Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan

Sikap Kita Terhadap Public Figure Yang Suka Beropini Seenaknya

2 min read

Source: theindonesianinstitute.com
Source: theindonesianinstitute.com

Di berita media sosial sedang hangat-hangatnya topik tentang komentar masyarakat yang masih meragukan adanya wabah covid-19 ini. Komentar semacam ini saya temukan di facebook, twitter, dan instagram. Ini sudah hampir 6 bulan sejak pemerintah mengumumkan kasus pertama korona.

Kasus di Indonesia sudah tembus 100.000 sejak 27 Juli 2020. Secara logika, sekarang sudah fase yang kritis, mengapa masih ada masyarakat yang ragu akan eksistensi virus korona?
Hal ini diperparah oleh beberapa orang yang mempunyai pengaruh besar dalam opini masyarakat, yaitu public figure.

Beberapa influencer, musisi, ataupun selebgram ini sangat skeptis dan memiliki opini bahwa covid-19 tidak membahayakan, seolah-olah opininya dapat dipertanggungjawabkan. Padahal pernyataan yang disampaikan sangat tidak masuk akal dan minim data.

Anehnya, beberapa public figure lain dan masyarakat banyak yang setuju dengan opini tersebut.

Bukankah sudah ada dokter yang selalu mengedukasi masyarakat bahwa covid-19 berbahaya? Mengapa meragukan dokter?
Seorang dokter pastinya sudah belajar bertahun-tahun dengan biaya yang tidak sedikit, sampai mendapat izin praktik sebagai dokter.

Dokter pastinya sangat berjasa bagi umat manusia, semua orang pasti pernah sakit dan berobat ke dokter, atau membantu kita lahir. Maka menjadi tidak masuk akal kalau meragukan profesi dokter.

Memang, virus covid-19 ini masih diteliti dan belum ditemukan vaksin. Untuk itu kita harus percaya dan mengikuti anjuran dokter supaya bisa menekan laju penyebaran covid-19.

Saya tidak membahas lebih jauh tentang opini di atas, karena sudah banyak yang membahasnya, namun saya akan membahas sikap kita dalam mengolah informasi. Yang pertama adalah siapa yang menebarkan informasi itu.

Jika ia seorang influencer, apakah punya kompetensi dalam topik yang disampaikan? Jika bukan, lebih baik abaikan atau cari tahu lebih banyak tentang latar belakang influencer tersebut.

Baca Juga  New Normal di Pesantren

Jika topik yang dibahas tentang covid-19, saya lebih percaya apabila yang menyampaikan itu seorang dokter. Seorang dokter lumrah saja bila ia menjadi influencer, terutama topik yang disampaikan berhubungan dengan medis.
Yang kedua adalah periksa konten yang disampaikan seseorang influencer.

Apakah konten tersebut berdasarkan opini pribadi, atau berdasarkan data? Apabila berdasarkan data, apakah data itu valid? Jika opini pribadi tanpa data dan bertentangan dengan anjuran dokter atau pemerintah, lebih baik diabaikan. Pun jika data yang disajikan meragukan atau tidak valid, lebih baik cari info lain yang lebih kredibel.

Di sini kita lah yang bertindak sebagai filter, yaitu dengan menggunakan akal. Logiskah apa yang influencer tersebut sampaikan? Adakah bukti valid dari perkataan dia? Jika dari poin di atas semuanya tidak meyakinkan, maka bisa lanjut ke langkah berikutnya.

Yang ketiga adalah bersikap setelah mengolah informasi yang sudah didapat. Apabila info yang kita dapat bisa dipertanggungjawabkan, silahkan disebar ke platform medsos yang lain dengan niatan agar informasi tersebut bisa mengedukasi dan bermanfaat. Apabila info yang didapat meragukan, berhentilah untuk menyebarkan.

False information akan berbahaya kalau disebarkan ke orang awam, berakibat salah tindakan di dunia nyata, contohnya ada warga yang memaksa mengambil jenazah dari korban covid-19 karena tidak percaya bahwa jenazah tersebut terpapar virus korona. Kasus seperti itu sudah sangat banyak beredar di berita online akhir-akhir ini, sangat disayangkan.

Yang keempat adalah cari info yang berimbang. Dari suatu konten yang kontroversial, carilah pendapat yang pro dan kontra. Metode ini bisa digunakan dengan menggunakan sikap kita sebelumnya yaitu menimbang pendapat mana yang lebih punya banyak data dan lebih kredibel.

Baca Juga  Pribumisasi Islam, Warisan Gus Dur Untuk Menjaga Indonesia (2)

Setelah memperoleh data, kita pilih, mana pendapat yang lebih banyak maslahatnya ketimbang pendapat yang lebih banyak merugikan orang lain. Lebih simpelnya, tindakan yang kita lakukan ini adalah sebuah riset kecil. Kalau perlu, tulis kritik kepada pembuat konten dengan data-data yang sudah kita peroleh dengan argumentasi yang matang dan hindari debat kusir.

Penyampaian kritik ini tentunya dengan adab yang baik, tidak dengan caci-maki. Masalah kritik kita ini tersampaikan atau tidak kepada influencer tersebut, itu bukan masalah. Yang penting adalah niat kita untuk membenahi informasi yang berdampak negatif kepada masyarakat.

Keempat sikap di atas bahwasanya adalah sesuai prinsip islam, yaitu tabayyun. Sikap itu mampu meredam penyebaran hoax dan disinformasi, apabila kita semua bisa mengaplikasikannya dalam kegiatan di media sosial.

Tidak hanya instagram, sikap kita juga berlaku sama di platform lain seperti whatsapp, facebook, youtube, dan lainnya. Sikap kita ini dimulai dulu dari lingkungan sekitar, seperti grup WA keluarga, akun pribadi medsos kita, grup komunitas, dan sebagainya.

Memang ribet dan tidak mudah, namun kalau dengan serampangan menyebarkan berita tidak jelas, bisa dibayangkan akibatnya. Kalau kita malas, lebih baik tidak usah menyebarkan informasi apapun di media sosial. Tindakan itu lebih aman. [MZ]

Dicky Zulfikar Mohammad Sarjana Teknik yang Menyukai Tema Keislaman; Berdomisili di Balikpapan