Ngaji Sullam Al-Tawfiq [6]: Rukun, Syarat dan Yang Membatalkan Salat

BismillāhirrahmānirrahīmAlhamdulillāhi thumma al-salāt wa al-salām ‘alā rasūlillāhWa ilā Allah narju rahmatahu wa ra’fatah.

Pembahasan kali ini merupakan lanjutan dari kajian sebelumnya (seri ke-5) tentang salat. Jika sesi sebelumnya menjelaskan tentang kewajiban dan waktu-waktu salat fardu, maka di sini akan membahas salat dari aspek yang lebih bersifat praktik.

Salat yang baik adalah yang salat yang memperhatian tata aturan. Tata aturan itu telah dicontohkan oleh Nabi dan diformulasikan oleh para ulama. Kata Nabi, “salatlah kalian sebagaimana aku melakukan salat”. Hadis ini menginformasikan bahwa detail dari praktik salat merupakan warisan kenabian. Ia bersifat tetap. Dimulai dari takbiratul ihram dan dipungkasi dengan tahiyat dan salam. Amaliyahnya tidak berubah, kecuali jika ada uzur yang melatarinya.

Dengan demikian, jika salat merupakan kewajiban setiap individu Muslim (fardu ‘ain), maka sudah seharusnya setiap Muslim mengetahui detail praktik dari amaliyah ini. Semakin orang memahami tata aturan salat, semakin sempurna pula kualitas salat itu.

Syarat Sah salat

ومِنْ شُرُوطِ الصَّلاةِ: اسْتِقْبالُ القِبْلَةِ، ودُخُولُ الوَقْتِ، والإسْلامُ، والتَّمْيِيزُ، والعِلْمُ بِفَرْضِيَّتِها، وأنْ لا يَعْتَقِدَ فَرْضًا مِنْ فُرُوضِها سُنَّةً، والسَّتْرُ بِما يَسْتُرُ لَوْنَ البَشَرَةِ لِجَمِيعِ بَدَنِ الحُرَّةِ إلّا الوَجْهَ والكَفَّيْنِ، وسَتْرُ ما بَيْنَ السُّرَّةِ والرُّكْبَةِ لِلذَّكَرِ والأَمَةِ، مِنْ كُلِّ الجَوانِبِ لا الأَسْفَلِ. 

Termasuk syarat shalat adalah sebagai berikut:

  1. Menghadap kiblat,
  2. Masuknya waktu salat [salat dalam waktunya],
  3. Islam
  4. Tamyiz
  5. Mengetahui wajibnya shalat (apabila shalat fardu), tidak boleh meyakini yang fardu sebagai sunnah
  6. Menutup dengan sesuatu yang dapat menutupi warna kulit pada seluruh badannya perempuan merdeka, kecuali wajah dan telapak tangan.
  7. Menutup tubuh antara pusar dan lutut bagi laki-laki dan budak amat, dari segala arah kecuali bawah.

 

Yang Membatalkan Salat

وتَبْطُلُ الصَّلاةُ: بِالكَلامِ ولو بِحَرْفَيْنِ أو بِحَرْفٍ مُفْهِمٍ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِالأَفْعالِ الكَثِيرَةِ المُتَوالِيَةِ، كَثَلاثِ حَرَكاتٍ، وبِالحَرَكَةِ المُفْرِطَةِ، وبِزِيادَةِ رُكْنٍ فِعْليٍّ، وبِالحَرَكَةِ الواحِدَةِ لِلَّعِبِ، وبِالأَكْلِ والشُّرْبِ، إلّا إنْ نَسِيَ وقَلَّ، وبِنِيَّةِ قَطْعِ الصَّلاةِ، وبِتَعْلِيقِقَطْعِها، وبِالتَّرَدُّدِ فيه، وبأنْ يَمْضِيَ رُكْنٌ مَعَ الشَّكِّ في نِيَّةِالتَّحَرُّمِ، أو يَطُولَ زَمَنُ الشَّكِّ.

Salat bisa batal karena disebabakan oleh beberapa hal berikut:

  1. Berkata meskipun dengan satu huruf yang bisa dipahami kecuali ia lupa dan [berkata] sedikit.
  2. Banyak bergerak dan terus-menerus, seperti tiga gerakan berturut-turut, atau dengan satu gerakan yang keras dan melebihi batas.
  3. Menambah rukun fi’lī
  4. Menambah satu gerakan karena bermain-main
  5. Makan dan minum, kecuali bila ia lupa dan sangat sedikit
  6. Berniat memotong salat, menggantungkan sesuatu di dalam memotong salat, ragu dalam memotong salat.
  7. Terlewatnya satu rukun yang disertai dengan keraguan dalam niat takbiratul ihram, atau ragu yang terlalu lama.

 

Rukun Salat

أَرْكانُ الصَّلاةِ سَبْعَةَ عَشَرَ رُكْنًا: الأوَّلُ: النِيَّةٌ بِالقَلْبِ لِلفِعْلِ، ويُعَيِّنُ ذاتَ السَّبَبِ ويَنْوِي الفَرْضِيَّةَ في الفَرْضِ، [الثّانِي]: ويَقُولُ بِحَيْثُ يَسْمَعُ نَفْسُهُ كَكُلِّ رُكْنٍ قَوْليٍّ: “اللهُ أَكْبَر”، وهو ثانِي أرْكانِها، الثّالِثُ: القِيامُ في الفَرْضِ لِلْقادِرِ، الرّابِعُ: قِراءَةُ الفاتِحَةِ، بِالبَسْمَلَةِ، والتَّشْدِيداتِ، ومُوالاتِها، وتَرْتِيبِها، وإخْراجِ الحُرُوفِ مِنْ مَخارِجِها، وعَدَمِ اللَّحْنِ المُخِلِّ بِالمَعْنَى، ويَحْرُمُ اللَّحْنُ الَّذِي لم يُخِلُّ ولا يُبْطِلُ، الخامِسُ: الرُّكُوعُ بِأنْ يَنْحَنِيَ بِحَيْثُ تَنالُ راحَتاهُ رُكْبَتَيْهِ، السّادِسُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه بِقَدْرِ سُبْحانَ اللهِ، السّابِعُ: الاعْتِدالُ بِأنْ يَنْتَصِبَ قائِمًا، الثّامِنُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، التّاسِعُ: السُّجُودُ مَرَّتَيْنِ بِأنْ يَضَعَ جَبْهَتَهُ على مُصَلّاهُ مَكْشُوفَةً ومُتَثاقِلًا بِها ومُنَكِّسًا، ويَضَعَ شَيْئًا مِنْ رُكْبَتَيْهِ، ومِنْ بُطُونِ كَفَّيْهِ، ومِنْ بُطُونِ أَصابِعِ رِجْلَيْهِ،

العاشِرُ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الحادِي عَشَرَ: الجُلُوسُ بين السَّجْدَتَيْنِ، الثانِي عَشَرَ: الطُّمَأْنِينَةُ فيه، الثّالِثَ عَشَرَ: الجُلُوسُ، لِلتَّشَهُّدِ الأَخِيرِ وما بَعْدَهُ، الرّابِعَ عَشَرَ: التَّشَهُّدُ الأَخِيرُ، فَـيَقُولَ: “التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ”، الخامِسَ عَشَرَ: الصَّلاةُ على النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عليه وسَلَّمَ، أَقَلُّها: “اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ”، السّادِسَ عَشَرَ: السَّلامُ، أَقَلُّهُ: “السَّلامُ عَلَيْكُمْ”، السّابِعَ عَشَرَ: التَّرْتِيبُ، فَإِنْ تَعَمَّدَ تَرْكَهُ، كَأَنْ سَجَدَ قَبْلَ رُكُوعِهِ بَطَلَتْ، وإِنْ سَها فَلْيَعُدْ إليه إلّا أنْ يَكُونَ في مِثْلِهِ أو بَعْدَهُ، فَتَتِمُّ بِهِ رَكْعَتُهُ، ولَغا ما سَها بِهِ.

Rukun shalat ada 17:

  1. Berniat melaksanakan salat dalam hati, orang yang sedang salat agar menyatakan salat yang mempunyai sebab, dan berniat fardu untuk shalat fardu. [Misalnya, berniat dalam hati: “Aku shalat fardu Zuhur” (أُصَلِّي فَرْضَ الظُّهْرِ).]
  2. Berkata yang sekiranya dirinya dapat mendengar, sebagaimana setiap rukun qaulī(ucapan) yaitu kalimat: “Allahu Akbar”.
  3. Berdiri di dalam salat fardu bagi yang mampu.
  4. Membaca Al-Fatihah dengan basmalah, tasydid, dengan segera dan urut, dan mengeluarkan bunyi huruf sesuai makhrajnya, serta tidak melakukan lahnyaitu kesalahan membaca yang bisa merubah makna. Lahnyang tidak merusak makna adalah haram, namun tidak membatalkan salat.
  5. Melakukan rukuk dengan cara membungkuk sekiranya dua telapak tangan mencapai kedua lutut.
  6. Tuma’ninah (tenang) dalam rukuk, yang kira-kira lamanya sama dengan membaca “subnahallah”.
  7. I’tidāl, yaitu berdidir tegak atau bangun setelah rukuk.
  8. Tuma’ninah dalam i’tidāl.
  9. Sujud dua kali dengan menaruh dahi ke tempat sujud secara langsung dan terbuka dengan sedikit ditekan, dan bertekuk lutut dengan meletakkan kedua lututnya sementara perut, jari-jemari, kakinya juga ditekan.
  10. Tuma’ninah dalam sujud.
  11. Duduk di antara dua sujud.
  12. Tuma’ninah dalam duduk.
  13. Duduk untuk tasyahud akhir dan setelahnya.
  14. Tasyahud/tahiyat akhir.
  15. Dalam tasyahud/tahiyat akhir mengucapkan: “التَّحِيّاتُ المُبارَكاتُ الصَّلَواتُ الطَّيِّباتُ للهِ، السَّلامُ عَلَيْكَ أيُّها النَّبِيُّ ورَحْمَةُ اللهِ وبَرَكاتُهُ، السَّلامُ عَلَيْنا وعلى عِبادِ اللهِ الصّالِحينَ، أَشْهَدُ أَنْ لا إلٰهَ إلّا اللهُ وأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ” [artinya: segala kehormatan, keberkahan, kebahagiaan, dan kebaikan adalah untuk Allah swt. semoga keselamatan tetap untuk-Mu wahai Nabi Muhammad saw. Demikian pula rahmat Allah swt. serta berkah-Nya, dan semoga keselamatan tetap untuk kami dan untuk hamba Allah swt. yang Saleh. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah swt. dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad saw. Utusan Allah swt.]
  16. Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Paling sedikit bacaan shalawat adalah: Allahumma salli ‘ala Muhammad: “اللّٰهُمَّ صَلِّ على مُحَمَّدٍ”.
  17. Salam. Paling sedikit ucapan salam adalah Assalamu’alaikum: “السَّلامُ عَلَيْكُمْ.
  18. Melakukan secara berurutan. Jika seseorang dengan sengaja mengabaikan urutan sholat, seperti melakukan sujud sebelum rukuk, maka sholatnya batal. Sedang jika meninggalkan satu rukun disebabkan lupa maka ia harus kembali (melaksanakan) pada rukun yang ia tinggalkan. Kecuali bila ia telah berada pada posisi rukun yang ditinggal atau bahkan setelahnya, maka sempurnalah satu rakaat baginya dan hanguslah apa yang ia lakukan dalam keadaan lupa.

Demikian. Wallāhu a‘lam bi al-sawāb.

1

Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.