Iffah Muzammil Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengasuh PP. Asshomadiyah Burneh Bangkalan Madura

Macam-Macam Kelompok yang Mendapat Keringanan Berpuasa (1)

2 min read

Puasa Ramadan merupakan kewajiban agama yang bersifat pasti, yang tidak diperselisihkan (ma’lum min al-din bi al-darurah), sebagaimana kewajiban salat, haji, dan zakat. Mengingkari kewajiban ini menyebabkan pelakunya dikategorikan murtad. Menurut catatan Sayid Sabiq dalam kitab Fiqh al-Sunnah, kewajiban puasa ‘resmi ditetapkan’ pada tahun ke-dua hijrah dan dibebankan kepada muslim yang baligh, berakal, sehat, suci dari haid dan nifas bagi wanita, serta muqim (tidak sedang melakukan perjalanan).

Orang sakit dan musafir, disebutkan secara tegas oleh nash al-Qur’an dan hadis Nabi sebagai kelompok yang mendapat ‘fasilitas’ iftar (tidak berpuasa). Bagaimana dengan orang hamil dan menyusui ? Apakah juga dinilai sebagai ‘uzur sehingga dapat ‘menikmati’ fasilitas yang sama ?

Kewajiban Puasa

‘Ali al-Sayis dalam kitab Tafsir Ayat al-Ahkam mendefinisikan puasa dengan ‘menahan diri dari dua syahwat, yakni perut dan farji dengan disertai niat, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari’. Kewajiban puasa berlaku di hampir seluruh agama, hingga para kaum pagan (penyembah berhala) sekalipun.  Hal tersebut menunjukkan bahwa puasa merupakan ibadah penting yang diakui memiliki daya paling mumpuni dalam membangun ketahanan dan kekuatan diri dari aneka syahwat jasmani.

Sebagian ulama antara lain Mu’adh, Qatadah dan ‘Atha’ berpendapat bahwa pada mulanya umat Islam diwajibkan berpuasa hari ‘Ashura’ dan 3 hari setiap bulan, yakni tanggal 13-15 yang dikenal dengan ayyam al-bid{ (hari-hari putih), kemudian ketentuan itu di-nasakh dan diganti dengan kewajiban puasa Ramadan.

Alasannya adalah QS al-baqarah [2]: 184 (wa ‘ala alladzina yutiqunahu) menunjukkan bahwa kewajiban puasa adalah kewajiban takhyir (pilihan), sementara puasa Ramadan adalah kewajiban yang bersifat ta’yin (mengikat). Dengan demikian, ayat ini menunjukkan kewajiban selain Ramadhan.

Baca Juga  Muhammad bin Abdul Wahab Tak Mengingkari Tawasul, Lantas Kemana Wahabi Berkiblat?

Pendapat ini dibantah oleh jumhur. Dalam pandangan jumhur, kalimat kutiba ‘alaikum al-siyam (QS al-Baqarah [2]:183) berbentuk mujmal sehingga bisa berarti sehari, dua hari dan seterusnya. Kemudian dijelaskan oleh ayat berikutnya, yakni ayyaman ma’dzudat (QS al-Baqarah [2]:184). Lafaz ini juga bisa menunjukkan seminggu, dua minggu, dan seterusnya, kemudian dijelaskan lagi oleh ayat berikutnya, yakni shahru ramadhan (QS al-Baqarah [2]:184).

Ini merupakan dalil kuat bahwa yang diwajibkan kepada umat Islam adalah puasa Ramadan. Adapun hadis Nabi bahwa puasa Ramadan me-nasakh seluruh puasa, dapat dipahami bahwa yang dimaksudkan adalah puasa umat sebelumnya. Memang ada beberapa hadis ahad yang berkualitas sahih yang menjelaskan tentang puasa ‘Ashura’ di era Jahiliyah dan awal Islam. Namun tidak ada dalil sahih yang menyatakan bahwa hukumnya wajib bagi seluruh umat Islam.

Rukhsah Puasa bagi umat Islam

Ada beberapa kelompok yang mendapatkan rukhsah untuk tidak berpuasa pada saat Ramadan. Pertama, orang sakit yang ada harapan sembuh serta musafir. Mereka boleh tidak berpuasa saat Ramadan dan menggantinya di luar Ramadan (QS al-Baqarah : 185). Mazhab Dhahiri, ‘Atha’ dan Ibnu Sirin berpendapat bahwa setiap orang sakit dibolehkan iftar berdasarkan keumuman ayat. Sebuah riwayat mengatakan bahwa Ibnu Sirin pernah tidak berpuasa dengan alasan sakit jarinya.

Dalam pandangan mayoritas ulama, sakit yang boleh iftar adalah sakit yang kalau berpuasa, maka sakitnya tambah parah atau membahayakan jiwanya atau memperpanjang masa sakitnya. Tentu tidak masuk akal jika setiap sakit boleh iftar, karena ada sakit yang obatnya adalah dengan berpuasa. Sementara itu, perjalanan yang boleh iftar adalah perjalanan dengan jarak sekitar 89 km.

Ibnu ‘Abbas, dan Ibnu ‘Umar berpendapat bahwa iftar bagi mereka adalah hukum asal (‘azimah). Oleh sebab itu, jika mereka berpuasa saat Ramadan, mereka harus men-qada’nya di luar Ramadan. Alasannya adalah sabda Nabi, “berpuasa dalam perjalanan itu bukanlah kebaikan”.

Baca Juga  Tentang KH. Achmad Asrori al-Ishaqi yang Membincangkan Kosmologi ala Sufi

Namun dalam pandangan jumhur, iftar itu adalah rukhsah, sehingga bisa diambil, bisa juga tidak. Sebuah riwayat dari ‘Aishah mengatakan bahwa Hamzah b ‘Amr al-Aslami berkata kepada Nabi, “Apakah saya harus berpuasa dalam perjalanan ? Nabi menjawab, “jika engkau mau, silahkan puasa, jika tidak, silahkan tidak puasa “.

Adapun hadis tentang ‘berpuasa dalam perjalanan itu bukanlah kebaikan’ terkait seseorang yang tidak kuat berpuasa dalam perjalanan. Sebagian ulama antara lain Hanafi dan Malik berpendapat bahwa bagi yang kuat berpuasa, dan tidak menyebabkan masyaqqah bagi dirinya, maka lebih utama berpuasa, bagi yang tidak kuat, maka lebih utama tidak puasa. Sementara itu, Imam Ahmad bin Hanbal menyatakan lebih utama iftar.

Selanjutnya: Macam-Macam Kelompok… (2)

Iffah Muzammil
Iffah Muzammil Dosen Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya; Pengasuh PP. Asshomadiyah Burneh Bangkalan Madura