

Manakah yang melelahkan pikiran? Bertemu singa di depan mata atau ketika melewati hutan yang kabarnya dipenuhi oleh predator? Mana yang lebih menguras pikiran, menghadapi ancaman di depan mata atau memikirkan berbagai skenario untuk selamat dari potensi ancaman? Jika diminta memilih, mungkin kita lebih suka lewat hutan yang “katanya” banyak predator daripada langsung berhadapan dengan singa. Akan tetapi, melewati hutan tersebut sesungguhnya lebih melelahkan karena pikiran menjadi terus-menerus siaga.
Potensi ancaman inilah yang seringkali diproduksi dalam hoaks agama. Di masa pandemi, banyak sekali narasi ancaman yang beredar di berbagai platform media sosial. Vaksin dinarasikan sebagai alat depopulasi umat Islam. Protokol kesehatan adalah alat untuk mendiskriminasi dan mengganggu pelaksanaan ibadah umat Islam. Rapid test adalah alat untuk meng-COVID-kan dan membinasakan para ulama. Narasi semacam ini membangkitkan kecemasan terhadap sesuatu yang mengancam salah satu kebutuhan dasar manusia, yaitu kebutuhan akan rasa aman. Orang menjadi takut akan adanya pihak-pihak yang berusaha mengambil kendali atas hidup mereka.
Mengapa orang mudah mempercayai hoaks agama? Sebenarnya ini berkaitan dengan mekanisme bertahan hidup. Penelitian di bidang neurosains menghasilkan suatu teori bahwa ada dua macam mode pemrosesan stimulus dalam otak manusia: low road dan high road. Mode high road merupakan pemrosesan yang melibatkan penalaran dan analisis. Stimulus yang berasal dari ancaman atau rasa takut akan kepunahan akan diproses melalui low road. Berbeda dengan high road yang lebih lambat dan akurat, low road merupakan jalan pintas dari thalamus ke amygdala, melibatkan pemrosesan yang cepat, otomatis, dan cenderung tak sadar. Ketika radar informasi menangkap adanya ancaman, amygdala akan otomatis menyiapkan tubuh untuk merespon, sekalipun respon ini nantinya terbukti tidak akurat. Masalahnya, sekali sebuah stimulus diproses melalui low road, akan sangat sulit membuat orang mengubah mode pemrosesan melalui high road.
Percaya pada ancaman potensial ini dapat membahayakan. Sekalipun tidak langsung memicu kekerasan, sudah tertanam di kepala bahwa ada musuh-musuh tak terlihat yang harus diwaspadai. Mengapa? Kita coba lihat sebuah ilustrasi. Jika Anda memelihara kucing, Anda akan melihat saat kucing waspada, matanya sangat fokus ke satu titik. Terkadang fokus itu juga diarahkan ke titik lain, tetapi itu merupakan bagian dari upaya identifikasi ancaman terus-menerus. Saking fokusnya ia tidak akan bereaksi sekalipun Anda mengelus dan menciumnya. Inilah yang dinamakan attentional bias.
Attentional bias merupakan dampak dari mekanisme pertahanan diri yang dikelola oleh amygdala. Ketika perhatian sudah terfokus pada suatu ancaman tertentu, orang cenderung hanya menyerap informasi yang kongruen dengan rasa takut mereka. Ini membuat orang akhirnya hanya berputar-putar dalam lingkaran ketakutannya sendiri.
Apakah lingkaran ini dapat berujung pada kekerasan? Tentu saja. Randy Borum memberikan ilustrasi bagaimana proses tersebut dapat terjadi. Proses ini dimulai dengan framing bahwa ada pihak-pihak tertentu yang berencana menciptakan situasi yang tidak diinginkan. Ketika orang merasakan adanya suatu kondisi yang salah atau tidak adil, stereotip terhadap pihak-pihak tadi menyediakan target untuk disalahkan. Setelah target tersedia, maka terciptalah musuh yang “jahat”, layak didehumanisasi, dan layak mendapatkan kekerasan.
Dari menyalahkan, stereotip ini kemudian berubah menjadi kebencian. Dengan trigger yang tepat, kebencian akan mudah bertransformasi menjadi perilaku kekerasan. Kerusuhan 22 Mei 2019 dapat menjadi contoh. Konflik mengalami eskalasi ketika kepanikan dialami secara kolektif. Itulah mengapa propaganda yang intens dapat membuat orang yang rasional terlibat dalam perilaku kekerasan.
Peran hoaks agama adalah menyediakan pihak-pihak untuk dibenci. Stereotyping adalah salah satu tahapan dalam piramida kebencian. Sebelum bertransformasi menjadi perilaku kekerasan, stereotyping dapat mengakibatkan bias dan prasangka. Pada tahapan selanjutnya, kebencian dapat menyebabkan perilaku diskriminatif, kemudian kekerasan dan genosida. Tidak seperti tiga tahapan terakhir, bias dan prasangka berada di wilayah mental. Tidak ada regulasi yang mengaturnya. Justru di situlah letak tantangannya.
Tanpa adanya situasi konflik, apakah kecemasan yang “diciptakan” ini juga berbahaya? Mari kembali ke ilustrasi hutan yang penuh predator tadi. Bayangkan ada orang yang melewati hutan itu sambil membawa senapan, dalam kondisi cemas dan awas. Apa yang akan dilakukannya ketika tiba-tiba melihat sesuatu yang bergerak di semak-semak dengan kecepatan tinggi? Berapa besar kemungkinan orang itu akan menunggu sampai jelas dulu apa yang ada di balik semak-semak sebelum memutuskan menembak?
Pandemi dan pemilu merupakan lahan subur bagi hoaks agama. Pandemi tidak hanya menciptakan situasi yang membutuhkan kewaspadaan, tetapi juga membutuhkan pihak-pihak untuk disalahkan. Sementara itu, dalam pemilu banyak indikasi bahwa ada upaya untuk melanggengkan polarisasi politik demi mendapatkan suara. Keduanya sama-sama memberikan kemudahan bagi pihak-pihak yang berkepentingan untuk membuat kesan seolah-olah hanya ada dua kutub yang bertolak belakang: kita yang baik dan mereka yang jahat, korban dan pelaku.
Apakah rasa takut itu selalu merugikan? Sebenarnya, rasa takut adalah salah satu pendorong utama peradaban. Selain menjadi motivasi untuk mendapatkan berbagai kemudahan dalam hidup, rasa takut merupakan salah satu emosi dasar terpenting bagi perkembangan teknologi di berbagai bidang.
Inilah alasan mengapa rasa takut sering dieksploitasi berbagai pihak untuk mencapai tujuan-tujuan politik. Karena itu, yang perlu kita lakukan adalah mengenali rasa takut kita, mengecek apakah berbasis fakta, menjaga agar tidak mendorong kita melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, mengelola untuk menjadi pendorong aktivitas yang lebih bermakna dan bermanfaat.
Pengajar di STAI Miftahul 'Ula Nganjuk