Muhammad Ilham Fikron Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) dan Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati

Gus Sholah Kencong: Ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah Adalah Mencintai Ahlulbait dan Sahabat Nabi

2 min read

KH. Sholahuddin Munshif As-Sayyidani adalah pengasuh pondok pesantren Ali Ba’alawy Kencong Jember Jawa Timur. Nisbat “As-Sayyidani” merupakan tanah asalnya, Sedan, sebuah desa di Rembang Jawa Tengah. Beliau merupakan salah satu santri kesayangan syaikhuna Maimoen Zubair selain Gus Baha, karena keduanya dikenal dan diakui langsung kealiman dan keilmuannya oleh Mbah Maimoen. Selain itu, beliau juga pernah nyantri di Mekkah diasuh oleh Abuya Sayyid Muhammad Al-Hasani Al-Maliki.

Gus Sholah, begitu sapaan masyarakat sekitar, dalam suatu pengajian menjelaskan tentang salah satu ciri-ciri ahlussunnah wal jama’ah, yaitu mencintai ahlulbait. Termasuk juga tidak menghina para sahabat Nabi Muhammad SAW.

Berikut penjelasan Gus Sholah:

Jadi salah satu tanda-tanda ahlussunnah wal jama’ah itu membolehkan mengusap khuf (kaos kaki yang terbuat dari kulit), karena sebagian dari golongan ahlilbid’ah tidak memperbolehkan mengusapnya.

Termasuk tandanya ahlussunnah wal jama’ah lagi apa? (yaitu) Mencintai kedua menantu Kanjeng Nabi saw, yaitu sayyidina Usman dan Ali. Karena ada golongan yang tidak suka dengan ahlilbait. Bahkan ada golongan yang keterlaluan terhadap ahlilbait hingga tidak suka kepada para sahabat Nabi saw.

Nah (maka dari itu) golongan ahlussunnah wal jama’ah ini harus cinta kepada ahlilbait, ya cinta kepada para sahabat. Wong para sahabat itu juga sahabatnya Nabi saw, dipilih oleh Allah untuk mendampingi Nabi saw. Para sahabat adalah orang-orang pilihan, membantu Nabi saw, juga turut menyebarkan dakwah Nabi, cintanya kepada Nabi saw juga luar biasa.

Kemuliaan Ahlulbait dan Anjuran Membaca “Radliyallahu’anhu

Ahlulbait juga begitu, kemuliaannya disebut dalam Al-Qur’an, mereka sering disebut-sebut oleh Nabi saw, masyaallah. Kedua golongan ini (ahlulbait dan para sahabat) sama-sama mulia (maka) jangan dipisah-pisahkan. Masa cinta sahabat saja, jadinya nanti disebut nawasib (tidak menyukai ahlilbait). Satunya lagi, cinta kepada ahlilbait tetapi tidak cinta kepada para sahabat. Kila tharafayil umuri dzamimun, kedua kelompok ini tercela.

Baca Juga  Kisah Lelaki yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram

Lalu yang benar bagaimana? Mencintai semuanya, kepada ahlilbait kita cinta, kepada para sahabat kita cinta. Kita menghormati dan mendoakan para sahabat, maka ketika menyebut nama-nama mereka ditambahkan dengan “radliyallahu ta’ala ‘anhu”. Ketika kita menyebut ahlilbait juga harus dengan takzim dan memuliakan, karena memang kewajiban kita mendoakan dan mencintai ahlilbait. Jangan malah dizalimi dan dijelek-jelekkan, bisa kuwalat nanti kalian.

Pembenci Ahlulbait Meninggal Dalam Keadaan Suulkhatimah

Terkadang orang itu ketika “berani” kepada ahlulbait, kuwalatnya itu tidak bisa dirasakan. Tetapi nanti saat ia meninggal, jadi suulkhatimah (kematian yang buruk). Naudzubillah. Bahkan sebagian Habaib (jamak dari Habib) berkata, “Orang yang menjelek-jelekkan ahlilbait atau menyakitinya, (ketika orang tersebut sudah meninggal) bongkarlah kuburannya dan lihatlah, pasti (jenazahnya dalam posisi) membelakangi kiblat. Kalau tidak percaya, kencingi kuburanku”.

Jadi kalau ada orang kok menyakiti ahlulbait, menjelek-jelekkan, pekerjaannya itu itu terus. Setiap harinya, kalau tidak menjelek-jelekkan Habaib itu rasanya kurang mantap, bagai orang yang belum sarapan di pagi hari. Orang-orang seperti itu coba lihat nanti ketika sudah meninggal, menghadap kiblat atau tidak jenazahnya di dalam kuburan.

Ini sungguh menakutkan, artinya kalau jenazah itu membelakangi kiblat itu berarti suulkhatimah. Makanya, kita ini punya kewajiban mencintai ahlilbait. Dan alhamdulillah, keberkahan-keberkahan yang kita dapat ini juga dari (mencintai) ahlilbait.

Para Ulama yang Termasuk Ahlulbait

Kalian tidak usah bingung, wong yang membawa Islam ke tanah Jawa itu siapa? Ya ahlulbait, yang menyebarkan ya ahlulbait. Ulama-ulama dan para guru kita juga bersambung (sanad keilmuannya) kepada ahlilbait.

Pendiri-pendiri tarikah yang muktabar (Ath-Thariqah Al-Mu’tabarah) seperti Naqsyabandiyyah dan lainnya itu juga seorang ahlulbait. Imam Abu Hasan Asy-Syadzili (Thoriqoh Syadziliyyah) juga seorang Habib. Thoriqoh Qadiriyyah didirikan oleh Syekh Abdul Qadir Al-Jilani juga Habib. Termasuk Imam Rifa’i dan Imam Tijani itu ahlulbait semua.

Baca Juga  Zakat Fitrah untuk Fakir Miskin yang Masih Jadi Rebutan

Mereka itu semua ahlulbait semua lho, ya. Coba kalian lihat sejarah dan silsilah nasabnya. Thoriqoh Idrisiyyah (Imam Ahmad bin Idris) juga dari ahlilbait. Orang yang membawa Islam ke Maroko yang terkenal keturunan dari sidi Idris Al-Akbar dan sidi Idris Al-Azhar, semuanya itu ahlulbait, keturunan dari sayyidina Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib radliyallahu’anhum.

Orang yang membawa wiridan terkenal di mana-mana, wiridannya dibaca di Mekkah, Madinah dan di mana-mana, yaitu ratibulhaddad, rotibulaththas, itu adalah ahlulbait semua. Kitabnya juga banyak dibaca, an-nashaih ad-diniyyah dan ad-da’wah at-tammah, itu semua karangan ahlilbait.

Maka tidak ada kewajiban bagi kita selain mendoakan mereka semua, semoga para ahlulbait diberi kekuatan, diberi banyak keberkahan dan keberkahannya dapat kita rasakan. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang mencintai mereka (muhibbin) dan mendapat syafaat dari Nabi saw.

Nah, semua inilah tanda-tanda ahlussunnah wal jama’ah. Cinta kepada sayyidina Ali, keluarganya, dan keturunannya. Jadi ahlussunnah wal jama’ah itu pasti mencintai ahlulbait. Kalau cuma mengaku-ngaku, ya banyak sekali.

وَكُلٌّ يَدّعِيْ وَصْلًا بِلَيْلَى. وَلَيْلَى لَا تُقِرُّ بِذَاكَ.

Semuanya mengaku, katanya ia kekasih Laila. Bilangnya, ia mencintai Laila dan Laila mencintainya, mengklaim telah menjalin hubungan telah lama. Namun ketika Laila ditanyai, “Apakah kamu kenal sama si Fulan?”, tetapi Laila tidak mengenalnya sama sekali, “Siapa dia? Wajahnya saja aku tidak tahu”.

Semua bisa mengaku ahlussunnah wal jama’ah, tetapi saat ditanya, “Kenalkah kamu sama orang-orang yang membenci ahlulbait?”, ia menjawab, “Aku tidak tahu”. Maka, dia ini bukan termasuk ahlussunnah wal jama’ah. (mmsm)

Simak video selengkapnya, “Mencintai Ahlulbait Adalah Salah Satu Ciri-ciri Ahlussunnah Wal Jama’ah

 

Baca Juga  Berobat secara Kaffah dengan Memadukan Aspek Zahir dan Batin

 

Muhammad Ilham Fikron Alumnus Perguruan Islam Mathaliul Falah (PIM) dan Alumnus Ma’had Aly Pesantren Maslakul Huda fi Ushul al-Fiqh Kajen Pati