Hikmatullah Sujana Alumni Universitas Al-Azhar, sekarang bekerja sebagai local staff di KBRI Kairo

Ramadan Menyatukan Kita: Kisah Puasa dari Kairo

2 min read

Ramadān yajma’nā. Ramadan menyatukan kita. Begitulah bunyi slogan salah satu saluran televisi terkenal di Arab.

Ramadan adalah momentum yang selalu dinanti di setiap negeri berpenduduk mayoritas Muslim. Banyak hal yang menjadikan bulan Ramadan sebagai “pemersatu”. Di antara yang paling nyata adalah berkumpulnya anggota keluarga untuk bersama-sama menyantap hidangan sahur dan berbuka puasa. Suasana menyatu itu semakin terasa pada masa pandemi covid-19 ini, karena bukan hanya saat sahur dan berbuka, tetapi hampir sepanjang siang dan malam seluruh anggota keluarga menghabiskan waktunya di rumah.

Tidak ada kegiatan di luar rumah. Hal itu terjadi sejak pemerintah Mesir meliburkan kegiatan belajar di seluruh sekolah dan universitas mulai pertengahan Maret 2020. Secara otomatis, anak-anak selalu berada di rumah sepanjang hari. Dalam rangka upaya pencegahan penyebaran kasus covid-19, pemerintah Mesir juga memberlakukan jam malam sejak 25 Maret 2020. Pusat perbelanjaan tidak boleh beroperasi pada akhir pekan. Seluruh restoran dan kafe, masjid serta musalla harus tutup tanpa pengecualian, sekalipun untuk pelaksanaan salat Jumat. Pelayanan publik juga diliburkan, kecuali untuk yang berkaitan dengan urusan kesehatan.

Suasana seperti itu berlanjut hingga Ramadan tiba. Tidak banyak yang berubah dari kebijakan pemerintah Mesir, kecuali mengurangi durasi jam malam menjadi mulai dari jam 9 malam sampai jam 6 pagi dan mengizinkan pusat-pusat perbelanjaan untuk buka pada akhir pekan. Tidak ada kegiatan masif, seperti salat tarawih berjamaah yang biasa dilakukan di Ramadan sebelumnya.

Kondisi seperti itu membuka kenangan bagaimana saya menjalani Ramadan di Kairo pada tahun-tahun sebelumnya.

Saya mengalami Ramadan pertama kali di Kairo pada tahun 2000. Saat itu, saya adalah mahasiswa baru di Universitas Al-Azhar. Satu hal yang paling saya ingat dari Ramadan pertama adalah porsi hidangan buka puasa yang mencengangkan bagi saya, orang Indonesia.

Baca Juga  Alif dan Mim (1): Sebuah Roman

“Ya Allah… Banyak sekali porsi makanannya!” gumam saya melihat potongan daging setengah ekor ayam untuk satu orangnya saat berbuka puasa. Ditambah lagi sayur, buah-buahan, dan minuman pengiring menu utama. Hampir setiap hari hidangan berbuka puasa seperti ini diperoleh secara cuma-cuma selama bulan Ramadan.

Berlimpahnya makanan untuk berbuka puasa merupakan tradisi masyarakat Mesir di setiap bulan Ramadan. Hal itu dilakukan dengan semangat berlomba-lomba mendapatkan keutamaan pahala memberikan makanan kepada orang berpuasa. Makanan ini ada yang dikirim langsung ke rumah-rumah mahasiswa asing dari luar Mesir, ada juga yang di masjid, di rumah para dermawan, bahkan di pinggir-pinggir jalan. Orang-orang berlomba memberikan sedekah berbuka.

Hidangan buka puasa itu dikenal dengan istilah mā’idaturrahmān, hidangan dari Yang Mahapemurah. Selain menyediakan makanan untuk berbuka puasa, mā’idaturrahmān juga menampilkan hiasan khas Ramadan, berupa tenda penuh hiasan berwarna dengan dominasi warna merah marun.

Masjid Indonesia Cairo yang terletak di kawasan Doki, Kairo, juga menyediakan mā’idaturrahmān untuk WNI atau warga Mesir yang ingin merasakan menu Indonesia. Buka bersama biasanya dilanjutkan dengan salat tarawih berjamaah serta ceramah agama oleh para mahasiswa Indonesia di sana. Rangkaian kegiatan itu biasanya ditutup dengan acara ramah tamah yang diiringi makanan ringan kuliner khas Indonesia.

Salat tarawih di Kairo biasanya dilaksanakan 11 rakaat (8 tarawih +3 witir), tapi ada juga masjid yang melaksanakan 23 rakaat. Bacaan Alquran dalam tarawih biasanya 1 juz tiap malamnya, tapi ada juga yang membaca 3 juz dalam semalam. Bacaan Alquran para imam tarawih sangat variatif, tidak hanya riwayat Imam Hafsh dari Imam Ashim yang biasa dikenal di Indonesia.

Selain mā’idaturrahmān, ada beberapa tradisi khas Mesir yang identik dengan dan hanya terjadi di bulan Ramadan. Antara lain fanous, qatayef, dan musahharaty. Fanous adalah sejenis lentera atau lampion yang konon sudah menjadi tradisi menyambut Ramadan sejak masa Dinasti Fatimiyah di Mesir. Tradisi ini telah menyebar menjadi ikon Ramadan di beberapa negara sekitar Mesir.

Baca Juga  Jalan Pemikiran Muhyiddin Ibnu Arabi (2)

Qatayef adalah kue yang mirip bentuk dasarnya dengan serabi. Kue yang hanya muncul di Ramadan ini merupakan menu makanan penutup (manisan) yang dibentuk setengah bulatan seperti bulan sabit dengan filling kacang-kacangan, parutan kelapa berkaramel, atau bahan lain sesuai selera.

Sementara musahharaty adalah kegiatan warga setempat yang secara sukarela membangunkan warga untuk bersahur. Biasanya, musahharaty mulai berkeliling dengan menabuh tablah (gendang) dan bersahut. Mereka meneriakkan kalimat isha ya nayem! wahhididdaayem! (bangunlah wahai orang yang sedang tidur! Sebutlah Tuhanmu Yang Mahaesa!), untuk membangunkan warga sekitar dua jam sebelum azan Subuh berkumandang.

Meski dalam kondisi pandemi covid-19, fanous, qatayef, dan musahharaty masih bisa ditemukan di bulan Ramadan kali ini.

Hikmatullah Sujana Alumni Universitas Al-Azhar, sekarang bekerja sebagai local staff di KBRI Kairo

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *