Muhamad Mustaqim Dosen IAIN Kudus; Managing Editor Qudus International Journal of Islamic Studies [QIJIS]

Quo Vadis Jurnal Islamic Studies di Indonesia

2 min read

Beberapa hari lalu, SCImago Journal Rank (SJR) merilis data tahunan tentang posisi dan peringkat jurnal dari data besar Scopus. Salah satu hal yang cukup menggembirakan adalah jurnal-jurnal kajian keislaman (islamic studies) mampu meraih Quartile 1 (Q1), yang jika ditarik pada level Asia, juga merupakan lima besar rangking teratas.

Hal ini sebenarnya mengimplikasikan dua hal. Pertama, memang jurnal-jurnal kajian keislaman kita itu benar-benar baik secara kualitas. Atau yang kedua, minimnya jurnal kajian keislaman di kawasan Asia, sehingga secara otomatis mampu mengangkat jurnal-jurnal keislaman di Indonesia. Keduanya menurut saya bisa jadi benar. Namun, kecenderungan yang kedua kiranya cukup menjadi perhatian kita bersama.

Di Scopus, kluster atau subjek area tentang Islamic studies sebenarnya tidak disebutkan secara khusus. Yang ada adalah kluster tentang Religious Studies. Kluster ini sebenarnya mencakup segala dan semua kajian agama—dan yang sejenisnya—di dunia. Kluster yang masuk area “Art and Humanities” ini masih sangat minim di kawasan Asia, hanya hanya berjumlah 17 jurnal saja, dari 537 dunia.

Dari 17 Jurnal Asia tersebut, yang secara spesifik mengkaji islam (islamic studies) hampir semuanya adalah jurnal-jurnal dari Indonesia. Sehingga cukup memperihatinkan, hampir tidak ada jurnal Islamic studies di Timur Tengah. Jikalau ada, itupun dari Turki.

Memang tidak bisa melakukan simplifikasi, bahwa dengan tidak adanya jurnal islamic studies berarti tidak ada kajian keislaman. Toh banyak juga jurnal keislaman yang terbit selain di Scopus. Mengapa harus menggunakan parameter Scopus?

Menjawab pertanyaan ini akan sangat panjang dan debat kusir, sebagaimana bunyi protes tentang Scopus di beberapa media sosial. Namun setidaknya, melalui SCImago ini kita bisa melakukan pemetaan, bahwa posisi jurnal dalam data besar Scopus memberi gambaran dan simpulan tentang geliat ilmiah kita di dunia international.

Baca Juga  Bulan Shafar: The Bets Wedding

Indonesia kiblat kajian Keislaman?

Salah satu syarat jurnal itu bisa masuk di database Scopus adalah dengan berbahasa Inggris (minimal judul dan abstrak), serta menggunakan teks latin (roman). Hal ini sudah barang pasti menjadi kendala tersendiri bagi jurnal-jurnal kajian keislaman di Timur Tengah yang notabene berbasis bahasa Arab.

Meskipun hal ini sebenarnya bisa disiasati dengan melakukan transliterasi pada judul, abstrak dan referensi, hal ini yang kiranya digunakan Jurnal Studia Islamika, yang sampai saat ini masih menyediakan artikel berbahasa Arab.

Berikutnya, pengalaman sebagai editor jurnal, banyak tulisan dari beberapa penulis luar negeri khususnya dari Timur Tengah yang jika diukur melalui standar ilmiah jurnal (setidaknya menggunakan standar QIJIS: Qudus International Journal of Islamic Studies), itu masih di bawah rata-rata.

Entah ini kebetulan, atau memang sebuah fenomena, namun secara umum geliat artikel dari dalam negeri sudah sangat melangkah jauh. Bisa jadi karena “rezim Scopus” yang beberapa tahun ini menggejala di dalam negeri, sehingga secara tidak langsung meningkatkan “daya saing” artikel.

Sehingga wajar jika kemudian jurnal-jurnal keislaman kita banyak diserbu para penulis. Pertama, karena memang jurnal kajian keislaman (Scopus) ini masih sangat terbatas. Kedua, jumlah permintaan para akademisi islamic studies yang memang melimpah.

Bisa dibayangkan, para dosen PTKI yang demi karir akademiknya harus menulis di jurnal keislaman, ia akan sangat terkendala jika harus nulis di jurnal berlabel “islamic studies”. Untungnya, kompetensi keahlian di kita masih sangat lentur. Misal, seorang dosen tarbiyah masih tetap bisa menulis di jurnal dengan subjek area pendidikan atau education (umum).

Terlepas dari semua itu, geliat jurnal kajian keislaman di dalam negeri ini kiranya perlu dirayakan. Bukan hanya sekadar kepentingan pragmatis dan birokratis, namun dengan pencapaian prestasi rangking ini, akan semakin berpeluang jurnal kita dibaca oleh banyak orang di dunia. Bukankah prinsip publikasi adalah diseminasi?

Baca Juga  Pluralisme Agama Ala Gus Dur Sebagai Basis Toleransi Beragama

Pula harus digaris tebal, Scopus bukan satu-satunya lembaga indexing. Sebut saja Brill yang malah ada kluster “index Islamicus” secara spesifik. Poinnya, semakin banyak jurnal kita diindeks, akan semakin banyak orang yang membaca hasil riset kita, menggunakanya sebagai rujukan dan akhirnya akan memberi komentar dan bantahan melalui artikel baru. Ini kiranya sebagai geliat iklim akademik yang kita harapkan.

Persoalan peringkat Quartile, sebenarnya itu tidak lebih dari data statistik saja. Kelakar seorang teman, perangkat Quartile SCImago itu tidak lebih seperti berat badan saja, suka naik-turun. Quartile itu setiap tahun akan dihitung. Jika kita mau jeli, sebenarnya capaian tahun sebelumnya itu tidak ada korelasi (tidak dipakai) untuk tahun berikutnya.

Jangan heran, jika tahun ini bisa Q1 tahun berikutnya akan terjun bebas ke Q4. Sebaliknya, tahun kemarin belum masuk SCImago, sekali masuk langsung Q1. Hal ini sesuatu yang sangat wajar. Silahkan lihat pola dan rumus perhitungannya, terpampang secara jelas di website.

Ada lagi, membandingkan jurnal dalam subjek area (kluster) yang berbeda, kiranya tidak relevan. Mislanya ada pertanyaan; Kok bisa jurnal A dengan nilai SJR sekian bisa masuk Q1? Sedangkan jurnal B dengan nilai SJR yang jauh lebih tinggi malah di Q4? Nah, itulah mengapa SCImago menggunakan Quartile (terbagi 4 bagian), untuk memposisikan jurnal dalam bidang atau kluster tertentu.

Setiap kluster mempunyai jumlah anggota yang beda, maka akan berdampak pada posisi quartile masing-masing jurnal. Yang jelas, jurnal dengan kluster “Religious Studies” ini termasuk kluster “langka”, hanya 537 jurnal. Bandingkan dengan kluster “pendidikan” yang berjumlah 1401 jurnal.  Sampai di sini sudah paham kan, mengapa jurnal kajian keislaman kita rangkingnya bagus? [MZ]

Muhamad Mustaqim Dosen IAIN Kudus; Managing Editor Qudus International Journal of Islamic Studies [QIJIS]