saya pribadi, semula terdengar ambisius menjadi tampak lebih realistis.

Integrasi berbagai ilmu tidak lagi maya tetapi nyata. Kolaborasi akademisi dengan keilmuan yang berbeda oleh karenanya menjadi kebutuhan ke depan. Dan ini akan membuat studi agama menjadi lebih berkembang. Tak ayal, hal ini akan mengangkat PTKI setara dengan universitas umum lainnya di Indonesia bahkan di dunia.

Kelima, studi agama juga tentang kemanusiaan (religious studies is indeed about humanity) Topik-topik yang disampaikan dalam forum ini menarik dengan bahasa yang telah disederhanakan oleh pembicara yang masing-masing pakar di bidangnya. Dari masalah kesehatan, teknologi, perempuan, moderasi beragama, sampai hubungan syariah dan negara dengan pendekatan tekstual maupun kontekstual. Selama ini, bahasa akademik berbasis tulisan memang terasa ”berat” bagi semua kalangan, sehingga kadang menyulitkan bagi interkonekstas keilmuan. Nah, bahasa “lisan” ya sedrhana ini menjembatani keterhubungan imu itu.

Baca Juga  Sejarah Awal Berdirinya Pesantren di Jawa

Hal-hal tersebut membuat studi agama terasa lebih dekat dengan kehidupan. Studi agama tidak lagi menjadi diskusi akhirat, ahli agama tidak lagi dipandang hanya bisa berdoa. Agama menjadi jawaban bagi permasalahan-permasalahan sosial dan kemanusiaan. Dan karir para sarjana agama ke depannya bukan lagi di menara gading.

Jika kelima hal tersebut bisa terus dilakukan, maka kita semua optimis bahwa Indonesia akan menjadi alternatif pusat peradaban Islam yang tercatat tinta emas sejarah. [MZ]

Atun Wardatun Dosen Fakultas Syari’ah UIN Mataram; Direktur Yayasan LA RIMPU (Sekolah Rintisan Perempuan Untuk Perubahan)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *