Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Covid-19 Menyadarkan Cinta Kasih Seorang Istri

1 min read

young muslim woman praying for Allah, muslim God

Lima minggu lebih Covid-19 melanda negeri. Bukan sebentar bagiku yang bukan orang rumahan. Normalnya, pagi buta berangkat, pulang menjelang maghrib. Macet-macetan di jalan, tak sedikit makan di warungan. Begitulah, nasib pegawai negeri level anyaran.

Kebetulan, aku bukanlah karakter yang suka ketidakteraturan. Pergi-pulang biasanya tertib aman. Tak ada alat tulis berserakan. Tak kutemukan pula pakaian berterbangan. Semua terlihat rapi dan sopan.

Tapi tidak dengan sore-sore ini..!

Banyak yang bilang senja adalah waktu yang tepat untuk bertafakur. Tidak baik waktu seperti ini mendengkur. Bisa-bisa gila atau minimal sakit tersungkur.

“Ara, jangan lari-lari gitu ah.. hati-hati” lengking suara istri mengingatkan. Suaranya tetap halus, terlempar dari jiwa yang tulus. Terlihat Ara berusaha keras menghindar dari kejaran. “ini loh bu, Aza nakal”. “Enggak bu, Ara tuh yang duluan”. Suara anak-nak bersahutan. Mereka burdua masih asyik saja bermain. Riyuh sekali khas anak usia 4-5 tahunan. Wajar saja ruang depan televisi berantakan.

Belum juga berhasil. “Azzam, mandi sana udah sore, bentar lagi azan”. “Bentar bu,, kurang dikit nih”. Jawabnya. Anakku yang pertama ini suka kesenian. Dari kecil buku gambar selalu di tangan. Yah, meskipun cuma juara se-kecamatan.

“Bu, tempenya gosong”. Jerit Aliya, menyambar. Satu-satunya puteriku saat ini. Anak kedua yang kebetulan terlahir tepat awal bulan Juni. Bulan romantis bagi seniman idola, Sapardi.

Lekas saja istri meninggalkan pakaian yang menggunung. Tergopoh ia berlari, hingga tersandung berkali-kali. Tepung pun diterjang, berhamburan, “Mas..mas… Tolongin dong”. Sontak aku berlarian.

Peristiwa semacam ini mulai akrab denganku. Istriku tamatan Sastra, sedangkan aku anak sejarah. Meski kita sama-sama lulusan Kairo, ia tidak terlalu mendamba Cleopatra. Cerita kesukaannya, Mahabarata. Tak ada nama spesial baginya, cukup Awindya, nama Jawa pemberian Ayahnya.

Baca Juga  Luqman Al-Hakim dan Ajaran Kebijaksanaan dalam Alquran

Sepuluh tahun menikah, salah satu yang kuingat adalah momen sebelum malam pertama. Tepat satu jam sebelum kita memejamkan mata. “Sakniki kulo garwo jenengan, mas”- santai kata-katanya. Pelan-pelan kupahami, waktu itu belum sesering sekarang ke Surabaya. “Garwo iku opo?” tanyaku medok khas Madura. “Garwo itu pasangan mas kalau dalam bahasa Indonesia.” ia mulai menerangkan. “Lah bedanya sama bojo apa? Setahuku yah bojo.” Tanyaku penasaran. Nah itu mas, meskipun pemakaiannya dianggap sama, sebenarnya berbeda. “Garwo itu sigare nyowo artinya separuh nyawa.

Bagi orang Jawa, suami-istri seperti itu. Makanya tidak sepenuhnya tepat juga diartikan pasangan. Pasangan bisa diganti, kalau separuh nyawa yah mati. Keharmonisan adalah salah satu perinsip di Jawa mas. Saya sama mas nggak harus sama. Kita boleh berbeda, tapi perbedaan ini harus menghasilkan suara dan nada. Bukan malah menimbulkan kacau dan petaka.” Detail istri menjelaskan.

Sambil menyeka keringat, kini semakin kusadari, “Tenyata aku telah punya satu istri, dan masih empat orang anak”. [MZ]

Hasan Mahfudh Santri PP Qomaruddin Gresik, editor Jurnal Mutawatir. Dapat disapa melalui twitter @mahfudhsahin

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *