Hilmy Harits Putra Perdana Mahasiswa dan Santri di Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung

Trensains Tebuireng: Melampaui Postradisionalisme Islam

2 min read

sumber: smatrensains.sch.id

Membaca ulang kejayaan Islam masa lalu, cukup membuat gairah untuk membangkitkan semangat perjuangan muncul kembali. Semangat perjuangan dalam hal ini diartikan sebagai ghirah mencari ilmu pengetahuan. Peradaban Islam pernah menjadi sumbangsih kemajuan perkembangan sains dan teknologi pada masa dinasti Abbasiyah sekitar abad 8 M-12 M.

Istilah “postradisional” itu sendiri menurut Marzuki Wahid dapat dipahami sebagai gerakan lompat tradisi yang berangkat dari pembaruan terus-menerus oleh tradisi tersebut dengan berusaha untuk mendialogkan dengan modernitas sehingga dapat menciptakan tradisi baru yang khas.

Namun, pada perkembangannya, peradaban Islam lambat laun mulai tertinggal dari peradaban Barat. Salah satunya disebabkan oleh adanya dogma agama yang dimaknai terlalu rigid sehingga seolah Islam harus dipisah dengan ilmu pengetahuan

Di Indonesia sendiri erat kaitannya dengan pondok pesantren sebagai pusat kajian dan pendidikan umat Islam. Pesantren menjadi lembaga pendidikan yang memiliki akar kuat (indigenous) pada masyarakat muslim khususnya di Indonesia. Dalam perjalanannya, pesantren mampu menjaga dan mempertahankan keberlangsungan dirinya (survival system) serta memiliki sistem pendidikan multiaspek.

Santri tidak hanya dididik menjadi seseorang yang mengerti ilmu agama, tetapi juga mendapat tempaan kepribadian yang alami, kemandirian, kesederhanaan, ketekunan, kebersamaan, kesetaraan, dan sikap positif lainnya.

Itu dibuktikan dengan output pesantren yang mana alumni-alumninya dapat menjadi tokoh yang berpengaruh dalam masyarakat. Golongan santri yang seperti ini dalam kampung halamannya sering disebut dengan julukan “apa aja bisa”. Mengingat pendidikan yang ada dalam pondok pesantren begitu kompleks dan variatif.

Model pondok pesantren yang dulunya hanya dikenal dengan metode salaf dengan hanya mengkaji kitab kuning misalnya, sekarang sudah berkembang jauh. Salah satunya adalah adanya integrasi antara sains dan ilmu agama atau yang disebut dengan “trensains” (pesantren sains).

Baca Juga  'Luput Sembur' Covid-19

Tebuireng Menjawab Tantangan Zaman

Sudah banyak muncul inovasi pondok pesantren yang memadukan antara agama dan sains. Salah satu yang menjadi topik pembahasan kali ini adalah Pesantren Sains Tebuireng atau yang disingkat menjadi Trensains.

Trensains ini diwujudkan dengan hadirnya sekolah tingkat SLTA yang dinamakan SMA Trensains Tebuireng. Secara legal formal model Pendidikan ini diresmikan pada tahun 2014 oleh Kemenag pada saat itu.

Dikutip dari website resmi SMA Trensains Tebuireng, pendirian Trensains ini diprakarsai oleh Dr. (HC). Ir. KH. Salahuddin Wahid (pengasuh Pesantren Tebuireng periode VII) yang bekerja sama dengan Prof. Agus Purwanto, D.Sc., ilmuwan bidang fisika teoretis dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS).

Ide Trensains ini berangkat dari gagasan dan keinginan luhur untuk mencetak generasi yang unggul dalam bidang sains kealaman, yaitu generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sumber epistemologi dalam pengembangan sains. Lembaga ini berusaha untuk menyelaraskan ayat-ayat kawniyah sebagai sumber yang nantinya dibuktikan dengan observasi dan penelitian ilmiah.

Sehingga, firman-firman-Nya dapat terbukti kebenarannya secara ilmiah. Trensains mengambil kekhususan pada pemahaman Al-Qur’an, hadis, dan sains kealaman (natural science) serta interaksinya, yang mana kurikulum ini tidak ada di pesantren modern lainnya.

Secara umum, tujuan penyelenggaraan pendidikan di SMA Trensains Tebuireng adalah untuk meningkatkan kecerdasan, pengetahuan, budi pekerti, akhlak mulia, dan keterampilan untuk hidup mandiri, sehingga peserta didik secara menyeluruh memperoleh pengetahuan dasar yang koheren.

Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan nasional, yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, secara lebih rinci, SMA Trensains Tebuireng mempunyai beberapa tujuan khusus sebagai wadah untuk meningkatkan wawasan siswa melalui pembelajaran yang mendalam, penelitian ilmiah, dan eksperimen ilmiah yang dipadukan dengan keterampilan siswa dalam penerapan bahasa, fisika, kimia, biologi, astronomi, dan lainnya.

Baca Juga  Idul Fitri dan Beragam Sikap Menghadapi Pandemi

Trensains Tebuireng memiliki program keunggulan dengan karakteristik penyajian mata pelajaran bukan hanya dengan pendekatan saintifik saja, melainkan juga mengadakan pembelajaran dengan konsep Social Short Semester.

Program tersebut diberikan dalam bentuk pembelajaran di luar ilmu sains, seperti geografi, ekonomi, sosiologi dan juga kesenian, yang berlangsung selama 3 bulan saja. Hal ini dapat menjadi nilai plus dalam pendidikan trensains karena selain menambah cakrawala keilmuan, para santri juga dibekali dengan ilmu-ilmu sosial.

Keunggulan lain yang tidak ada di trensains lainnya adalah, Trensains Tebuireng menyediakan program matematika camp, stadium general, materi ilmu kedokteran, ilmu sains dan teknik, study observation, my qur’an dan masih banyak lagi.

Kegiatan-kegiatan tersebut adalah wadah untuk eksplorasi para santri untuk mengembangkan kemampuan praktik dan teoretik, sehingga para santri Trensains Tebuireng dapat mengerti secara mendalam tentang teori sains dan pembuktiannya secara empiris.

Interaksi sains dengan agama ingin membuktikan bahwa Allah menciptakan makhluk hidup yang melayani sesamanya dan membentuk sinergi harmonis dan padu. Generasi yang diinginkan oleh trensains adalah para ilmuwan yang memiliki pemahaman dan perspektif yang memadai tentang Al-Qur’an dan dialektikanya dengan ilmu (alam).

Dengan demikian, Pesantren Sains Tebuireng dapat membuktikan bahwa lembaga pendidikan yang tadinya dianggap kolot dan ketinggalan zaman pada akhirnya bisa beradaptasi dengan perubahan zaman.

Selain itu, trensains juga memosisikan diri sebagai lembaga yang juga berhak untuk mencetak generasi-generasi yang ahli dalam sains dan teknologi yang didukung dengan basis keilmuan berupa Al-Qur’an dan hadis.

Maka, eksistensi trensains perlu dikembangkan dan dimasifkan untuk menjadikan umat Islam sebagai umat yang melek berbagai ilmu tanpa harus terjebak pada sifat eksploitatif dan serakah, sehingga akan sesuai dengan corak Islam yang rahmatan lil-‘alamin. [AR]

Hilmy Harits Putra Perdana Mahasiswa dan Santri di Pusat Kajian Filsafat dan Teologi (PKFT) Tulungagung