



Gegara pandemi Covid-19, para kiai yang selama ini menghindari popularitas, tak suka disorot kamera, dan merasa malu tampil di medsos kini harus menerima kenyataan. Mau tak mau mereka harus mbalah (mengkaji, mengajarkan) kitab secara online demi tetap bisa menyapa santri dan khalayak. Tak ada pilihan lain bagi mereka selain ikut turun gunung merambahi dunia maya agar tetap bisa berdakwah, menyebarkan ilmu di tengah keharusan sosial publik membatasi diri.
Ini fenomena baru. Saya sungguh bersyukur dengannya. Dalam situasi normal, bukan perkara gampang merayu para kiai untuk tampil di media sosial maya. Anak-anak muda NU yang paham fungsi strategis penguasaan media informasi tak kurang-kurang merayu para kiai untuk memanfaatkan internet.
Hingga tingkat tertentu, sejumlah pesantren dan para kiai mulai tergugah; memiliki web dan punya akun medsos. Namun, progress-nya lambat. Cek saja di semua lini media sosial, sejak kapan web dan akun mereka mulai aktif. Dan, alhamdulillah, ujian wabah ini memaksa mereka untuk turut “manggung” di dunia maya, terlebih Ramadan memberi momentumnya. Inilah salah satu hikmah di balik musibah global corona.
Fenomena ini memang patut disyukuri. Sangat patut karena dengannya masyarakat disuguhi semakin banyak alternatif, baik media maupun sumber, dalam belajar agama. Tawaran wacana keislaman di dunia maya pun kini lebih variatif; tidak melulu dijejali wacana keagamaan yang bertendensi antagonistik terhadap keragaman.
Kemunculan para kiai itu menyuguhkan wajah Islam yang lebih ramah, sejuk, riang, dan menyenangkan. Wajah yang tentu berbeda diametral dengan wajah keislaman yang selama ini terlanjur menyesaki dunia maya: wajah yang buram, murung, curigaan, dan sarat amarah. Dunia maya pun kini tak ubahnya palagan.
Bagi kaum muslim tradisional, turunnya para panutan itu di palagan maya juga memberi mereka momentum untuk memperkaya modus eksistensial diri di ruang publik. Selama ini kaum sarungan itu rutin dihajar, tradisi keagamaan mereka diolok habis-habisan di palagan cyber. Mereka bukan diam, juga para kiai itu. Mereka, para kiai itu, sudah merespons terutama lewat ceramah-ceramah pengajian terbuka di dunia nyata.
Namun, tak bergaung karenan problem aksesabilitas. Dunia maya tetap gegap-gempita oleh para pembenci, sedangkan kaum tradisional harus berpuas diri merayakan perlawanan penuh suka cita di dunia nyata. Pertarungan wacana menjadi terasa “krik-krik” karena kedua kaum bergelut di palagan berbeda. Namun, tidak lagi kini. Kepungan corona telah membuat kaum tradisional dan para kiai mereka menemukan palagan baru untuk tak hanya “ada”, tapi juga terus “meng-ada”.
Akan tetapi, tanpa mengurangi rasa syukur, saya juga tersenyum getir dengan fenomena ini. Segmen manakah yang berhasil disasar oleh dakwah online para kiai itu? Menebar ilmu dengan membaca-memaknai-menafsiri kalimat demi kalimat dalam kitab-kitab khazanah keilmua Islam klasik itu sungguh tak biasa. Betul-betul bukan cara instan dalam belajar ilmu agama.
Celakanya, dakwah Islam di dunia maya kebanyakan justru berlangsung dengan cara instan plus para pegiat yang sebagian instan pula munculnya. Akibatnya, umat pun kadung terbiasa dengan “cara pintas” belajar agama dengan materi renyah beraroma vitsin dan mudah ditelan tanpa dikunyah. Umat yang belakangan cenderung gampang meradang dan suka mengeksplosi kebencian di ruang publik adalah buah logis dari model dakwah dan prejengan dai sedemikian.
Itulah mengapa saya curiga, jangan-jangan yang mampu dan mau menikmati dakwah ber-genre ngaos kitab klasik hanya kaum muslim tradisional itu sendiri, khususnya yang akrab dengan tradisi keilmuan pesantren. Bagaimana dengan kaum milenial yang sedang keranjingan dengan “hirah-hijrahan” itu? Atau muslim urban yang perangkat metodologis memahami Islam begitu terbatas tapi ghirah berislam-nya meledak-ledak?
Saya sungguh ragu. Bukan apa-apa, menurut saya, mengaji dengan menyimak telaah kitab bertuliskan Arab “gundul” tanpa harokat itu sebuah kemewahan. Tak sembarang muslim bisa. Tanpa penguasaan tradisi keilmuan serupa, menikmati sajian para kiai sepuh itu sungguh “siksaan”, alih-alih bakal tercerahkan…
Sependek amatan saya, para pemirsa yang nderek ngaji jika bukan santri aktif pasti santri alumni. Mereka menyimak para romo yai dalam mbalah kitab bukan karena mereka tak mampu baca kitab. Mereka bisa baca sendiri. Apalagi santri alumni, setelah tahunan nyantri tentu mereka juga piawai baca. Hampir bisa dipastikan mereka nderek ngawos lebih karena nostalgia atau ngalap barokah.
Adapun bagi kaum urban dan “muhajirin” milenial jelas ini tidak make sense. Selain tak berperangkat memadai, keterkondisian historis mereka juga tak memustahilkan untuk sungguh-sungguh menikmatinya.
Maka itu, terhadap maraknya fenomena ini, bersyukur iya, tapi jumawa jangan. Ikhtiar mencerahkan publik bahwa tidak ada jalan pintas belajar agama masihlah panjang. Para kiai dan santri harus kompak serentak turun memenuhi palagan maya maupun nyata. Namun, juga harus sambil bersiap selalu mendinginkan hati terhadap setiap bully. Terutama para santri yang kecintaan pada romo yai begitu tak terperi, haruslah berlapang dada menghadapi kenyataan panutan mereka di-bully oleh orang-orang yang baca al-Qur’an saja plegak-pleguk macam lagi kesellek ri.
Jadi, harus gimana? Ya, tidak gimana-gimana. Lanjut saja. Ini bagus bagi publik dan umat. Mendewasakan, juga mencerahkan. Mungkin prosesnya lama, tak apa. Minimal, lewat dunia maya, publik menjadi tahu kini betapa negeri ini sejatinya memiliki banyak ulama pilih tanding, yang mumpuni dalam ilmu dan karimah dalam akhlaq. Publik pun pelan-pelan bakal sadar bahwa menjadi ulama itu tak cukup bermodalkan suara menggelegar dan penampilan religius kearab-araban.
Selebihnya, sempatkanlah berterima kasih kepada para “kapir” yang telah memungkinkan palagan ini tersedia, seperti Thomas Alva Edison (listrik), Leonard Kleinrock (internet), Mark Zuckerberg (facebook), Steve Chen dkk. (youtube), Kevin Systrom (instagram), Eric Yuan (zoom), dan lain-lain. Dan, jangan lupa, juga “berterima kasih”-lah kepada virus corona yang telah membukakan jalan bagi kita bisa tetap menatap wajah teduh kiai saat sowan langsung tak memungkinkan. [FM]
Dosen Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora IAIN Jember