Badriyah Fayumi Alumnus Universitas al-Azhar Mesir; Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI; Pengasuh PP Mahasina Bekasi; Ketua Pengarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia)

Menjadi Istri Ideal dan Suami Idaman

3 min read

https://sabahiat-maroc.blogspot.com/2018/03/6.html
https://sabahiat-maroc.blogspot.com/2018/03/6.html

Sering kita menemukan rumusan suatu yang di buat secara subjektif, tanpa melibatkan “pasangan” yang semestinya didengar pendapatnya. Ambil contoh, rumusan “orang tua idaman” atau “guru idaman” yang dibuat tanpa melibatkan pandangan anak atau murid. Akibatnya, rumusan itu menjadi sepihak dan tidak akomodatif bagi anak dan murid. Disharmoni hubungan pun terjadi. Begitulah, rumusan sebuah relasi yang tidak partisipatoris akan berujung pada “keharmonisan semu” yang berpotensi menyimpan api dalam sekam. Itu pula terjadi dalam rumusan “istri ideal” atau “suami idaman” yang dibuat tanpa melibatkan istri.

Istri Ideal yang Tidak Ideal

Mungkin anda pernah membaca buku atau tulisan yang mendeskripsikan tentang istri ideal yang rumusannya demikian menyudutkan istri? Sebagai misal, rincian tentang batas ketaatan istri kepada suami. Disebutkan bahwa istri yang ideal adalah yang selalu taat pada suami meskipun suaminya zalim; selalu siap melayani suami berhubungan seks kapan pun, di mana pun, dan dalam kondisi apapun; diam tak menyahut meski suami menghina dan menyumpahserapahinya; tidak berhubungan dengan famili dan sahabatnya yang tidak disukai suami, dan sebagainya. Rumusan ini, ironisnya, dikatakan sebagai penjabaran surah al-Nisa ayat 34:

فالصالحات قانتات

“… Dan istri salehah adalah mereka taat (kepada Allah dan suami).”

Idealkah rumusan ini? Tentu saja tidak! Sebab pemahaman di atas pemahaman yang “suami sentries”, tidak memahami makna dan konteks ayat, menafikan ayat dan hadis yang lain serta mengabaikan prinsip ma’ruf dan kemaslahatan bersama. Sang perumus entah sengaja atau tidak telah menafikan ayat yang memerintahkan setiap suami untuk memperlakukan istrinya dengan cara yang patut. Allah berfirman dalam surah an-Nisa ayat 19:

وعا شروهن بالمعروف

“Dan perlakukanlah mereka secara makruf.”

Dalam hadis sahih riwayat Ahmad dan at-Tirmidzi dari Nabi, juga disebutkan:

Baca Juga  Narasi Media Sosial untuk Kampanye Anti Kekerasan terhadap Perempuan

اْكمل المؤمنين ايمانا اْحسنهم خلق وخيا ركم خيا ركم لنساءهم خلق

“Orang-orang mukimin paling sempurna keimananya adalah mereka yang paling baik akhlaknya. Dan sebaik-baiknya kamu adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya.”

Dari sini dapat di tangkap kesan bahwa sang perumus juga tidak memikirkan bahwa dampak dari rumusannya adalah penderitaan istri yang dengan sendirinya mengakibatkan sulit dicapainya tujuan perkawinan itu sendiri. Bagaimana mungkin sebuah keluarga bisa dikatakan ideal jika di dalamnya ada pihak yang menderita dan dirugikan? Maka, rumusan “ideal” itu pun pada prakteknya menjadi tidak ideal karena cita-cita keluarga “sakinah, mawadah wa rahmah” yang di dalamnya semua pihak merasa terlindungi dan terayomi, damai, penuh cinta, dan kasih sayang dalam sebuah hubungan yang harmonis lahir dan batin, tidak tercapai.

Citra Suami Idaman

Suami idaman pada umumnya lebih banyak dikaitkan dengan fungsi suami sebagai pemimpin, pemberi nafkah lahir dan batin, serta menjadi penanggungjawab keluarga. Ini tentu tidak salah. Namun uraian ikutannya seringkali salah kaprah dan menyulut ketidakadilan. Yakni ketika sebagai pemimpin suami dipahami sebagai satu-satunya penentu arah, tindakan dan pilihan hidup istri sehingga sang istri tidak memiliki hak apapun bahkan atas dirinya sendiri dan kehidupannya sebagai pribadi dan makhluk sosial. Begitu menikah, maka suami telah “memiliki” seluruh raga, jiwa dan bahkan kehendak istri. Citra suami sebagai pemimpin yang mengayomi, memahami dan melayani keluarga tidak dimunculkan dalam urusan tersebut.

Ironisnya citra “suami idaman” yang sedemikian macho, kaku dan lebih merepresentasikan hubungan majikan-bawahan dari pada hubungan mitra sejajar ini dalam kenyataannya masih banyak diikuti dan dipraktekkan. Lebih ironis lagi, sebagian laki-laki menikmati pola relasi yang demikian sebagai “anugerah Tuhan”, dan perempuan—karena keterbatasan pengetahuannya—menganggap bahwa pola relasi yang tidak adil itu “suratan takdir”.

Baca Juga  Shafiyyah Binti Abdul Muthalib: Muslimah yang Ikut dalam Perang Khandaq

Benarkah relasi yang timpang itu ajaran Islam? Tentu saja tidak! sama seperti citra “istri ideal”, citra suami idaman yang berkeadilan juga perlu dirumuskan dengan mendengar suara perempuan. Sebab, tidak mungkin kondisi “makruf” (benar secara syar’i, sesuai akal sehat dan patut secara sosial) tercapai jika hanya didasarkan pada apa yang diinginkan laki-laki dengan mengabaikan apa yang diharapkan dan dipikirkan perempuan.

Memaknai Hasil Polling

Dalam rangka mendengar hasil perempuan itulah. Majalah NooR pernah melakukan polling “suami idaman” menurut para istri. Poling ini menggambarkan suara, harapan dan pandangan perempuan tentang suami idaman. Suara ini tentu penting didengar dan diperhatikan para suami, agar relasi dalam rumah tangga menjadi harmonis dan membahagiakan semua pihak.

Hasil polling tersebut menunjukan bahwa sebagian besar istri merasa senang sekali jika suaminya mau membantu mengurus anak dan melakukan pekerjaan rumah tangga, dan tidak senang jika suami ingin menikah dengan perempuan lain, apalagi jika hal itu dilakukuan dengan diam-diam. Pandangan bahwa tugas rumah rumah tangga adalah kewajiban istri dan bahwa istri wajib melayani suami dalam situasi dan kondisi apapun juga ditentang oleh mayoritas istri. Demikian juga pembebanan tanggung jawab mendidik anak yang hanya dipikul dipundak istri.

Yang perlu diketahui, seratus persen istri tidak setuju suami yang berpandangan bahwa istri boleh dipikul agar insyaf. Mayoritas istri juga tidak setuju dengan pandangan bahwa istri yang mau dipoligami adalah ahli syurga. Bahkan mayoritas istri tidak setuju jika hak cerai dan menikah lagi adalah hak preogratif suami. Yang menarik, saat ini sebagian besar istri sudah bisa menerima sebagai hal biasa saja jika penghasilan suaminya lebih rendah daripada penghasilan dirinya.

Baca Juga  Perempuan yang Memperjuangkan Hak-hak kelompok Penghayat Kepercayaan

Hasil polling ini menunjukan bahwa ada perubahan cara pandang terhadap relasi suami-istri. Beban ekonomi yang ditumpukan di pundak suami kini sudah bisa diterima sebagai beban yang bisa di-share dengan istri. Apa yang dulu dianggap biasa saja kini ditentang, seperti pemukulan terhadap istri, kebebasan berpoligami, dan melakukan kawin cerai bagi suami. Sebaliknya apa yang dulu dianggap tabu kimi justri diidamkan, seperti suami yang mau membantu tugas-tugas domestik dan mengasuh anak. Pandangan–pandangan yang mengatasnamakan agama namun menyengsarakan perempuan juga ditentang dan dipertanyakan, seperti perempuan yang mau dimadu adalah ahli surga dan istri berdosa jika bersilaturahim dengan orang tuanya tanpa sepengetahuan suami.

Apa arti dari semua ini? Paling tidak ada tiga hal yang perlu dijadikan renungan bersama. Pertama, rumusan tenang istri dan suami ideal yang tidak mengakomodasi suara perempuan sudah mulai dikritisi dan bahkan tidak disetujui oleh para istri. Kedua, jika rumusan yang tidak memberi keadilan dan kemaslahatan itu masih tetap dipegang maka ketegangan relasi suami-istri akan terjadi. Ketiga, perlu ada upaya perumusan kembali kriteria suami dan istri ideal yang membahagiakan kedua belah pihak yang bersumber dari ajaran agama yang dipahami secara mendalam, komprehensif, dan tidak bias gender.

Sesungguhnya, apa yang menjadi suara para istri dalam polling ini selaras dengan ajaran agama yang menghendaki muasyarah bi al-ma’ruf dalam relasi suami-istri sebagaimana yang tertera dalam surah al-Nisa ayat 19. Bahkan lebih dari itu jika suara perempuan ini didengar, para suami akan sangat terbantu menjadi suami ideal yang sesungguhnya. Ingat kutipan hadis Nabi di atas yang menegaskan bahwa suami terbaik adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istrinya. [MZ]

Badriyah Fayumi Alumnus Universitas al-Azhar Mesir; Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Anggota Komisi Fatwa MUI; Pengasuh PP Mahasina Bekasi; Ketua Pengarah KUPI (Kongres Ulama Perempuan Indonesia)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.