Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina

Kenangan Benedict Anderson: Dari Gus Dur, Cak Nur, Malari 1974 sampai Gerakan Mahasiswa ITB 78 (3)

2 min read

Sebelumnya: Kenangan dengan Benedict Anderson… (2)

Kembali ke DM-ITB, para aktivis mahasiswa ITB itu, mulai dari membaca lalu berdiskusi dan kemudian merumuskannya ke dalam tulisan menjadi buku berjudul Buku Putih Perjuangan Mahasiswa 1978. Buku itu menggunakan berbagai sumber dari surat kabar, majalah, buku, serta dokumen resmi pemerintah, seperti “Rencana Pembangunan Lima Tahun Kedua 74/75 – 78/79”. Lahirlah sebuah buku dari tangan mahasiswa berupa kajian mendalam mengenai kondisi Indonesia saat itu. ( Alea Eka Putri,2020)

Saya jadi ingat, mantan tokoh DM-ITB Rizal Ramli (RR) pun mengakui pada saya bahwa Prof Ben Anderson berjasa menerjemahkan “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa” DM-ITB Januari 1978. ‘’Buku itu,  dimana saya, Irzadi Mirwan Alm, Abd Rachim dan Josef Manurung tulis bersama, terjemahan Inggrisnya dilakukan oleh Ben Anderson, yang lebih bagus dari aslinya karena dilengkapi footnotes pelengkap. Ben kritis dan hebat,’’ kata RR, mantan Menko Kemaritiman pada era Jokowi/reformasi.

Ben memang sudah menjadikan Indonesia sebagai bagian penting dalam hidupnya,dia mencintai bangsa dan negara kita.

‘’Ben ilmuwan yang hebat, cinta dan komit kepada bangsa Indonesia,’’ ucap RR, Menko Ekuin Presiden Gus Dur/era Reformasi.

Benedict Anderson sendiri menyampaikan bahwa, “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa” DM-ITB Januari 1978  karya Rizal Ramli dkk ini sangat penting karena merupakan kritik sistematis pertama mengenai kebijakan Orde Baru di Indonesia (Anderson & Ecklund, 1978). Saking pentingnya, Benedict Anderson membantu menerjemahkan buku tersebut ke dalam bahasa Inggris lalu menerbitkannya di Jurnal Indonesia terbitan Cornell University dengan judul ‘’White Book of the 1978 Students’ Struggle ‘ (Source: Indonesia, No. 25 .April 1978, pp. 151-182, published by: Southeast Asia Program Publications at Cornell University,1978).

Baca Juga  Istikamah dan 3H (Head, Hand, dan Heart)

Dan “Buku Putih Perjuangan Mahasiswa”  DM-ITB Januari 1978 yang diterjemahkan Ben Anderson menjadi  ‘’White Book of the 1978 Students’ Struggle’’, ternyata kemudian diterjemahkan ke delapan bahasa, antara lain bahasa Belanda, Jepang, China, dll.

Ben Anderson bertanya pada kami bagaimana kabar Hariman Siregar, Arief Budiman, Rizal Ramli dkk, apa mereka pada 1994 itu masih tetap jadi gangster gerakan aktivis/intelektual? ‘’Mereka sama kita terlibat demo protes menolak pembungkaman dan  pembredelan TEMPO dan (Detik & Editor). Masih  aktif dan sering kumpul sama mahasiswa, diskusi dan mengatur aksi diam-diam sebab gak enak sama penguasa kalau ketahuan,’’ jawab saya spontan.

‘’Oh, berarti gangster intelektual/aktivis 1970-an masih pada gak puas sama Orba yang represif ya. Dan itu isu Kedong Ombo, waduk Nipah, korupsi elite dll, harusnya jadi isu publik juga, bukan hanya pembredelan pers’’ kata Ben Anderson.

Anderson percaya, selama ketimpangan dan ketidakadilan meluas, maka potensi mahasiswa sebagai kekuatan gerakan melawan rezim tetap terbuka.

Ben menyebut gerakan kaum muda/mahasiswa memang dikhawatirkan bisa mengguncang pemerintah kalau kondisi obyektifnya  sudah ada dan jadi keprihatinan banyak orang. Ben berpesan, kalau ada selebaran selebaran gelap di masa Orba itu,  maka jangan dibuang tapi dikumpulkan untuk dianalisis, dikaji. Mungkin ada gunanya nanti.

Kami pulang Oktober 1994 dari New York, dan tak ketemu Pak Ben Anderson lagi. Dan terbukti kemudian, Ben Anderson menyaksikan dari layar televisi di Ithaca, kelak dimana Orde haji bajinguk tumbang pada Mei 1998. Dan pasca Orba, dia dizinkan datang ke Indonesia.

Saya masih kirim sapa dan sepatah kata via medsos (Facebook) ke rekan rekan Cornell melalui  kebaikan Ben Abel, putra dayak Kalimantan Tengah yang dekat dengan Ben Anderson dan menjadi librarian di perpustakaan Cornell dan Binghamton, kalau tak salah ingat.

Baca Juga  Mendamaikan Agama dan Sains: Belajar dari Pandemi “Maut Hitam”

Ketika Pak Ben Anderson wafat di Batu, Malang, Jawa Timur, Sabtu (12/12/15), dalam akun Facebooknya, penerbit Marjin Kiri, mengabarkan bahwa Minggu pagi, jenazah Anderson dibawa ke Surabaya dari Malang, dan, sesuai permintaannya, Ben Anderson dikremasi dan abunya disebarkan di Laut Jawa. Dan itu pun bukti lagi bahwa Ben Anderson sangat mencintai Indonesia. Di suasana Ramadhan 2021 ini, marilah kita berdoa untuk beliau. Pak Ben sudah mendedikasikan hidupnya untuk Indonesia, sepantasnya kita kenang,  apresiasi dan hormati. Lahu Al- Fatehah. (mmsm)

Serpih Memori Ithaca 1994-Paramadina 2021

Herdi Sahrasad
Herdi Sahrasad Dosen di Sekolah Pascasarjana Universitas Paramadina