Hairus Salim Budayawan; Ketua Yayasan LKiS Yogyakarta; Aktivis Jaringan GUSDURian Indonesia

Negatif adalah Positif

43 sec read

Positif mungkin kata yang paling paradoks sekarang ini. Ia sebenarnya artinya baik. Berpikirlah positif, kata orang bijak.

Tapi positif hari-hari ini bagi banyak orang justru maknanya sangat buruk. Tak ada orang yang mau dikatakan positif. Orang yang positif berarti harus dihindari, dikarantina, dan diisolasi. Sebaliknya negatif justru artinya baik dan diharapkan banyak orang.

Kata-kata memang unik. Bikin realitas bisa beda dan jungkir balik. Juga rumit. Karena maknanya yang licin. Jangan-jangan kata seperti ini yang dikhawatirkan penyair Soebagio Sastrowardoyo beberapa tahun silam.

Kata

Asal mula adalah kata
Jagat tersusun dari kata
Di balik itu hanya
ruang kosong dan angin pagi

Kita takut kepada momok karena kata
Kita cinta kepada bumi karena kata
Kita percaya kepada Tuhan karena kata
Nasib terperangkap dalam kata

Karena itu aku
bersembunyi di belakang kata
Dan menenggelamkan
diri tanpa sisa

Demikianlah. Asal mula adalah kedua kata itu. Kedua kata itu telah mengubah realitas dunia. Kedua kata itu telah menggeser tatanan. Bukan hanya yang nyata, tapi juga yang abstrak. Perasaan ‘takut’, ‘cinta’ dan bahkan ‘kepercayaan’ kita sekarang didasarkan, dibangun, dikembangkan, dijalankan sekaligus juga dipermainkan oleh kedua kata ini. Kita tak bisa mengatakan omong kosong dan lalu lari serta sembunyi darinya.

Mari menjadi negatif dengan positif dalam pikiran dan tindakan!

Baca Juga  Ketika Ibnu Arabi Mabuk Cinta, Yang Dirindu Hanya Dia
Hairus Salim Budayawan; Ketua Yayasan LKiS Yogyakarta; Aktivis Jaringan GUSDURian Indonesia