Hidayahtul Innayah Mahasiswi Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

KH. Agoes Ali Masyhuri: Kiai Nyentrik Ribuan Umat

2 min read

Foto: www.kastara.ID
Foto: www.kastara.ID

RMungkin publik tidak asing dengan sosok kiai ini, yaitu KH. Agoes Ali Masyhuri atau yang akrab dikenal dengan Gus Ali. Beliau merupakan sosok Kiai berwibawa yang lahir di Desa Kenongo, Kecamatan Tulangan Kabupaten Sidoarjo pada tanggal 3 September 1958. Sebagai putra terakhir dari empat bersaudara, Gus Ali dibesarkan di lingkungan keagamaan yang sangat kental. Melalui tangan dingin kedua orang tuanya, H. Mubin Dasuki dan ibu Nyai Amnah, beliau lantas menjadi pengasuh Pondok Pesantren Bumi Sholawat Sidoarjo, meneruskan perjuangan dakwah kakeknya yang bernama Kiai Muhdhar.

Ketika mengenyam pendidikan di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Ampel Surabaya, Gus Ali bertemu dengan gadis yang saat ini mendampingi hidupnya, yaitu Hj. Qomariyah. Melaui ikatan suci pernikahan, beliau berdua dikaruniai dua belas putra dan putri. Meski hidup dengan cukup sederhana, tetapi hal ini sama sekali tidak mengurangi keseriuasan beliau dalam concern pendidikan putra-putrinya.

Dalam mendidik putra-putrinya, beliau tidak terpaku hanya pada pendidikan agama saja, melainkan juga pendidikan umum lainnya. Hal ini terbukti dengan menyebarnya putra-putrinya di berbagai bidang dan profesi. Mereka tidak hanya terjun dalam dunia pesantren, melainkan aktif berkontribusi dan berperan di bidang ekonomi,bisnis, bahkan politik.

Di mata para santri, sosok Gus Ali dianggap sebagai ayah kedua yang sangat sabar, sehingga beliau kerap dijadikan rujukan dari berbagai masalah yang dihadapi. Sedangkan di mata masyarakat sekitar, Gus Ali dikenal sebagai dai yang santun dan tegas dalam menyampaikan dakwahnya. Terlebih, beliau punya keahlian yang cukup dalam menyampaikan materi ceramah dengan cerita humor dan lucu. Selain itu, sosoknya juga dikenal ramah dan selalu memperhatikan warga sekitar.

Dari sembilan orang menjadi ribuan orang

Baca Juga  Ali Abdul Raziq Ulama Mesir yang Menolak Sistem Khilafah

Dalam menyiarkan Islam, Gus Ali memulainya dari sebuah Langgar yang kecil di dekat rumahnya di desa Kenongo, Sidoarjo. Pada tahun 1982, hanya sembilan orang yang menjadi santri Gus Ali. Para santri tersebut datang dari berbagai kota seperti Bojonegoro dan Blora. Beliau merasa heran bagaimana para santri tersebut mengetahui ada sebuah aktivitas pembelajaran di sebuah Langgar kecil di desanya. Padahal beliau merasa tidak pernah sama sekali menyebarkan brosur atau sejenisnya.

Bermula dari langgar kecil inilah cikal bakal Pondok Pesantren Progresif Bumi Sholawat dengan ribuan santri dan jemaah seperti saat ini. Santri yang awalnya hanya sembilan orang, seiring berjalannya waktu terus bertambah. Tercatat pada tahun 1988 sampai 1990, jumlah santrinya mencapai 150 orang. Meskipun sempat menurun di tahun 1998, tetapi gairah dan minat para santri untuk datang dan ngangsuh kawuruh tidak dapat dibendung.

Karena semakin banyaknya santri yang belajar di pesanten, maka pada tahun 2010, Gus Ali mendirikan SMP dan SMA Progresif Bumi Shalawat di Lebo. Kemudian, pesantren yang di Tulangan diubah oleh menjadi full day school dengan sistem yang lebih modern. Butuh waktu kurang lebih 30 menit untuk sampai di Pesantren ini dengan melewati gang-gang sempit di tengah area perkampungan.

Nggak Update, Bakal Kudet

Dalam menyiarkan Islam, Gus Ali tidak hanya menggunakan ceramah bi al-lisān, melainkan juga menulis buku agar bisa dijangkau oleh jemaah yang tidak bisa datang ke pesantren. Salah satu bukunya yaitu Suara Dari Langit. Buku ini ditulis dengan bahasa yang sederhana sehingga mudah untuk dicerna oleh khalayak umum.

Dalam menyampaikan dakwahnya, Gus Ali selalu menggunakan bahasa sederhana sehingga mudah dipahami oleh semua kalangan, baik akademisi maupun mereka yang masih awam. Beliau sangat lihai mengaitkan tema ceramahnya dengan konteks kekinian sehingga selalu ada penyegaran dalam setiap ceramah yang disampaikan. Maka dengan menyimak dan mengikuti ceramahnya, dapat dipastikan kita nggak bakal kudet dari isu-isu kekinian.

Baca Juga  Alissa Wahid: Fokus dengan Dunia Pendidikan dan Kebudayaan

Baginya, penyampaian materi ceramah haruslah sesuai dengan horizon dan konteks kehidupan. Lebih dari itu, ceramah harus menjangkau fenomena yang sedang terjadi di tengah masyarakat. Dengan bekal aktualitas serta kualitas, maka sudah dipastikan banyak jemaah yang hadir untuk megikuti pengajian rutinnya. Bahkan, tidak sedikit jemaah yang berasal dari berbagai daerah.

Dapat dipastikan, setiap senin malam selasa pesantrennya tidak pernah sepi dari ribuan jemaah yang datang dari berbagai daerah untuk mendengarkan ceramahnya. Mulai dari anak-anak, remaja, orang tua, bahkan pejabat dan pengusaha pun membaur menjadi satu. Mereka duduk bersila, berhempitan di gang-gang dan rumah warga sekitar tanpa memandang perbedaan status sosial,

Melihat banyaknya jemaah, hal ini dimanfaatkan Gus Ali untuk membantu meningkatkan perekonomian UKM-UKM dan pedagang kaki lima. Bahkan Gus Ali melakukan pendampingan, bantuan modal, hingga pemasaran produk. Bagi Gus Ali, dakwah itu harus khayr al-nās anfa’uhum li al-nās, di mana sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi yang lainnya.

Belajarlah kepada Lebah dan Lalat

Selain Suara Dari Langit, Gus Ali menulis buku yang berjudul Belajarlah Kepada Lebah dan Lalat. Melalui buku ini Gus Ali menyampaikan nasihat-nasihat tentang kehidupan manusia yang perlu belajar dari kehidupan lebah dan lalat. Bagi Gus Ali, dalam menjalani hidup, manusia sejatinya tidak hanya mencari kebahagiaan dunia, melainkan juga bagaimana mencari kebaikan di dunia dan akhirat.

Terdapat beberapa aspek kehidupan yang ingin disampaikan Gus Ali melalui buku ini, yaitu aspek akidah, akhlak, dan syariah. Pada masing-masing aspek tersebut dicontohkan dengan kehidupan lalat dan lebah. Harapannya, agar manusia bisa mendapatkan hikmah dari kehidupan lalat dan lebah.

Alhasil, dengan mulai memikirkan lebah dan lalat selanjutnya kita akan dapat memaknai kehidupan ini. Menjadi kiai ribuan umat setidaknya bisa dimulai dari hal terkecil ini, percayalah! [HM, MZ]

Hidayahtul Innayah Mahasiswi Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *