Asfa Widiyanto Guru Besar IAIN Salatiga; Alumnus Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn Jerman

Menyambut Ramadan dengan “Memuasakan” Ego

1 min read

Sengaja saya awali tulisan ini dengan uneg-uneg seorang penjual terasi: “Saya sedang menyambut bulan suci Ramadan dengan sedikit demi sedikit berupaya mengikis keangkuhan saya, terutama perasaan bahwa saya lebih suci dari orang lain“.

Koleganya, penjual telur asin, turut menambahi: “Memang, salah satu penyakit ahli ibadah ya seperti terjebak pada perasaan yang tidak semestinya; merasa diri kita lebih saleh, lebih suci, lebih berhak masuk surga dari orang lain. Padahal Umar bin Khattab r.a. (sahabat Nabi saw. yang dijanjikan masuk surga) menyatakan: “Kalau saja semua orang masuk surga, kecuali satu. Aku khawatir orang itu adalah aku’. Pernyataan ini tentu saja menunjukkan kerendahhatian beliau“.

Kolega lain, di ujung sana, menimpali: “Saya jadi ingat petuah seorang ulama abad ke-18 yang menyatakan: Salah satu hal yang bisa merendahkan posisi seorang hamba di hadapan Allah adalah merasa bahwa dirinya adalah lebih suci lebih saleh dari orang lain’.“

Ungkapan-ungkapan semacam ini tidak berarti menghalang-halangi keinginan saudara-saudara yang ingin berlomba-lomba untuk beribadah di bulan Ramadan ini (yang memang bulan rahmat dan bulan ibadah). Namun hendaknya, semangat kita yang menggebu-gebu untuk meningkatkan kuantitas ibadah itu dibarengi dengan upaya kita untuk memperbaiki kualitas, spirit, dan ruh dari ibadah kita. Yakni dengan menyiapkan hati kita untuk tetap rendah hati di hadapan Yang Maha Besar dan Maha Kuasa. Sebaiknya, menyadari bahwa ibadah kita tentu tidak ada apa-apanya dibanding rahmat dan karunia-Nya.

Juga tidak selayaknya apabila ibadah kita malah menjadikan diri kita merasa tinggi hati dan merasa lebih suci dari orang lain. Apalagi kalau kita hanya lebih memperhatikan penilaian khalayak, misalnya: kita beribadah hanya untuk dianggap bersih, dianggap suci oleh orang lain, yang dengan image semacam itu kemudian kita bisa menggunakan untuk tujuan-tujuan politis, yang dari satu sisi adalah bernilai “duniawi”.

Baca Juga  At-Tahaaun: Kisah Seekor Rayap, Covid-19 dan Tenggelamnya dua Orang Pemuda

Senada dengan hal itu, seorang penjual rujak di pinggir jalan juga urun rembug: “Alangkah baiknya bila dalam melaksanakan ibadah puasa ramadhan, juga berlatih untuk ’mempuasakan’ ego kita, ’mempuasakan’ keangkuhan kita. Sehingga bulan Ramadan bisa mengantarkan kita pada kualitas religiositas, spiritualitas, dan humanitas yang lebih baik“.

Orang yang bisa “mempuasakan” egonya tentu akan bersikap santun terhadap orang-orang yang berbeda pendapat dan keyakinan. Jika dia berseberangan pendapat dengan Muslim lain, tentu dia tidak akan gegabah mengeluarkan pernyataan yang kurang selayaknya, misalnya: “Kamu itu kalau berpendapat seperti itu, berarti sudah melenceng dari Islam, berarti halal darahmu!”.

Sebaliknya, orang yang sudah “memuasakan” ego-nya akan dengan lapang dada, menerima perbedaan pendapat di kalangan umat, seraya menyadari bahwa semuanya berupaya untuk menuju, mendekati “Yang Maha Benar”.

Di sisi lain, orang yang sudah mempuasakan egonya tidak akan mengklaim dirinya sebagai “penguasa bumi”, sehingga bumi pun di eksploitasi. Sebaliknya, dia akan menghormat bumi dan menjaga kelestariannya. [MZ]

Asfa Widiyanto Guru Besar IAIN Salatiga; Alumnus Rheinische Friedrich-Wilhelms-Universität Bonn Jerman

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *