Ngaji Sullam al-Tawfiq [4]: Tata Cara Berwudu dan Yang Membatalkannya

Bismillāhirrahmanirrahīm. Alhamdulillāhi thumma al-salāt wa al-salām ‘alā rasūlillāh. Wa ilā Allah narjū rahmatahu wa ra’fatah.

Jika kita mencari ajaran Islam yang erat kaitannya dengan kebersihan, maka wudu adalah salah satunya. Berwudu artinya bersuci. Tatkala seseorang mengambil wudu, artinya dia hendak menyucikan diri dari hadas-hadas kecil.

Wudu tidak hanya mengajarkan tentang kebersihan (نضيف), lebih dari itu, ia mengajarkan tentang arti kesucian (طهارة). Jika kita melihat kotoran cicak jatuh mengenai pakaian, maka ia tidak hanya sekadar kotor, namun juga najis. Demikian juga ketika sarung anda terkena percikan air kencing, meski masih terlihat bersih, maka sarung itu termasuk dalam kategori najis. Jadi, bersih tidak selalu identik dengan suci. Namun suci selalu mewujud dalam kebersihan.

Selain itu, ajaran tentang wudu ini erat kaitannya dengan aspek ubūdīyah, terutama salat. Secara hukum, wudu merupakan perintah Allah yang disunnahkan. Namun keberadaannya bisa berubah menjadi wajib ketika berfungsi sebagai penyempurna kewajiban salat. Artinya, jika seseorang berwudu untuk melakukan salat, maka hukum wudu berubah menjadi wajib. Hal itu karena karena wudu menjadi bagian tak terpisahkan dari salat, meski ia merupakan ritual tersendiri. Ia menjadi kunci kesempurnaan salat. Tanpa wudu, salat tidak akan sah.

Dalam kaidah ushul fiqh disebutkan:

 مَا لَايَتِمّ الوَاجِب إلاّ بِه فَهُو وَاجِب

Apa yang kewajiban tidak akan sempurna kecuali dengannya, maka ia adalah kewajiban juga.

Kewajiban berwudu direkam dalam Alquran QS. al-Ma’idah [5]: 6, di mana Allah menjelaskan keharusan bersuci sebelum melaksanakan salat.

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءً فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًا طَيِّبًا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan salat, maka basuhlah muka dan tanganmu sampai dengan siku, dan usaplah kepala dan kakimu sampai dengan kedua mata kaki. Dan jika kamu junub maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur.

Ayat ini menjelaskan tentang tiga cara bersuci sebelum melakukan salat. Pertama, jika seseorang dalam kondisi normal, hanya memiliki hadas kecil, maka wudu merupakan tata cara yang tepat untuk bersuci. Kedua, jika seseorang dalam keadaan junub (hadas besar), maka dia diwajibkan untuk mandi junub terlebih dahulu. Dan ketiga, jika seseorang tidak mendapati air untuk berwudu, maka dianjurkan untuk bersuci dengan debu, tayammum.

Berikut ini kami paparkan tiga uraian Mualif kitab Sullam al-Tawfiq tentang wudu: tata cara wudu, hal-hal yang membatalkan wudu dan kewajiban untuk bersuci:

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ الوُضُوءُ، وفُرُوضُهُ سِتَّةٌ: الأوَّلُ: نِيَّةُ الطَّهارَةِ لِلصَّلاةِ بِالقَلْبِ، أو غَيْرُها مِنَ النِّيّاتِ المُجْزِئَةِ، عِنْدَ غَسْلِ الوَجْهِ؛

Salah satu syarat salat adalah wudu. Fardu wudu ada enam. Pertama, niat bersuci untuk salat dalam hati, atau niat lain yang sah, ketika membasuh wajah.

[Perlu diingat, bahwa niat wudu diucapkan dalam hati ketika seseorang membasuh wajahnya.]

الثّاني: غَسْلُ الوَجْهِ جَمِيعِهِ، مِنْ مَنابِتِ شَعْرِ رَأْسِهِ إلى الذَّقَنِ، ومِنَ الأُذُنِ إلى الأُذُنِ، شَعَرًا وبَشَرًا، إلّا باطِنَ لِحْيَةِ الرَّجُلِ وعارِضَيْهِ إذا كَثُفْنَ؛

Kedua, membasuh seluruh wajah termasuk tempat tumbuhnya rambut kepala sampai dagu, dan dari satu batas telinga ke batas telinga lainnya, kecuali bagian dalam jenggot dan jambang laki-laki apabila tebal.

الثّالِثُ: غَسْلُ اليَدَيْنِ مَعَ المِرْفَقَيْنِ وما عليهما؛

Ketiga, membasuh kedua tangan termasuk siku dan yang di atasnya.

[ingat, dalam membasuh tangan ini seseorang harus melebihkan basuhannya hingga di atas siku.]

الرابِعُ: مَسْحُ الرّأْسِ أو بَعْضِهِ، ولَوْ شَعْرَةً في حَدِّهِ؛

Keempat, mengusap kepala atau sebagiannya, walaupun satu rambut dalam batas kepala.

الخامِسُ: غَسْلُ الرِّجْلَيْنِ مَعَ الكَعْبَيْنِ، أو مَسْحُ الخُفِّ إذا كَمَلَتْ شُرُوطُهُ؛

Kelima, membasuh kedua kaki beserta mata kaki, atau mengusap sepatu (khuff) jika sudah memenuhi syarat.

السّادِسُ: التَّرْتِيبُ.

Keenam, tertib.

[Artinya, orang yang berwudu harus memperhatikan urutan dan tata tertib wudu seperti di atas. Tidaklah sah wudu yang diawali dari kaki, tangan atau kepala.]

Selanjutnya, sang Mualif melanjutkan pembahasan tentang hal-hal yang membatalkan wudu.

ويَنْقُضُ الوُضُوءَ: ما خَرَجَ مِنَ السَّبِيلَيْنِ إلّا المَنِيَّ؛ ومَسُّ قُبُلِ الآدَمِيِّ أو حَلْقَةِ دُبُرِهِ بِبَطْنِ الكَفِّ بِلا حائِلٍ؛ ولَمسُ بَشَرَةَ الأجْنَبِيَّةِ مَعَ كِبَرٍ وزَوالُ العَقْلِ إلّا نَوْمَ قاعِدٍ مُمَكِّنٍ مَقْعَدَتَهُ.

Dan yang membatalkan wudu adalah sesuatu yang keluar dari dua jalan (depan dan belakang), kecuali air mani. Menyentuh kemaluan depan manusia atau bundaran anus dengan menggunakan dalamnya telapak tangan tanpa penghalang. [Laki-laki] menyentuh kulit wanita dewasa [yang bukan mahramnya]. Hilang akal. Kecuali tidurnya orang yang duduk yang menetap pada tempat duduknya, maka itu tidak membatalkan wudu.

Pada pembahasan terakhir tentang wudu, sang Mualif menjelaskan tentang kewajiban mensucikan diri dari kotoran.

يَجِبُ الاسْتِنْجاءُ مِنْ كُلِّ رَطْبٍ خارِجٍ مِنَ السَّبِيلَيْنِ غَيْرَ المَنِيِّ: بِالماءِ إلى أنْ يَطْهُرَ المَحَلُّ؛ أو يَمْسَحَهُ ثَلاثَ مَسَحاتٍ أو أكْثَرَ، إلى أنْ يَنْقَى المَحَلُّ، وإنْ بَقِيَ الأثَرُ، بِقالِعٍ، طاهِرٍ، جامِدٍ، غَيْرِ مُحْتَرَمٍ، مِنْ غَيْرِ انْتِقالٍ، وقَبْلَ جَفافٍ.

Wajib bersuci dari segala benda basah yang keluar dari dua jalan, kecuali air mani, dengan menggunakan air sampai tempat kotoran itu suci. Atau dengan mengusap tiga kali atau lebih sampai tempatnya bersih, dengan menggunakan benda kasar, padat, suci, dan bukan benda yang dimuliakan [seperti makanan roti], yang kotorannya itu belum berpindah-pindah dan belum kering. [MZ]

Wallāhu a‘lam bi al-sawāb

0

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya