Mastuki Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal [BPJPH] Kementerian Agama RI; Dosen Islam Nusantara Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Merawat Peradaban, Merawat Akal Sehat [1]

7 min read

Saat berkunjung ke Turki tiga tahun silam, saya terpesona dengan jejak peradaban (atsar al-hadārah) Istanbul yang pernah menjadi ibukota pemerintahan Turki Utsmani atau Khilafah Utsmaniyah. Khazanah agung hasil peradaban manusia lintas zaman: Kekaisaran Roma Byzantium, Konstantinopel, kemudian beralih ke Ottoman Empire hingga Turki modern. Sisa-sisa kejayaan dan kebudayaan itu masih utuh dan dapat disaksikan oleh generasi hari ini. Aya Sofia atau Hagia Sophia (Kebijaksanaan Suci) adalah bukti autentik bagaimana peradaban yang silih berganti tetap mempertahankan autentisitas peradaban pendahulunya.

Kaisar Byzantine menginisiasi pembangunan Hagia Sophia tahun 532-537. Awalnya bangunan itu didedikasikan sebagai katedral Ortodoks dan tempat kedudukan Patriark Ekumenis Konstantinopel, kecuali pada tahun 1204 sampai 1261 ketika tempat ini diubah oleh Pasukan Salib Keempat menjadi Katedral Katolik Roma di bawah Kekaisaran Latin Konstantinopel. Meskipun pernah berubah fungsi dari gereja menjadi masjid (pada masa Sultan Mahmud II, Khalifah Utsmaniyah, 1453) lalu oleh Presiden Mustafa Kemal Attaturk dijadikan museum (1935), keaslian arsitektural Aya Sofia tetap terjaga hingga kini meski bagian-bagian tertentu mengalami kerusakan alamiah.

Di sebelah Aya Sofia yang kini menjadi magnet pariwisata Turki, ada Blue Mosque atau dikenal sebagai Masjid Sultan Ahmed (bahasa Turki: Sultanahmet Camii) yang tak kalah indahnya dan menarik minat wisatawan. Dibangun antara tahun 1609 hingga 1616, masjid ini merupakan perpaduan arsitektural Islam dan Ottoman klasik, dengan dominasi warna biru, sehinga terkenal namanya: Masjid Biru.

Ada yang berpendapat Masjid Biru ini dibangun Sultan Ahmed I untuk menandingi Hagia Sophia. Namun saya berpendapat motivasi Sultan Ahmed membangun Masjid Biru lebih karena terinspirasi oleh arsitektur Hagia Sophia yang menakjubkan. Kelak masjid yang gagah nan megah ini menjelma manjadi maskot kota Istanbul sebagai jejak dan simbol kejayaan Islam melalui Khilafah Utsmaniyah. Lokasinya yang strategis, di tepian laut Marmara, kubah dan menara masjid mendominasi cakrawala kota Istanbul, apalagi dinikmati kala mendekati senja.

Selain Blue Mosque, Istanbul memiliki Topkapi Palace yang berada di pinggir pantai Selat Bosphorus. Istana megah yang kini menjadi museum itu dibangun oleh Sultan Mehmed II tahun 1459 dan menjadi tempat tinggal Sultan Ottoman kurang lebih 600 tahun (1465-1856). Kompleks istana terdiri dari empat lapangan utama dengan total luas sekitar 700.000 meter persegi dan dikelilingi benteng sepanjang 5 kilometer, plus bangunan-bangunan kecil di sekelilingnya. Konon istana itu pernah dihuni tak kurang 4.000 orang dan menjadi tempat tinggal raja-raja, tempat diselenggarakannya acara-acara kenegaraan, dan tempat hiburan pada era keemasan Utsmani.

Menyebut Topkapi Palace bukan saja karena ia sebagai istana terluas kedua di dunia setelah Istana Versailles di Perancis. Topkapi Palace juga dinobatkan sebagai situs warisan dunia UNESCO. Kompleks istana yang amat luas, sekarang menjadi paket destinasi wisata Turki yang paling banyak dikunjungi wisatawan mancanegara. Untuk mendapat gambaran sekilas kondisi di dalamnya, coba perhatikan reportase Detik.com yang pernah menjelajahi situs ini:

Untuk masuk Istana Topkapi Anda harus antre di gerbang pertama yang cukup panjang. Di gerbang pertama ini baru pengecekan tiket. Selanjutnya di gerbang kedua, barang bawaan anda akan dicek sinar x ray. Penjagaan di Istana Topkapi memang masih sangat kuat, seolah masih ada raja di dalamnya. Pasukan bersenjata lengkap berdiri gagah berpasangan di tiap pintu istana.

Setelah pintu kedua, wisatawan memasuki jalan panjang setapak selebar 4 meter. Bunga tulip warna-warni merah, putih, ungu, menghampar cantik di kanan-kiri setapak, banyak wisatawan mengabadikan foto di sini, dengan latar belakang Hagia Sophia.

Istana Topkapi memiliki beberapa bangunan mengelilingi lapangan istana dan kebun, seperti gudang senjata, ruang harta, ruang makan, harem, kamar Sultan dan menara penjaga. Ada ruangan dengan antrean sangat panjang. Di ruangan inilah sacred relics yang merupakan barang-barang peninggalan Rasulullah SAW, keluarga, dan sahabatnya disimpan di Hirkai Serif Odasi (Chamber of the Holy Mantle). Benda bersejarah tersebut disimpan oleh Sultan Mehmet pada tahun 1517 silam.

Begitu masuk ruangan, sejumlah pedang milik para sahabat Nabi Muhammad dipajang. Agak ke dalam ruangan pertama, Anda bisa menyaksikan talang emas, pintu Kabah, gembok Kabah, dan tempat penutup sudut Hajar Aswad di Kabah. Di ruangan lain ada peninggalan Rasulullah SAW seperti gigi, jenggot, jubah, pedang, dan jejak telapak kaki Rasulullah yang dipahat di batu. Tak hanya itu, ada juga pedang nabi Daud dan pedang para sahabat (Umar bin Khatab, Ali bin Abi Thalib, dan Ustman bin Affan) dan baju-baju kekhalifahan. Ada pula tongkat Nabi Musa yang digunakan untuk membelah laut.

Peradaban Nusantara Yang Hilang

Baca Juga  Tradisi Baru Intelektual muslim Era Covid-19, Belajar dari Tadarus Litapdimas Kemenag RI

Saya bukan sedang nostalgia Istanbul, tetapi sedang membayangkan dan membandingkan peradaban Indonesia atau Nusantara zaman dulu. Negeri di bawah angin yang kondang sebagai pusat peradaban tertua dunia ini—seperti halnya Mesir dan Turki, Bizantium dan Persia, Abbasiyah dan Umayyah, India dan Cina—memiliki khazanah peradaban adiluhung, tak kalah dengan pusat-pusat peradaban zaman lampau. Meski harus disadari tak mudah menemukan jejak-jejak peradaban lama itu hattā dalam bentuk prasasti/monumen atau artefak kebudayaan yang dapat disaksikan generasi masa kini.

Kerajaan maritim Sriwijaya dan Majapahit kurang apa hebatnya. Negeri ini pernah berkuasa selama 800-an tahun dan sangat disegani oleh kerajaan dunia yang ada pada kurun 700 sampai 1500 M. Disusul kemudian kerajaan Islam Pasai, Malaka, dan Aceh Darussalam yang menguasai perdagangan laut sepanjang Nusantara hingga mancanegara. Belum lagi kerajaan Demak, Mataram, Banten, Cirebon, Makassar, Bima, Bone, Ternate, Tidore, Banjar, Kutai Kertanegara, dan seterusnya. Puluhan kerajaan besar datang silih berganti di wilayah Nusantara sampai akhirnya menjelma menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tapi mana sisa-sisa kejayaan itu? Apa buktinya?

Kerajaan Sriwijaya (orang Tionghoa menyebutnya Shih-li-fo-shihSan-fo-tsi atau San Fo Qi. Dalam bahasa Sanskerta dan bahasa Pali disebut Yavadesh dan Javadeh. Bangsa Arab menyebutnya Zabaj) disebut-sebut sebagai kerajaan besar yang pernah ada. Tak hanya menguasai Nusantara, pada masanya kerajaan bahari itu menguasai Asia Tenggara dan Selat Malaka. Sayangnya, hingga saat ini belum diketahui dimana pusat kerajaan besar itu. Para peneliti berbeda pendapat mengenai lokasi persis kerajaan Sriwijaya, di Palembang kah atau Muara Jambi ataukah Muara Takus di Riau.

Ada sejumlah bukti berupa artefak atau epigrafi seperti prasasti Ligor yang ditemukan di Thailand; Palas Pasemah di Lampung; prasasti Kedukan Bukit di Kelurahan 35 Ilir, Kecamatan Ilir Barat II Palembang; Prasasti Kota Kapur ditemukan di pesisir Pulau Bangka sebelah barat; atau Prasasti Telaga yang ditemukan di sekitar kolam Kecamatan Ilir Timur Kota Palembang.

Catatan pengelana mengabarkan keberadaan kerajaan Sriwijaya ini berasal dari abad ke-7. Seorang pendeta Tiongkok dari Dinasti Ming, I-Tsing menulis bahwa ia mengunjungi Sriwijaya tahun 671 dan tinggal selama 6 bulan. Tapi bagaimana bentuk kerajaan Sriwijaya yang hebat itu, bagaimana arsitektur keratonnya, seperti apa sistem sosialnya. Tak banyak informasi yang sampai ke kita, blank alias mengalami kekosongan informasi. Lalu apa yang bisa kita banggakan dari jejak peradaban besar yang konon memiliki perguruan Nalanda yang masyhur dan para duta muslim masa kekhilafahan Islam pernah menginjakkan kaki di kerajaan ini?

Baca Juga  Musafir Boleh Tidak Berpuasa, Dengan Syarat dan Ketentuan Tertentu

Kemaharajaan Majapahit (Jawa: Nagari Karajan Mɔjɔpait, Sanskerta: Wilwatikta) pun tak luput dari missing link sejarah itu. Siapa yang tak tahu kehebatan Majapahit? Tampil sebagai kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai kerajaan terbesar dalam sejarah Indonesia. Tapi siapa sangka situs Trowulan di Mojokerto yang dipercaya kawasan berdirinya struktur-struktur besar (candi, makam, dan kolam) sisa kerajaan Majapahit kini terpotong oleh jalan negara yang menghubungkan kota Jombang dan Surabaya. Padahal siapa yang tak tahu kisah patriotik Mahapatih Gajah Mada dengan Sumpah Palapa-nya yang berhasil menyatukan Nusantara.

Sejarah mencatat kekuasaan Majapahit terbentang dari Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, Tumasik (Singapura), Kalimantan, Sulawesi, kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, hingga Papua. Hubungan diplomatiknya sangat luas hingga Tiongkok, Thailand, Campa, Kamboja, Siam, Birma, dan Philipina. Namun kebesaran ilustratif itu tak sebanding dengan bukti-bukti arkeologis yang bisa dirujuk dan menunjuk sisa-sisa kebesaran Majapahit. Sejarah tentang Majapahit banyak yang tidak jelas. Sumber utama yang digunakan para sejarawan misalnya Pararaton (Kitab Raja-Raja) dalam bahasa Kawi dan Kakawin Nagarakertagama dalam bahasa Jawa Kuno masih diragukan akurasinya. Sumber-sumber dalam naskah tersebut tak dapat disangkal memuat unsur non-historis dan mitos, meski tak dipungkiri ada data-data penting yang dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya. (Kakawin Nagarakretagama diakui sebagai bagian dalam Daftar Ingatan Dunia [Memory of the World Programme] oleh UNESCO pada tahun 2008.)

Para ahli terus berjibaku merekonstruksi sejarah Majapahit berdasar beberapa artefak, prasasti dalam bahasa Jawa Kuno maupun temuan dan catatan sejarah dari Tiongkok dan negara-negara lain. Kita berhutang budi pada usaha Sir Thomas Stamford Raffles, Gubernur Jenderal Jawa yang menemukan bekas reruntuhan kota kuno di Trowulan antara 1811 sampai 1816. Minatnya pada benda-benda arkeologis mengantarkannya pada usaha merekonstruksi keberadaan reruntuhan candi yang tersebar pada kawasan seluas beberapa mil. Sayangnya, saat itu kawasan Trowulan ditumbuhi hutan jati yang lebat sehingga tidak memungkinkan untuk melakukan survei yang lebih terperinci.

Baru pada tanggal 24 April 1924, R.A.A. Kromodjojo Adinegoro, Bupati Mojokerto saat itu, bekerjasama dengan Ir. Henry Mcline Pont, arsitek berkebangsaan Belanda mendirikan Oudheeidkundhige Vereeneging Majapahit (OVM), suatu perkumpulan yang bertujuan meneliti peninggalan Majapahit. OVM menempati sebuah rumah di situs Trowulan untuk menyimpan artefak-artefak yang diperoleh baik melalui penggalian, survey maupun penemuan secara tak sengaja. Mengingat banyaknya artefak yang layak untuk dipamerkan, maka direncanakan pembangunan museum yang baru terealisasi tahun 1926 dan dikenal dengan nama Museum Majapahit, sebelum di-declare sebagai Museum Trowulan.

Setelah lama vakum, museum baru secara resmi dibuka tahun 1987 di bawah otorisasi Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto wilayah kerja Provinsi Jawa Timur. Bangunan museum ini mencakup lahan seluas 57.625 meter persegi, menampung aneka koleksi barang-barang kuno peninggalan Majapahit. Ada koleksi tanah liat berupa terakota manusia, alat-alat produksi, alat-alat rumah tangga, dan arsitektur. Juga koleksi keramik yang berasal dari Cina, Thailand, dan Vietnam dalam bentuknya guci, teko, piring, mangkuk, sendok dan vas bunga. Tak kalah uniknya adalah koleksi benda cagar budaya berbahan logam seperti mata uang kuno, alat-alat upacara seperti bokor, pedan, lampu, cermin, guci dan genta, dan koleksi alat musik. Koleksi lain berbahan batu seperti miniatur dan komponen candi, arca, relief, dan prasasti.

Baca Juga  DI WADAS

Ya, Museum Trowulan berhasil merekonstruksi ingatan dan memori masa lalu menjadi lebih dekat dan nyata di masa kini. Terlebih bagi generasi yang mendamba kebesaran sejarah bangsanya. Imajinasi akan kebesaran Majapahit yang kerap dijadikan simbol dan atribut kenegaraan Indonesia modern mendapat justifikasi meski hanya dengan melihat bekas dan jejaknya di museum berupa benda-benda mati.

Saya berimajinasi seandainya Museum Trowulan dikelola secara profesional seperti halnya museum Topkapi di Turki. Atau Museum Napoleon (Musée de l’Armée sekarang merumahkan Makam Napoleon dan museum Angkatan Darat Perancis) di Paris yang menjadi pusat studi dan penelitian, selain destinasi wisata, lengkap dengan segala bentuk kekayaan budaya seperti alat perang, meriam, senjata, pedang, benda pusaka, foto, kerajinan, dan pernak-pernik yang dikaitkan dengan masa kejayaan Perancis di era Napoleon.

Ada lagi Museum Louvre yang awalnya merupakan istana (Palais de Louvre) dibangun tahun 1190, berisi lebih dari 380 ribu objek pameran dan memajang lebih dari 35 ribu karya seni sejak prasejarah hingga kini. Kalau saja segala hal yang berkaitan dengan Mahapatih Gajah Mada dan Raja Hayam Wuruk (yang dianggap masa kejayaan Majapahit) masih ada hingga kini dan terawat di museum, alangkah makmurnya Pemda Mojokerto mendapat kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara setiap saat dengan berbagai keperluan: wisata, studi, edukasi, dokumentasi dan penelitian, konservasi dan preservasi.

Gambaran kerajaan Majapahit yang jauh di pedalaman Trowulan lalu tapi tampil menjadi negara maritim yang ditakuti lawan maupun kawan sepanjang abad 13M sampai 15M dapat divisualisasikan dengan peralatan teknologi canggih. Bangunan istananya seperti digambarkan oleh Langit Kresna Hariadi dalam serial novelnya tentang Gajah Mada adalah istana tercanggih saat itu. Pilar-pilar kayunya diukir dengan detil oleh seniman ternama. Memiliki pintu gerbang di beberapa penjuru dengan nama Lawang Sewu, Bajang Ratu, Wringin Lawang yang menggambarkan kewibawaan dan kemajuan.

Kolam Segaran yang berada di dalam istana merupakan kolam besar berbentuk persegi panjang dengan ukuran 800 x 500 meter persegi. Nama ‘Segaran’ berasal dari bahasa Jawa segara yang berarti ‘laut’ atau sebagai miniatur laut. Tembok dan tanggul bata merah mengelilingi kolam yang sekaligus memberi bentuk pada kolam tersebut. Saat ditemukan oleh Henry Maclaine Pont pada tahun 1926, struktur tanggul dan tembok bata merah tertimbun tanah dan lumpur. Beberapa candi juga ditemukan tidak jauh dari istana Majapahit, selain bentuk pemukiman yang sudah menggunakan fondasi batu bata yang ditata berundak.

Candi-candi Majapahit yang berkualitas baik secara geometris memanfaatkan getah tumbuhan merambat dan gula merah sebagai perekat batu bata. Sumber Italia yang berasal dari catatan perjalanan Mattiussi, seorang pendeta Ordo Fransiskan dalam bukunya: “Perjalanan Pendeta Odorico da Pordenone” menyebutkan,

“…Istana raja Jawa sangat mewah dan mengagumkan, penuh bersepuh emas dan perak… Karena sangat besar, tangga dan bagian dalam ruangannya berlapis emas dan perak, bahkan atapnya pun bersepuh emas. Kini Khan Agung dari China beberapa kali berperang melawan raja ini; akan tetapi selalu gagal dan raja ini selalu berhasil mengalahkannya.” (Ritual Networks and Royal Power in Majaphit Java, Persee, 1996)

Bukankah bukti-bukti itu semua bisa disetarakan dengan istana Napoleon Bonaparte di Perancis, istana Topkapi di Turki, Tajmahal warisan kekhalifahan Mughal, istana Firaun di Mesir, atau istana Buckingham Inggris. [MZ]

 

Bersambung

Mastuki Kepala Pusat Registrasi dan Sertifikasi Halal, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal [BPJPH] Kementerian Agama RI; Dosen Islam Nusantara Pascasarjana UNUSIA Jakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *