Ahmad Gaus Penulis buku-buku keislaman. Bisa disapa di ahmadgaus.com

Tindakan Erdogan untuk Hagia Sophia Cukup Memalukan

1 min read

Akhir-akhir ini banyak postingan beredar di grup-grup WA yang memuji-muji tindakan Erdogan yang mengubah museum Hagia Sophia menjadi masjid. Tindakan Presiden Turki itu dikaitkan dengan Sultan Muhamad al-Fateh di masa lalu yang lebih dulu merebut gereja Hagia Sophia itu dari umat Kristiani dan dijadikan masjid.

Gereja/Masjid Sophia itu selama ratusan tahun memang menjadi “rebutan” antara umat Kristiani dan umat Islam. Selama Kekaisaran Bizantium, Hagia Sophia merupakan bangunan gereja.

Era Kekaisaran Bizantium berakhir pada 1453 setelah ditaklukkan oleh Sultan Mehmed II dari Kekaisaran Ottoman. Kemudian status Hagia Sophia diubah fungsinya menjadi masjid.

Setelah Turki menjadi republik, Presiden Kemal Attaturk “menetralkan” gereja/masjid itu menjadi museum pada 1934. Dengan demikian melepaskan kepemilikan emosional dari dua umat tersebut. Bukan rumah ibadah Kristiani, bukan pula rumah ibadah Muslim. Melainkan situs warisan dunia milik peradaban Timur dan Barat.

Nah, pada 10 Juli lalu, Presiden Turki, Erdogan mengubah Hagia Shopia dari museum menjadi masjid. Padahal Hagia Sophia sudah ditetapkan sebagai warisan budaya dunia oleh Unesco pada 1985.

Dengan status itu, maka perubahan fungsi bangunan harus dikonsultasikan dulu ke Unesco. Erdogan sama sekali mengabaikan itu. Tindakannya itu, yang mengatasnamakan kedaulatan negara,   adalah tindakan sepihak, mengabaikan hak masyarakat internasional, tidak etis, dan sekaligus konyol.

Kalau diurut bahwa bangunan itu awal mulanya adalah gereja, tindakan itu juga sangat memalukan. Tidak mencerminkan akhlak Nabi yang sangat menghormati rumah ibadah agama lain. Para khalifah dan sahabat Nabi pun tidak pernah ada yang melakukan itu.

Itulah mengapa banyak umat Islam tidak bahagia dengan keputusan Erdogan tersebut. Karena ini menyangkut “perasaan”,  hubungan baik Islam dan Kristen, serta masalah sopan santun.

Baca Juga  Syeikh al-Azhar Prof. Ahmad al-Thayyib: Khilafah Islam yang Ideal Era al-Khulafā’ al-Rāsyidūn Tidak Dapat Dihadirkan Kembali

Coba bayangkan kalau Masjid Cordoba di Spanyol diubah menjadi gereja (karena dulunya memang gereja) oleh pemerintah di sana karena dia punya kuasa untuk melakukan itu. Bagaimana perasaan umat Islam. Begitulah sekarang yang dirasakan oleh orang-orang Kristen di seluruh dunia.

Dulu khalifah Umar bin Khatab menaklukkan Yerusalem. Pemimpin umat Katolik di sana sudah memberikan kunci gereja terbesar kepadanya untuk dijadikan masjid. Tapi Umar menolaknya. Beliau membiarkan gereja itu tetap sebagai gereja. Itulah akhlak Islam.

Ketika sahabat Nabi, Khalid bin Walid menaklukkan Damaskus, beliau dan pasukannya membutuhkan tempat untuk shalat Jumat. Banyak gereja-gereja besar yang bisa dialihfungsikan menjadi masjid. Tapi beliau tidak mau melakukannya. Tidak terpikir untuk mengubah gereja menjadi masjid karena akan melukai hati orang-orang Kristen. Beliau mengajak pasukannya untuk membangun masjid sendiri. Begitulah akhlak Islam.

Nah, Haga Shopia ini sudah lebih seribu tahun berdiri sebagai gereja, lalu orang Islam mengubahnya menjadi masjid. Attaturk pernah menjadikannya situs netral dengan menjadikannya museum yang berarti bisa diakses dan sekaligus dibanggakan oleh umat Islam maupun Kristen. Sekonyong-konyong, minggu lalu, Erdogan mengubahnya menjadi masjid. Paus Fransiscus bersedih. Warga dunia prihatin. Dan sebagai muslim, saya sungguh malu. [HM]

-AG-

Ahmad Gaus Penulis buku-buku keislaman. Bisa disapa di ahmadgaus.com