Abu Yazid Al Tantowi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

NU Channel versus Yufid.tv: Dari Perebutan Subscriber hingga Otoritas Keakidahan

2 min read

Era digital, apalagi pada masa pandemi seperti sekarang ini, sangat akrab digunakan oleh mayoritas masyarakat. Mereka menghabiskan waktu di rumah dengan mengonsumsi sosial media sebagai obat kegabutan yang merajalela. Nonton Youtube adalah salah satu kegiatan untuk mengisi waktu luang di rumah.

Hal ini dikarenakan ada anjuran dari semua negara untuk masyarakatnya untuk #tetapdirumahsaja. Dari hal itu, maka wajar bahwa Youtube menjadi salah satu media yang sering di akses kala pandemi. Akibatnya ada peningkatan akses ke aplikasi youtube.

Fenomena meningkatnya pengguna youtube ini dikuatkan dengan tulisan dari Wahyunanda Kusuma Pertiwi di halaman kompas.com, bahwa salah satu anak perusahaan dari Google, yaitu Youtube meraih peningkatan pendapat yang cukup besar pada kuartal pertama 2020 sebesar Rp. 60,2 triliun naik dari Rp. 45,2 triliun. Jika dipersentasekan, pendapatan ini naik sekira 33 persen.

Meningkatnya penonton dan subscriber ini bukan hanya karena strategi dari Youtube, melainkan dari ekosistem di dalamnya, yaitu channel-channel youtube dari seorang youtuber. Di saat pandemi ini menjadi kesempatan bagi para youtuber untuk meningkatkan jumlah viewer, subscriber dan juga pundi-pundi pendapatan.

Ini menjadi ajang kontestasi untuk bisa menguasai algoritma Youtube. Menjadi yang paling trending. Menjadi yang paling awal muncul di halaman pencarian utama di kolom pencarian dengan mengetikan keyword tertentu.

Kontestasi perebutan viewer dan subscriber ini nampaknya juga terjadi di channel berbasis agama yang fokusnya dakwah. NU Channel dan Yufid.tv adalah salah satu channel dakwah terbesar di Indonesia.

NU Channel merupakan channel resmi dari Nahdlatul Ulama (NU) yang mempunyai basis nilai Islam [di] Nusantara, sedangkan Yufid.tv merupakan channel di bawah naungan dari Islam Salafi (Salafi-Wahabi).

Baca Juga  Formula Pemberdayaan Guru Ngaji Melalui Zakat Produktif

Nahdlatul Ulama adalah salah satu organisasi Islam yang memiliki basis yang sangat kuat. Dengan bermodal suara umat pedesaan yang sangat banyak, wacana-wacana yang di unggah oleh channel ini memiliki kekuatan untuk mempengaruhi penonton untuk menonton berbagai ceramah-ceramah.

Ceramah yang diunggah berisi tentang ajaran-ajaran, doktrin, dan ideologi Islam Nusantara. Tercacat bahwa channel NU Channel di youtube baru bergabung sekira tiga tahun. Tepatnya pada 20 Juni 2017 dan terakhir jumlah penonton 40.251.449 kali ditonton dengan unggahan konten sebanyak 1,5 ribu video. Konten di channel ini ngaji rutinan Tafsir al-Ibriz, Haul beberapa tokoh besar NU, beberapa ceramah lainnya dan tanggapan NU seputar problem yang dihadapi negara dan dunia, seperti virus Corona, korupsi Jiwasraya. Dari berbagai konten yang disebutkan tadi, fokus penulis adalah mengenai konten tentang akidah.

Dari data ini, nampak bahwa NU Channel ini sungguh-sungguh dalam menyebarkan ideologinya yang terlihat dari jumlah konten video. Setidaknya ada dua tiga motivasi NU Channel mengunggah video sebanyak itu.

Pertama, bahwa memang sebelumnya, channel ini kalah dengan kelompok Islam Salafi di channel Yufid. TV dengan jumlah subscriber sebanyak 1,72 juta sekian dengan total unggahan video berjumlah 11.000. Konten dari Yufid.tv semuanya berisi kajian tentang akidah.

Kedua, data mengenai viewer, subscriber, dan jumlah konten video yang di unggah pada bulan Mei 2020. Ternyata pada bulan Juli ini, NU Channel terpantau memiliki 548 ribu subscriber, 52,4 juta viewer dan 2,6 ribu konten video.

Sedangkan Yufid.tv terpantau sudah memiliki 2,21 juta subscriber, 353,5 juta viewer dan 12 ribu konten video. Ini menunjukkan bahwa memang kedua channel ini sedang melakukan kontestasi perebutan subscriber dan viewer terbanyak.

Baca Juga  Sel-Sel NII (Bagian 6): Jaringan Pesantren Ngruki (1)

Tujuan untuk memperbanyak konten, viewer, dan subscriber adalah untuk menguasai mayoritas halaman pencarian di youtube.

Nyatanya, bahwa Channel Yufid.tv masih unggul dari NU Channel dalam segi kuantitas konten video, viewer dan subscriber.

Saya tidak akan membahas soal kualitas yang akhirnya cenderung memihak pada salah satu kelompok. Efek memiliki banyak subscriber, viewer dan konten video adalah untuk menguasai algooritma Youtube.

Secara teori algoritma Youtube, Channel mana saja yang memiliki jumlah viewer, subscriber, dan konten video yang banyak,akan menempati posisi atas dalam halaman pencarian di Youtube.

Misalnya, paling utama dari gerakan dakwah adalah penjelasan tentang akidah yang menurut diktatnya benar. Ketika kita mencari kata kunci “akidah Islam”, maka halaman paling atas yang muncul di Youtube adalah konten milik Yufid.tv. Inilah faktanya.

Tetapi yang lebih penting dari kontestasi sekadar untuk merebutkan viewer dan subscriber adalah kontestasi tentang otoritas keakidahan. Otoritas keakidahan dalam hal ini dipahami sebagai rujukan qath’i untuk belajar ilmu akidah.

Basis dari NU Channel adalah Islam Nusantara mengikuti akidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Sedangkan Yufid.tv memiliki basis dari Islam Transnasional yang mengikuti akidah Ahlus Sunnah. Masing-masing ceramah yang diutarakan dalam video memiliki ragam dalil yang sama-sama dari nash, Alquran dan Hadis, tetapi dengan hujjah yang berbeda.

Kedua kelompok ini berkontestasi melalui konten video yang diunggah oleh masing-masing channel. Dengan berbagai narasi-narasi yang didesain dimaksudkan untuk mempengaruhi para viewer agar mempercayai bahwa narasi yang berupa dalil beserta argumentasi dialah yang paling benar menurut nash dan pemahaman sunnah. Inilah yang dipahami sebagai perebutan otoritas keakidahan.

Tetapi tidak hanya pilihan narasi-narasi keakidahan yang mempengaruhi viewer dalam mengakui bahwa kelompok ini atau itu yang memiliki orotitas keakidahan, tetapi juga peran jumlah viewer dan subscriber juga tidak kalah pentingnya dalam upaya memenangkan kontestasi berbasis otoritas keakidahan di media youtube ini. [MZ]

Abu Yazid Al Tantowi Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya