KH. Busyro El-Kareem Alumnus Universitas al-Azhar Mesir; Ketua Yayasan Nurul Amin Al Hidayah.

Rabu Wekasan atau Pungkasan: Ritual dan Doa

2 min read

Syaikhuna KH. Zuhrul Anam Hisyam Ngendiko.
Aku didawuhi Dening Mbah Maimoen supoyo ngelakoni salat Rebo Wekasan. Milo aku ngelakoni.

Alfaqir sendiri pernah nderek makmum salat Rebo Wekasan dateng panjenenganipun Almaghfurlah Simbah KH. Maimoen Zubair.

Di sini saya mengingatkan bahwa besok Rabu tanggal 14 Oktober 2020 bertepatan dengan 26 Safar 1441 H. Kita memasuki hari yang dikenal dengan Istilah Rabu Pungkasan atau Rabu Kasan atau Rabu Wekasan.

Rabu Pungkasan adalah Rabu yang terakhir di bulan Safar sebelum memasuki mulan Maulid atau Mulud atau Rabiul Awal

Di hari itu pula Rasulullah Muhammad SAW sakit. Selama 12 Hari berturut-turut dimulai sakitnya di hari Rabu terakhir nulan Safar dan di hari Ke-12 hari Senin Maulid Rasululloh Muhammad meninggal dunia.

Di hari itu Pula (Rabu Pungkasan) Allah menurunkan ke dunia yang dijelaskan dalam beberapa kitab-kitab sekira 360.000 varian musibah, baik kecil atau besar.

Sebagian para ulama mengatakan bahwa setiap tahun pada Rabu akhir di bulan Safar Allah subhānahu wa ta’āla menurunkan 320.000 ribu bala, cobaan, musibah, ada yang mengatakan 820.000 ribu bala, cobaan, atau musibah.

Mari kita bersama di hari itu memperbanyak kebaikan, seperti sedekah, jariyah, infaq, tahmid, tahlil, istighfar, baca Alquran, salat, berdoa untuk pribadi, nusa, bangsa khususnya agama.

Juga barang siapa yang salat empat rakaat di hari itu, insya Allāh dijauhkan dari malapetaka dan musibah. Amin ya rabbal ‘alamin

عن أبي هريرة رضي اللَّه عنه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : ” مَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ يُصَلُّوْنَ فِيْ آخِرِ الْأَرْبِعَاءِ مِنْ صَفَرَ إِلاَّ نَجَّاهُمُ اللهُ مِنَ الْكَوَارِثِ (هذا الحديث حسن )

←اَلْكَوَارِثُ اي اَلْبَلَايَا

Baca Juga  Mempersiapkan Kehidupan setelah Mati: Sebuah Refleksi Hidup

Artinya: Dari Abu Hurairah radhiallāhu’anhu berkata, Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah berkumpul suatu kaum mereka salat di akhir hari Rabu pada bulan Safar terkecuali Alloh subhānahu wa ta’āla akan menyelamatkan mereka dari malapetaka-malapetaka dan musibah-musibah”.

ذكر بعض العارفين من اهل الكشف والتمكين انه ينزل في كل سنة ثلاثمائة الف بلية وعشرين الفا من البليات وكل ذلك في يوم الاربعاء الاخير من صفر فيكون ذلك اليوم اصعب ايام السنة.

Artinya: Di antara para ulama arifiin dan ahli mukāsyafah berkata sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’āla menurunkan 320.000 bala dan malapetaka (musibah) di hari Rabu terakhir pada bulan Safar. Hari tersebut menjadi hari yang paling rawan dan dikhawatirkan.

واللّفظ للقضاعي من طريق ابن زكريا عن يحيى بن عياض عن أبي الدبّوس عن صالح بن أبي زكريا بن شميل عن أبيه عن جدّه قال ؛ قال رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم : ” إِنَّ اللهَ يُنْزِلُ فِيْ آخِرِ أَرْبِعَاءَ مِنْ صَفَرَ ثَمَانَمِائَةِ أَلْفٍ وَعِشْرِيْنِ مِنَ الْبَلاَيَا فَمَنْ صَلَّى صَلَاتَهُ عَصَمَهُ اللهُ مِنَ الْبَلاَيَا” (في رواية الإمام عبد الرزّاق في المسند ج ٢ ص: ٢٠٧ والإمام إبن زيد بن علي في المسند ج ١ ص: ٣٤ والقضائي في التّاريخ ج ٩ ص: ٢٠٣ ، أخرجاه شيخنا رضي اللَّه عنه أو كما قال)

Artinya: Lafal hadis ini dari Imam Al-Qudha’i dari jalan sanad Thariq bin Zakariya dari Yahya bin ‘Iyadz dari Abi Ad Dabbus dari Shalih bin Abi Zakariya bin Syumail Dari Ayahnya dari Kakeknya berkata, Rasulullah shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allāh subhānahu wa ta’āla menurunkan pada hari Rabu terakhir di bulan Safar 820.000 ribu dari bala’ (musibah), barangsiapa yang salat di hari rabu itu maka Allāh subhānahu wa ta’āla akan menjaganya dari pada bala’-bala’ dan bencana-bencana/ malapetaka/musibah” (Diriwayatkan Imam Abdur Razzaq didalam Musnad Juz 2 hal: 208, dan Imam Ibnu Zaid bin Ali didalam Musnad Juz 1 hal: 34 dan Al Imam Al Qudha’i dalam Kitab Tarikh Juz 9 hal: 203).

Baca Juga  Sarung Sang Guru (2)

Dalam sebuah hadis lain yang diriwayatkan oleh Sayyidatuna Fathimah Radhiallahu ‘anha. Bahwa Nabi Muhammad shallallāhu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ صَلىَّ لَيْلَةَ اْلأَرْبِعَاءِ رَكْعَتَيْن
ِ يَقْرَاءُ فِى اْلأُوْلَى فَاتِحَةَ اْلكِتَابِ وَقُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ اْلفَلَقْ عَشْرَ مَرَّات وَفِى الثَّانِيَّةِ قُلْ أَعُوْذُ بِرَبِّ النَّاسِ عَشْرَ مَرَّاتٍ ثُمَّ إِذَا سَلَمَ أَسْتَغْفِرُ اللهَ عَشْرَمَرَّاتٍ ثُمَّ يُصَليِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَشْرَمَرَّاتٍ نَزَل َمِنْ كُلِّ سَمَاءٍ سَبْعُوْنَ أَلْفَ مَلَكٍ يَكْتُبُوْنَ ثَوَابَهُ إِلَى يَوْمِ اْلقِيَامَةِ

Artinya: ”Barangsiapa yang berkenan mengerjakan salat 2 rakaat di malam Rabu, pada rakaat pertama membaca surah al-Fatihah dan al-Falaq 10 kali, kemudian pada rakaat kedua membaca al-Fatihah dan an-Nas 10 kali, kemudian setelah salam membaca istighfar 10 kali dan shalawat 10 kali, maka 70 malaikat akan turun dari langit bertugas mencatatkan pahalanya sampai hari kiamat.”

Berlaku untuk seluruh mahluk di langit dan bumi yang dimulai dari sejak fajar Subuh di hari Rabu ۲٦ صفر ١٤٤١

Maka dari itu para ulama menyarakan untuk berdoa bersama dan bersedakah karena
Kekuatan dan keutamaan sedekah, yaitu mampu menolak bala/musibah, seperti yang diriwayatkan dalam Hadis.

Rasulullah Muhammad SAW. Bersabda: “Bersegeralah untuk bersedekah. Karena musibah dan bencana tidak bisa mendahului sedekah”.

Bersedekahlah dalam bentuk apapun tidak harus dengan uang atau sesuatu.

Bisa dengan bertasbih, bertahmid, bertahlil, menyingkirkan batu/duri/sesuatu yang berbahaya di jalan dll. Namun lebih afdalnya dengan sesuatu atau uang.

Kita disunahkan melaksanakan amalan shalat awwabin untuk tolak bala’ (hajat lidaf’il bala’).

Salat dilaksanakan empat rakaat dua kali salam, dengan niat:

أُصَلِّيْ سُنَّةَ الْحَاجَةِ لِدَفْعِ الْبَلَاءِ رَكْعَتَيْنِ لِلهِ تَعَالَى

1. Al-Fatihah, kemudian membaca surah Al-Kautsar 17x

2. Al-Fatihah surah Al-Ikhlash 5x

Baca Juga  Ingin Produktif Menulis, Amalkan Ijazah Kiai Ihsan Jampes Ini!

3. Al-Fatihah kemudian surah Al-Falaq 1x

4. Al-Fatihah surat An-Nas 1x

Selesai salat membaca doa ini:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ. اللّٰهُمَّ يَا شَدِيْدَ الْقُوَى وَيَا شَدِيْدَ الْمِحَالِ يَا عَزِيْزُ ذَلَّتْ لِعِزَّتِكَ جَمِيْعُ خَلْقِكَ اِكْفِنِيْ مِنْ جَمِيْعِ خَلْقِكَ يَا مُحْسِنُ يَا مُجَمِّلُ يَا مُتَفَضِّلُ يَا مُنْعِمُ يَا مُكْرِمُ يَا مَنْ لَآ إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اللّٰهُمَّ بِسِرِّ الْحَسَنِ وَأَخِيْهِ وَجَدِّهِ وَأَبِيْهِ اِكْفِنِيْ شَرَّ هٰذَا الْيَوْمِ وَمَا يَنْزِلُ فِيْهِ يَا كَافِيْ فَسَيَكْفِيْكَهُمُ اللهُ وَهُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ وَحَسْبُنَا اللهُ وَنِعْمَ الْوَكِيْلُ وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ. وَصَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ.

Bentuk ritual Rebo Wekasan meliputi empat hal; (1) salat tolak bala’; (2) berdoa dengan doa-doa khusus; (3) minum air jimat; dan (4) selamatan, sedekah, silaturrahin, dan berbuat baik kepada sesama.

Asal-usul tradisi ini bermula dari anjuran Syeikh Ahmad bin Umar Ad-Dairobi (w.1151 H) dalam kitab “Fathul Malik Al-Majid Al-Mu-Allaf Li Naf’il ‘Abid Wa Qam’i Kulli Jabbar ‘Anid (biasa disebut: Mujarrabāt ad-Dairabī). Anjuran serupa juga terdapat pada kitab: Al-Jawahir Al-Khams karya Syeikh Muhammad bin Khathiruddin Al-‘Atthar (w. th 970 H), Hasyiyah As-Sittin, dan sebagainya.

KH. Busyro El-Kareem
KH. Busyro El-Kareem Alumnus Universitas al-Azhar Mesir; Ketua Yayasan Nurul Amin Al Hidayah.