Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian

Haji dan Samudera Teladan Dari Nabi (2)

2 min read

detik.com

Sebelumnya: Haji dan Samudera… (1)

Pada tanggal 9 Dhulhijjah, Rasulullah berangkat ke Padang Arafah dan beristirahat di tenda yang telah disiapkan Sahabatnya. Ketika memasuki waktu Dhuhur, beliau minta dibawakan unta beliau yang bernama al-Qaṣwa’ untuk dinaiki. Unta itu pun digiring menuju tengah lembah Uranah. Di atas unta, di tengah lembah Uranah, di bawah terik matahari siang Padang Arafah, beliau menyampaikan khutbah wukuf.

Setelah berkhutbah, Rasulullah meminta Bilal untuk azan dan beliau pun menunaikan shalat jama’ taqdim qashar untuk dhuhur  dan ashar. Selesai melaksanakan ṣalat, Rasulullah menaiki untanya menuju Sakharat yang berada di belakang Jabal Rahmah sambil menghadap ke arah kiblat.

Dalam usia enam puluh tiga tahun, di tengah panas mentari tanpa tenda, Rasulullah SAW. hanya dilindungi oleh Bilal bin Rabah dengan kain yang ada padanya dari terpaan sengatan sinar mentari siang itu, namun beliau bertahan wukuf di atas untanya. Beliau tetap khusyu berzikir dan berdoa.

Tak terbayangkan betapa panasnya saat itu. Betapa letihnya beliau setelah menempuh perjalanan delapan hari melintasi gurun pasir sepanjang 450 km dari Madinah ke Mekkah. Karena kedalaman rindu dan kehusyukannya, hari itu beliau mungkin sampai lupa makan dan minum hingga banyak Sahabat yang mengira beliau berpuasa andai beliau tidak minum susu yang dikirim salah seorang istrinya, Maimunah binti Hariṡ.

Inilah doa beliau saat wuquf, di bawah terik matahari siang Padang Arafah:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ تَرَى مَكَانِي , وَتَسْمَعُ كَلَامِي , وَتَعْلَمُ سِرِّي وَعَلَانِيَتِي , لَا يَخْفَى عَلَيْكَ شَيْءٌ مِنْ أَمْرِي , أَنَا الْبَائِسُ الْفَقِيرُ , الْمُسْتَغِيثُ الْمُسْتَجِيرُ , الْوَجِلُ الْمُشْفِقُ , الْمُقِرُّ الْمُعْتَرِفُ بِذَنَبِهِ , أَسْأَلُكَ مَسْأَلَةَ الْمِسْكِينِ , وَأَبْتَهِلُ إِلَيْكَ ابْتِهَالَ الْمُذْنِبِ الذَّلِيلِ , وَأَدْعُوكَ دُعَاءَ الْخَائِفِ الضَّرِيرِ , مَنْ خَضَعَتْ لَكَ رَقَبَتُهُ , وَذَلَّ جَسَدُهُ , وَرَغِمَ, أَنْفُهُ اللَّهُمَّ لَا تَجْعَلْنِي بِدُعَائِكَ شَقِيًّا ,وَكُنْ بِي رَءُوفًا رَحِيمًا , يَا خَيْرَ الْمَسْئُولِينَ , وَيَا خَيْرَ الْمُعْطِينَ

Artinya: “Ya Allah, Engkau melihat tempatku, Engkau mendengar ucapanku, Engkau mengetahui apa yang kusembunyikan dan apa yang kulahirkan, tak satu pun urusanku yang tersembunyi dari-Mu. Aku adalah orang yang menderita yang sangat perlu kepada-Mu, berharap bantuan dan pelukan-Mu, gemetar mengharap belas kasihan dari-Mu, mengaku dengan dosa-dosaku. Aku mohon kepada-Mu permohonan seorang miskin dan aku senandungkan keharibaan-Mu senandung duka orang yang berdosa lagi hina. Aku doa kepada-Mu doa orang yang dalam ketakutan lagi menderita, tertunduk menekurkan kepala kepada-Mu, berlinang air mata untuk-Mu, merendah menghiba kepada-Mu, tidak punya pilihan kecuali berserah pasrah kepada-Mu. Ya Allah, ya Tuhanku, doaku kepada-Mu, janganlah Engkau jadikan aku seorang yang celaka, Maha Belas Kasih dan Maha Penyayanglah kepadaku. Ya Allah Engkaulah sebaik-baik tempat bermohon dan sebaik-baik yang memberi”.

Membaca larik-larik doa Nabi di atas sambil membayangkan kekhusyukan beliau di bawah sengatan matahari Arafah, rasanya tak ada bahasa yang bisa melukiskan kemuliaan manusia agung ini. Jika Allah pernah menciptakan manusia sempurna, itu adalah Nabi Muhammad. Inilah manusia yang digambarkan Allah sebagai manusia dengan akhlak yang sangat agung (al-Qalam:4); yang sangat tinggi belas kasih dan sayangnya kepada manusia (al-Taubah:128); yang perilakunya adalah teladan bagi siapa saja yang menginginkan ridha Allah dan pahala akhirat (al-Ahzab:21).

Baca Juga  Imam Ahmad bin Hanbal Takluk dengan Istighfar Tukang Roti

Manusia seperti inilah yang bersimpuh, menghiba, dan menangis ke haribaan Allah dan mengakui dosa-dosanya. Manusia seagung inilah yang gemetaran berharap perlindungan, kasih sayang, dan pelukan dari Allah. Manusia semulia inilah yang menyenandungkan doa dengan kepala tepekur sambil menghiba agar tidak dijadikan sebagai hamba yang celaka.

Lalu, manusia macam apa kita yang setiap hari begitu pongah? Manusia macam apa kita yang hanya karena shalat merasa sebagai manusia paling mulia? Manusia macam apa kita yang hanya karena zakat merasa paling agung derajatnya? Manusia macam apa kita yang hanya karena puasa merasa paling suci hidupnya? Manusia macam apa kita yang hanya karena haji merasa seakan sudah bisa menyegel surga?

Membaca baris-baris doa Nabi yang begitu dalam, terbayang betapa dekatnya Nabi Muhammad dengan Allah hingga doa itu seperti “percakapan” antara hamba dengan Gustinya. Tapi sebegitu dekat Nabi dengan Allah, sebegitu kasmaran Nabi akan cinta Allah, beliau tidak pernah melarikan diri dari umatnya.

Beliau tidak meninggalkan umatnya untuk memuasi kekhusyukan personalnya dengan Allah. Manusia inilah yang dalam kekhusyukan yang tak terperikan di Padang Arafah itu, menyampaikan khutbah yang isinya seruan agar umatnya tidak lagi saling membunuh, tidak mengambil harta orang lain, dan tidak merendahkan kehormatan orang lain.

Inilah sepenggal khutbah beliau yang disampaikan di Arafah:

فإنَّ دِماءَكم، وأمْوالَكم، وأعْراضَكم عليكم حَرامٌ كحُرْمةِ يَومِكم هذا، في بَلدِكم هذا، في شَهرِكم هذا

“Sesungguhnya menumpahkan darah, merampas harta sesamamu, dan merendahkan kehormatan sesamamu adalah haram sebagaimana keharaman berperang pada hari ini, di negeri ini, dan pada bulan ini”.

Inilah haji yang diteladankan oleh Rasulullah Muhammad. Kedalaman dan kesempurnaannya tak bisa lagi dijelaskan dengan kata-katan. Hingga di penghujung akhir tulisan ini, kemuliaan dan keagungan beliau adalah keteladanan yang tak akan bisa ditulis dengan tinta seluas samudera. (mmsm)

Baca Juga  Dakwah Islam adalah Akhlak, Bukan Teriak

 

Ahmad Zainul Hamdi Pimpinan Umum Arrahim.id; Direktur Moderate Muslim Institute; Senior Advisor Jaringan GUSDURian