Meneguhkan kembali Tali di Lambang NU yang Longgar

sumber: nujateng.com

Secara historis, kelahiran NU tidak dapat dilepaskan dari konteks perjuangan umat Islam. Kelahiran NU sebagai organisasi kemasyarakat sarat dengan perjuangan baik dalam skala global maupun nasional. Dalam konteks global, NU lahir tidak lepas dari semangat untuk membendung gerakan purifikasi yang pada titik tertentu oleh para ulama pesantren dianggap membahayakan kehidupan keberagamaan yang mayoritassunni dan lekat dengan tradisi-tradisi keberagamaan Islam yang membumi di tengah masyarakat Indonesia.

Terjadinya perubahan geopolitik dan geostrategi yang terjadi di tengah percaturan global umat Islam menjadi konteks global yang turut memicu kelahiran NU. Secara nasional, kelahiran NU di antaranya di dorong oleh semangat untuk memperjuangkan kualitas sumberdaya manusia melalui penguatan ajaran ahlussunnah wal jama’ah, pengembangan pendidikan baik madrasah maupun pesantren, pemberdayaan sosial, pengembangan perekonomian umat Islam melalui pengembangan pertanian dan perdagangan. Hal yang tidak kalah penting adalah kekokohan para Ulama Pesantren untuk menjaga kearifan lokal yang telah menjadi tradisi Muslim di Indonesia.

Relasi NU dalam pengembangan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia sedemikian nyata adanya. Resolusi Jihad yang digemakan oleh NU pada masa revolusi kemerdekaan adalah bukti dan aksi nyata kontribusi organisasi. Bahkan, dengan adanya Resolusi Jihad ini pejuang arek-arek Suroboyo berhasil menewaskan Jenderal Mallaby, pimpinan tentara Inggris di Jawa Timur, dalam pertempuran di Surabaya tersebut. Sedemikian kuatnya gema pertempuran ini, hingga saat ini setiap tanggal 10 November selalu diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Simbol atau lambang dalam sebuah organisasi merupakan suatu keharusan sebagai sebuah identitas. Hal ini juga menunjukkan eksistensi organisasi yang memiliki landasan yang kuat. Adapun yang membuat gambar atau lambang NU ialah salah satu santri dari KH. Kholil Bangkalan yaitu KH. Ridwan Abdullah dari Surabaya atas perintah dari KH. Wahab Hasbullah. Sebelum membuat lambang NU, tentunya KH. Ridwan Abdullah melakukan tirakat terlebih dahulu dari mulai puasa, shalat istikharah dan berdoa kepada Allah swt.

Oleh karena itu, keberadaan lambang NU tidak sekadar lambang, tetapi sebuah bentuk dari riyadlah para ulama, khususnya KH. Ridwan Abdullah. Setelah berjalannya waktu akhirnya muncullah ilham lambang NU dengan pola gambar bola dunia, tali yang melingkar, sembilan bintang, dan warna lambang NU yang tentunya semua lambang tersebut itu mempunyai filosofi dan sarat makna.

Ada yang menarik dalam lambing NU yakni gambar tampar yang  atau tali yang melingkari bumi tidak kencang atau kendor. Hal ini memiliki makna persatuan. Filosofi kehidupan yang kuat untuk saling menyayangi, mencintai, dan bersatu dalam ikatan Hablumminallah. Persatuan dan kesatuan yang didasarkan kepada Allah swt menjadi perekat yang kuat dalam setiap hubungan antarhamba Allah swt. Hal ini dipertegas dalam Al-Qur’an Surat Ali Imaran ayat 103:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖوَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَا ۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ

Artinya: Berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk. (Qs. Ali Imran: 103).

Tali yang mengitari gambar bola dunia tidak digambarkan secara mulus, melainkan ada semacam potongan-potongan. Itu menandakan bahwa tali tersebut adalah sebuah “tampar” atau untaian tali yang terbuat dari beberapa tali kemudian diikat menjadi satu. Ini melambangkan persatuan dan persaudaraan bagi umat Islam di seluruh dunia.

Dalam lambang NU tersebut ada dua ikatan, kenapa ada dua ikatan? Pertama hablum minaAllah, dan yang kedua hablum minannas. Artinya hubungan keduanya harus baik. Karena faktanya saat ini banyak yang kelihatanya memiliki hubungan baik dengan Allah, namun hablum minannasnya ancur, nyebar hoax, provokasi, fitnah dan adu domba.

Ikatannya ini dibuat longgar, bukan simpul mati. Ini menandakan toleransi dalam melihat situasi dan kondisi. Islam tidak jumud kaku, Banyak diantara orang tahu teks dan tidak paham konteks. al-Quran diturunkan bukan di ruang hampa, tapi di tengah-tengah sosiologis ditengah perkembangan masyarakat. Hal ini menjadi tugas kita untuk menyelaraskan antara teks di dalam kutubutturos dengan konteks kita hari ini.

Kemudian dalam logo NU itu kenapa huruf “dhad”nya panjang? hal itu bertabarruq pada Rasulullah SAW, dimana beliau pernah bersabda “Saya orang yang paling fasih melafalkan huruf Dhad…”. Artinya, Nahdlatul Ulama ingin menjadi organisasi Islam yang fasih menyebarkan Islam ke seluruh dunia sefasih Rasulallah melafalkan kalimat Dhad. Dan faktanya hari ini NU sudah banyak tersebar dan berdiri di banyak Negara di dunia.

Dengan memahami makna lambang NU yang sarat makna, kita sebagai warga Nahdliyyin seharusnya lebih terbuka dan fleksibel dalam merespon adanya perbedaan-perbedaan yang muncul dalam internal NU sendiri, kita sudah memiliki pengalaman panjang dalam hal mengelola perbedaan, hal ini agar tidak menjadi bakal pemicu perpecahan yang tentunya tidak dikehendaki oleh para muasis NU. (mmsm)

 

0

Dosen Universitas Indonesia

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.