Imam Hanafi Sekretaris ISAIS dan Dosen UIN Suska Riau

Covid-19 dan Keheningan Ramadan

2 min read

Ibadah puasa merupakan ritual yang sangat personal, hanya dirinya sendiri dan Tuhannya saja yang mengetahui. Di depan orang banyak, bisa saja seseorang melemaskan badan, mengempiskan perut, atau mengeluh resah, seolah-olah dia tidak makan dan minum seharian, akan tetapi Tuhan pasti mengetahui apakah dia berpura-pura atau beneran.

Pada titik ini, seolah-olah Allah selalu hadir dalam diri seseorang. Sehingga disebutkan dalam sebuah Hadis Qudsi, bahwa “Semua amalan anak Adam (manusia) itu untuk dirinya, kecuali puasa. Sebab, ia adalah buat-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya”. (HR Bukhari-Muslim). Meskipun ia menemukan makanan tanpa ada orang lain tahu, namun karena iman dan kesadaran akan kehadiran Tuhan, maka ia tidak akan mungkin melahap makanan yang ada itu. Di sinilah, pentingnya keheningan dalam beribadah puasa.

Dengan demikian ibadah puasa, membutuhkan suasana hening. Ibadah puasa bukan ibadah yang bisa dipamerkan atau dipertontonkan di depan khalayak ramai. Ibadah puasa membutuhkan kesunyian, agar kita bisa merasakan kepahitan. Dengan kesunyian, kita bisa lebih mampu menghayati makna lapar dan haus yang dialami oleh fakir-miskin.

Selain itu, ibadah puasa juga melatih kita untuk mampu menjernihkan batin kita. Ritual puasa yang dilakukan secara hening, khusyuk dan ikhlas, akan menenggelamkan hawa amarah dan akan menghadirkan ketenangan berpikir. Hal ini, sesuai dengan hikmah puasa, yang berfungsi untuk mengendalikan hawa nafsu. Manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, hanya akan menjadi pribadi yang egois, perusak alam, dan pengejar kekuasaan.

“Proses itu, membutuhkan keheningan. Karena dengan keheningan, jiwa kita akan mudah tertata”.

Inilah yang membedakan ibadah puasa dengan ibadah ritual lainnya dalam Islam. Ibadah lain dalam Islam, menggunakan gerak dan aktivitas yang memancing orang untuk melihat dan memperhatiannya, ibadah salat misalnya. Demikian halnya dengan ibadah zakat dan haji, yang memang hanya orang-orang mampu saja mempunyai kewajiban. Dan kemampuan ini, bisa diketahui oleh orang banyak selain dirinya sendiri.

Baca Juga  Dakwah Di Era Society 5.0

Covid-19 dan Keheningan

Tahun ini, kita berada pada suasana yang menuntut kita semua untuk belajar hening. Covid-19 yang menjadi pemicu atas kondisi ini, justru benda yang tak nampak. Kita tidak akan pernah bisa melihat secara kasat mata, hinggap di mana saat ini ia berada? Maka kita diharuskan untuk melakukan social distancing, jaga jarak. Agar virus itu tidak merambah pada satu orang ke orang lain.

Dampak serius dari hal itu adalah adanya keharusan untuk tidak berada pada kerumunan, keramaian. Maka ditutuplah sebagian masjid dan musala. Semua umat beragama, tidak diperkenankan untuk melakukan ritual dengan jumlah jemaah yang banyak. Ibadah yang bersifat show of force tidak diperkenankan. Semua praktik ibadah dilakukan secara personal, di rumah masing-masing.

Jika biasanya kita beribadah dengan mempertontonkan “gerak-ritual” di depan orang ramai, maka tahun ini kita diajak untuk beribadah sendiri-sendiri, tanpa harus tahu orang lain. Apabila tahun-tahun lalu, kita dengan mudah memborong apa saja untuk makan berbuka, maka tahun ini, kita disuruh oleh Tuhan untuk menikmati apa yang ada, seadanya.

Dalam suasana duka karena Covid-19, maka Ramadan tahun ini, umat Islam diajak untuk insaf betapa Allah menginkan kita semua untuk tidak mudah untuk show of force dalam beribadah. Kita diajak untuk mengolah dan menjernihkan batin kita dengan bermunajat di rumah sendiri. Di rumah kita akan dengan mudah bermunajat kepada Allah dalam hening. Bukankah kualitas ibadah seseorang itu, akan teruji bila dalam keadaan hening atau dalam situasi sendiri? Semakin hening ibadah kita, maka kualitas pahala yang diberikan Allah juga semakin besar.

Misalnya, kenapa Salat berjamaah Isya dan Subuh lebih berpahala ketimbang salat Zuhur dan Asyar atau Maghrib? Isya dan Subuh adalah waktu-waktu orang sudah mulai hening. Pada salat Isya, suasana sudah mulai gelap. Kita tidak bisa pamerkan diri kita pada orang lain. Apa lagi subuh, suasana yang masih gelap dan dingin, tidak banyak orang yang menyaksian anda pergi ke masjid.

Baca Juga  Polemik Mengucapkan Selamat Natal di Kalangan Masyarakat

Lebih-lebih pada salat malam, yaitu salat pada sepertiga malam. Allah dengan indah mengabadikan perintah itu dalam al-Qur’an; “Dan pada sebagian malam, maka kerjakanlah salat tahajud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Q.S. al-Isrā’ [17]:79). Tidak ada perintah Allah sejelas ini, untuk ibadah salat. Kenapa demikian? Karena malam hari adalam malam yang penuh hening. Lebih-lebih di sepertiga malam, penduduk bumi sedang lelap tidur, di situlah kita akan dengan mudah mendekap penuh syahdu.

Ramadan tahun ini, kita diajak untuk meresapi dan berefleksi, untuk kembali dalam hening. Setelah bertahun-tahun, kita dengan mudah mempertontonkan ibadah kita, maka Ramadan kali ini, kita diajak untuk beribadah dalam suasana sepi dan hening. Bukankah Nabi yang mulia saja, banyak salat tarawih dalam suasana keheningan, yakni di rumah? Oleh karena itu, mari kita belajar untuk mempertontonkan ibadah kita dihadapan Allah dalam suasana hening. Biarlah di luar sana sepi, tapi batin kita semarak. [AH, MZ]

Imam Hanafi Sekretaris ISAIS dan Dosen UIN Suska Riau

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *