



Dia adalah tetangga saya di kampung. Dia sudah seperti kakak perempuan sendiri. Saat kecil, saya biasa digendongnya dan diajaknya bermain. Hari-hari tertentu ketika ibunya datang dari pasar dan bawa jajanan, saya pasti ikut menyambutnya dengan riang karena pasti mendapatkan bagian. Saya bahkan memanggil ibunya dengan panggilan “Mboke” seperti dia memanggil ibunya.
Saat beranjak remaja, mungkin usia enam belas tahunan, seperti layaknya remaja putri di kampung saat itu, dia dinikahkan dengan salah seorang pemuda. Pemuda ini berperawakan gagah dan berparas ganteng. Tapi dia dikenal sebagai pemuda manja dan pemalas. Tidak seperti pemuda-pemuda lain di kampungnya yang giat pergi ke sawah atau ke pergi kota untuk mengadu nasib. Waktunya lebih banyak dihabiskan nongkrong di warung. Saat pernikahannya, keluarga saya, terutama ibu, ikut berjibaku seakan menikahkan putrinya sendiri.
Setelah memiliki anak, kondisi keluarga muda itu mulai berubah jadi neraka. Setiap pertengkaran selalu dihiasi dengan pukulan dan tendangan si suami kepada istrinya. Tak jarang adegan kekerasan itu terjadi di depan rumah, bahkan di jalanan desa yang siapapun bisa menontonnya. Tak ada yang berani menolong si istri kecuali tatapan iba dari para tetangga, yang biasanya juga disertai dengan gunjingan.
Tidak sekali dua kali saya mendengar cerita bahwa dia dipukuli suaminya, bahkan diseret di jalanan kampung pinggiran Surabaya, saat dia berjualan berondong jagung (popcorn istilah kerennya) hanya karena dia tidak mau menyerahkan uang hasil jualannya yang hasilnya sungguh-sungguh hanya bisa digunakan untuk memberi makan anaknya yang masih kecil dan ibunya yang sudah renta di rumah. Sering dia harus mencari hutangan beras untuk di masak di pagi itu. Ibu kemudian membagi beras yang akan dimasak hari itu dengannya karena keluarga saya juga sama sekali bukan keluarga mampu.
Saat saya kuliah S-2 di Surabaya, saya mendengar bahwa dia barusan disiram minyak panas oleh suaminya hingga wajahnya dan beberapa bagian tubuhnya melepuh. Peristiwa itu terjadi hanya satu hari menjelang pernikahan putri pertamanya. Persoalannya sepele, saat dia dengan para tetangga yang membantunya sedang berjibaku mempersiapkan berbagai hal, termasuk menggoreng beberapa jajanan untuk suguhan para tamu yang akan datang besoknya di hari pernikahan putrinya, si suami minta disiapkan makan dan kopi.
Si suami ini sama sekali tidak ikut membantu mempersiapkan pernikahan putrinya. Bahkan andai tidak ada tetangga yang bermurah hati menyediakan kayu bakar, mungkin istrinya tidak bisa masak-masak untuk persiapan pernikahan itu.
Saking sibuknya dengan pekerjaan persiapan itu, si istri sedikit terlambat menyediakan makan dan kopi suaminya yang saat itu sepenuhnya tidak melakukan apapun, yang sebetulnya bisa mengambil makan dan membuat kopi sendiri. Keterlambatan yang hanya hitungan menit itu rupanya memicu kemarahan si suami. Si suami langsung mengangkat wajan penggorengan yang penuh dengan minyak panas dari atas tungku dan langsung menyiramkannya ke istrinya.
Saya mendengar kabar itu dua minggu setelah peristiwa. Hari itu pula saya pulang. Saya baru bisa menjumpainya esok pagi karena saya sampai rumah sudah malam. Ketika saya menjumpainya, saya lihat bekas-bekas luka bakar di seluruh wajahnya sudah mulai agak sembuh. Dia menceritakan semuanya kepada saya. Dia bercerita tanpa air mata. Sebagai adiknya, saya tidak kuasa menahan tangis di depannya.
Rupanya kesedihannya belum usai. Dia juga bercerita bahwa uang sumbangan para tamu seluruhnya sudah dirampas suaminya sehingga dia tidak bisa melakukan adat orang desa yang berkunjung ke rumah besan sambil membawa buah tangan sebagai hantaran. Saya mengambil tabungan (sisa beasiswa) dan saya berikan kepadanya. Saya minta agar dia segera pergi ke pasar untuk belanja, takut uang itu akan dirampas suaminya kembali.
***
Menghadapi kekejian ini, andai saya Oki Setiana Dewi, saya akan menasihatinya: “Mbak, simpanlah kepedihan dan kesakitan itu sendirian. Setiap pukulan, tendangan, bahkan siraman minyak panas ke wajah yang dilakukan suami ke istrinya itu adalah aib yang harus ditutupi. Aku tahu Mbak sedang sedih bahkan marah ke suami, oleh karena itu tolong tutup mulut. Diam! Jangan bersuara! Mbak kan perempuan. Biasanya perempuan itu lebai, ngomongnya enggak sesuai dengan kenyataan, bahkan dilebih-lebihkan. Apalagi, kalau sedang marah atau sakit hati. Kalau Mbak menerima ini suami dan diam, nanti suami akan tambah cinta dan sayang.”
Tapi maaf, saya bukan Oki Setiana Dewi. Saya adalah ayah dari dua anak perempuan. Saya tidak akan membiarkan anak-anak saya menjadi korban KDRT, kemudian memintanya untuk tutup mulut. Di luar sana ada jutaan ayah seperti saya. Ayah yang bernurani dan berakal sehat tidak menyuruh anak perempuannya menerima pukulan suami dan mendiamkannya.
Saya adalah laki-laki yang lahir dari rahim seorang perempuan. Adalah tak bermoral bagi saya jika mengadili perempuan yang menjadi korban kekerasan laki-laki sebagai makhluk lebai, suka melebih-lebihkan kenyataan siksaan yang dialaminya. Jika suara perempuan yang menjadi korban tidak diakui sebagai kebenaran, lalu kebenaran macam apa yang dijadikan pegangan.
Saya adalah laki-laki yang memiliki saudara-saudara perempuan. Adalah sebuah kebejatan bagi saya jika menyuruh perempuan yang menjadi korban kekerasan untuk diam agar mendapatkan cinta dari laki-laki. Cinta macam apa yang pertumbuhannya harus dilalui dengan pukulan dan tendangan ke tubuh perempuan. Jika cinta adalah kekerasan, untuk apa kita menyifati Allah sebagai Zat yang Maha Cinta.
Maaf, saya bukan Oki Setiana Dewi! (mmsm)
Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam dan Senior Advisor Jaringan GUSDURian