Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Haji dan Samudera Teladan Dari Nabi (1)

3 min read

detik.com

Saat ini, perjalanan haji bukanlah sebuah pertaruhan hidup atau mati. Kini, ibadah haji sangat dimanjakan oleh fasilitas yang memudahkan. Kita berangkat menggunakan pesawat yang sanggup menempuh jarak 7.980 km (Jakarta-Jeddah) hanya dalam waktu 9-10 jam. Sesampai di Mekkah, kita akan masuk ke kamar hotel berbintang, dengan kamar be-AC, ranjang yang empuk dan bersih, kamar mandi dengan fasilitas air hangat.

Tak perlu repot masak, kita disiapkan makan pagi, siang dan sore yang dimasak oleh para juru masak pengalaman. Jika bosan masakan yang disiapkan panitia, kita hanya perlu melangkahkan kaki beberapa jangkah untuk menemukan “toko Indonesia” yang menyediakan berbagai keperluan kita, termasuk mie instan yang seringkali menjadi makanan idaman di saat kelaparan atau sedang malas dengan masakan rumahan.

Mau ke Masjidil Haram? Tersedia bus 24 jam yang siap mengantar dan menjemput kita. Masuklah ke area Masjidil Haram, kesejukan AC-nya akan memanjakan kita. Keramik kualitas tinggi membuat kita tak akan pernah merasakan panas di telapak kaki kapan pun kita melakukan thawaf.

Jangan pernah membayangkan kita akan menahan haus dan panas saat  berjalan antara bukit Shafa dan Marwa. Bahkan kita tidak menyadari bahwa kita berada di antara dua bukit, karena area sa’i sepenuhnya berada di dalam masjid. Saat melakukan sa’i bolak-balik dari Shafa ke Marwa, kita hanya akan merasakan seperti berjalan dari satu ujung ke ujung lain dalam sebuah area tertentu di dalam masjid. Panas? Sama sekali tidak. Bahkan jika kita sa’i di malam hari, tubuh kita akan sedikit menggigil karena kedinginan. Air putih (Zamzam) tersedia di mana-mana.

Lelah beribadah di Masjidil Haram atau tiba-tiba Anda merasa lapar dan perlu makan? Keluarlah ke halaman masjid, tepat di depan mata, Anda akan menemukan kompleks Makkah Royal Clock Tower atau yang juga disebut Abraj Al-Bait Towers. Ini merupakan kompleks mall, hotel, hunian, dan museum. Bangunan yang tingginya mencapai 601 meter ini merupakan satu dari sepuluh bangunan tertinggi di dunia. Di sini, Anda bisa menemukan restoran, cafe, hypermart, atau toko cinderamata. Tinggal lihat berapa uang yang tersedia di dompet Anda.

Baca Juga  Kisah Cinta Sufi: Khusrau dan Syirin (1)

Jika ingin kembali ke masjid, silakan karena Anda hanya butuh beberapa langkah kaki untuk memasuki kompleks masjid. Jika ingin istirahat, silakan kembali ke hotel, dan nikmati kelembutan tilam bersih yang menutupi ranjang Anda. Sungguh, fasilitas yang menggiurkan bukan?

Tapi Mekkah tetaplah Mekkah. Keluarlah dari hotel di siang hari tanpa fasilitas-fasilitas yang saya sebutkan di atas. Anda akan langsung disergap panas yang seakan mau membakar tubuh. Siang hari, suhunya bisa mencapai 40 derajat celcius. Sangat panas dan kering.

Arahkan mata Anda ke seluruh penjuru mata angin, di balik bangunan-bangunan hotel yang bertebaran, Anda hanya akan menemukan perbukitan batu  hitam yang kegagahannya hanya memberi kesan kehampaan dan keputusasaan. Jangan pernah mencoba berjalan kaki tanpa alas di siang hari, karena hal itu berarti Anda membakar tapak kaki Anda sendiri dalam pengertian yang sebenarnya.

Lalu, marilah kita membayangkan Mekkah 1.400 tahun yang lalu, tepatnya di tahun 632 M, saat Nabi bersama rombongan Sahabatnya menunaikan haji. Lenyapkan seluruh fasilitas modern yang saya sebutkan di atas, Mekkah hanyalah sebuah daerah yang hamparannya berupa pasir yang dipaku oleh bukit-bukit batu hitam. Tak ada pemandangan sebuh kota. Yang ada hanyalah pemukiman dari batu dan tenda-tenda.

Lazuardinya bukanlah sebuah keindahan langit biru karena terik mataharinya memanggang apapun yang ada di bawahnya. Dalam situasi kekejaman alam seperti itu, hari-hari bisa berupa perjuangan untuk sekedar menghindari kematian. Panas, kering, kehausan, berpadu dengan angin gurun yang mematikan. Mata air adalah salah satu kekayaan mewah di samping onta. Tak ada kecepatan apapun yang bisa mengantar orang melintasi padang gurun kecuali kuda atau onta.

Baca Juga  Haji dan Dakwah ala Sang Rasul

Dalam situasi itulah, Nabi Muhammad mendatangi panggilan Allah yang memerintahkannya untuk berhaji. Episode keberangkatan hingga pelaksaan haji Nabi adalah sebuah episode yang sangat mengharukan.  Nabi Muhammad baru bisa melaksanakan haji di tahun ke-10 H sekalipun panggilan Allah itu sudah turun di tahun ke-6. Itu berarti Nabi memendam hasrat selama 4 tahun. Ketika di tahun ke-10 H Nabi mengumumkan akan berhaji, Madinah dipenuhi oleh kaum Musimin yang akan ikut berhaji bersama Rasulullah.

Pada hari Sabtu, lima hari sebelum akhir bulan Dhulqa’dah, Rasulullah berangkat meninggalkan Madinah. Ketika beliau akan meninggalkan Kota Madinah untuk menunaikan haji, yang tampak di depan Sahabat-sahabatnya adalah sosok sederhana dengan sikap tawadhu yang dipenuhi kekhawatiran akan kerusakan amalan hajinya karena riya’ dan hasrat popularitas. Hal ini tercermin dalam doa beliau ketika akan berangkat haji, sebagaimana yang diriwayatkan Anas Ibn Malik RA:

 عن أنس بن مالك حجَّ النبيُّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ على رحلٍ رَثٍّ وقطيفةٍ خلقةٍ لا تساوي ثم قال : اللهم حجةً لا رياءَ فيها ولا سمعةَ روه الترمذي

Artinya: “Dari Anas bin Malik ra., dia berkata, “Nabi SAW menunaikan haji dengan mengendarai unta dan menghamparkan sehelai kain yang harganya kurang dari empat dirham, lalu beliau berdoa: ‘Ya Allah, jadikanlah haji ini tanpa riya dan mencari kemasyhuran’. (HR. Tirmiżi).

Ketika sampai di Dhulhulaifah atau Bir Ali, Nabi bermalam di sana. Dhulhulaifah atau Bir Ali adalah miqat atau titik start perjalanan haji dari daerah Madinah. Keesokan harinya, beliau mandi hingga bersih, melaksanakan shalat, memakai wewangian, memakai pakaian ihram, melafalkan niat haji, kemudian melanjutkan perjalanan. Selama perjalanan menuju Mekkah ini, Nabi mengumandangkan kalimat-kalimat tauhid dan mengungkapkan hasrat kerinduan dan ketaatannya memenuhi panggilan Allah. Inilah yang sekarang dikenal dengan lafad talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ

Artinya: “Aku datang memenuhi panggilan-Mu Ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu, tidak ada sekutu bagi-Mu, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan segenap kekuasaan adalah milik-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu”.

Setelah delapan hari perjalanan, sampailah Nabi dan rombongannya di Mekkah. Besok harinya, Senin pagi tanggal 5 Dhulhijjah, Rasulullah mandi dan menuju ke Masjid Haram untuk menunaikan thawaf dan sa’i.

Baca Juga  Pandemi Covid-19 dan Cita Rasa Ramadan Baru

Selanjutnya: Haji dan Samudera… (2)

Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian