KH. Imam Jazuli, Lc., M.A Pengasuh PP Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat RMI; PBNU Periode 2010-2015; Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir; UKM Malaysia; Universiti Malaya.

Gus Nadirsyah Hosen, Muslim Milenial Pejuang Kemanusiaan

2 min read

Foto: www.nu.or.id
Foto: www.nu.or.id

Nama lengkapnya Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A. (Hons), Ph.D. Pria kelahiran 8 Desember 1973 ini telah menaklukkan dunia Barat, dengan menjadi dosen tetap di Monash University Faculty of Law sejak 2015. Peran signifikannya di organisasi Nahdlatul Ulama [NU] telah dimulai sejak 2005 dengan menjabat sebagai Rais Syuriah, pengurus cabang istimewa NU di Australia dan Selandia Baru.

Pria gagah dengan rambut gondrongnya ini menempuh pendidikan sarjana strata satu di UIN Syarif Hidayatullah, gelar master ia dapatkan dari dua kampus berbeda; University of New England dan Northern Territory University. Adapun gelar doktor dia sabet dari dua kampus yang juga berbeda; University of Wollongong dan National University of Singapore.

Dalam genealogi keilmuannya, intelektualitas Gus Nadir—sapaan akrab Prof. Dr. H. Nadirsyah Hosen, LL.M., M.A—dalam bidang hukum Islam ini mewarisi figur sang ayah, KH. Ibrahim Hosen; seorang alim fikih Indonesia sekaligus legenda Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kakek Gus Nadir adalah KH. Hosen, sosok alim-saudagar berdarah Bugis dan pendiri Mu’awanatul Khair Arabische School di Tanjung Karang, Lampung. Sedangkan nenek Gus Nadir, Siti Zawiyah, adalah keturunan ningrat Kerajaan Selebar Bengkulu.

Sebagai intelektual profesional, Gus Nadir mengelola satu website pribadi yang mempromosikan “Islam Kemanusiaan”. Pada tahun 2010, beliau sudah menerbitkan buku berjudul Human Rights, Politics and Corruption in Indonesia: A Critical Reflection on the Post Soeharto Era (Republic of Letters Publishing, Dordrecht, The Netherlands, 2010). Karya-karya lain Gus Nadir yang juga fenomenal berjudul Shari’a and Constitutional Reform in Indonesia (Institute of Southeast Asian Studies, Singapore, 2007) dan Modern Perspectives on Islamic Law (Edward Elgar, UK, 2013 dan 2015). Secara garis besar ada kesinambungan gagasan dengan karya-karya beliau sebelumnya, di antaranya Islam in Southeast Asia, 4 volumes, (Routledge, London, 2010) maupun Law and Religion in Public Life: The Contemporary Debate (Routledge, London, 2011 dan 2013).

Baca Juga  Obituari: M. Nursamad Kamba, Teladan yang Menginspirasi

Tidak berlebihan bila menyebut beliau sebagai intelektual muslim tradisional yang telah menaklukkan Barat. Tentu tidak dalam rangka mengecilkan intelektual muslim lain yang berkarir di Barat, tetapi Gus Nadir adalah representasi yang patut diacungi jempol.

Tentang Islam Kemanusiaan yang diperjuangkan Gus Nadir, salah satunya, dapat dibaca melalui artikelnya yang berjudul “Islam Agama Kemanusiaan (2018)” dan “Kemanusiaan Mendahului Sikap Religius (2019)” dalam https://nadirhosen.net. Yang paling mengesankan dari pikiran Gus Nadir adalah perlawanannya terhadap gerakan Hizbut Tahrir Indonesia, sebagai salah satu ormas agama yang menetang NKRI dan Pancasila. Bukunya yang luar biasa berjudul Islam Yes, Khilafah No! (Yogyakarta: Suka Press, 2018).

Sebelum buku ini terbit, sudah jauh hari Gus Nadir menguliti penyelewengan-penyelewengan makna sejarah khilafah, seperti yang bisa diikuti dari artikel “Tiga Khilaf dalam Memahami Khilafah,” (nadirhosen.net, 21 Mei 2017). Gus Nadir pantas disebut sebagai “Pahlawan Islam Kemanusiaan” dengan mengkritik Hizbut Tahrir. Sebab, pada saat bersamaan, Hizbut Tahrir Internasional memang menentang Human Rights dengan menuduhnya sebagai praktik sekularisasi (www.hizb-ut-tahrir.info, 25 Februari 2019). Padahal, sejak era Imam Asy-Syathibi, Maqāshid Syarīah sudah menjadi embrio perumusan ilmiah persenyawaan Islam dan Kemanusiaan.

Tidak mungkin melepaskan nilai-nilai kemanusiaan dari Islam, sebagaimana kita juga tidak mungkin menerima Hizbut Tahrir di bumi Nusantara. Gus Nadir menjadi pembuka gerbang diskusi ilmiah menuju pelurusan makna keberislaman yang diselewengkan tersebut. Dari Gus Nadir kita juga bisa belajar makna Islam Kemanusiaan secara lebih komprehensif.

Namun, kita tidak cukup memahami Gus Nadir sebagai pakar sejarah. Beliau dapat juga disebut sebagai alim ulama di bidang al-Quran. Salah satu karya yang bisa dibaca dengan teliti adalah bukunya yang berjudul Tafsir Al-Quran di Medsos: Mengkaji Makna dan Rahasia Ayat Suci pada Era Media Sosial (Yogyakarta: Bentang Bunyan, 2017). Buku ini mencerminkan kejelian intelektualitas beliau dalam melihat perkembangan wacana tafsir dengan pendekatan sosiologi atas perilaku muslim milenial.

Baca Juga  Kisah Pilu al-Hallaj dalam Catatan Louis Massignon

Sudah menjadi rahasia umum, cara “kelompok sebelah” mempropagandakan ide mereka adalah melalui penguasaan atas media. Dr. Badarussyamsi, MA. (2015) mengutip pandangan Esposito bahwa sebagian ekstrimis dan teroris telah memonopoli pembicaraan dalam media. Mereka mengaku mewakili miliaran umat Islam (Badrussyamsi, Fundamentalisme Islam: Kritik Atas Barat, Yogyakarta: LKiS, 2015).

Gus Nadir memblejeti bagaimana tafsir al-Quran berkembang di media sosial, yang diam-diam mengarahkan umat muslim ke pemikiran radikal-ekstremis. Sebagai representasi dai muda dari kalangan NU, Gus Nadir dapat dijadikan percontohan sebagai teladan ideal. Kedalaman dan keluasan penguasaannya atas ilmu pengetahuan disertai dengan keintiman beliau dengan dunia digital.

Menjadi ahli fikih, ahli hadits, ahli tafsir, dan pakar sejarah memang penting. Tetapi, media dakwah yang tidak tepat dan kurang kontekstual akan berbahaya, salah satunya melahirkan pengabaian pada audiens yang sudah tidak lagi “tradisional”. Maksudnya, umat muslim milenial belakangan ini adalah “generasi android,” “kaum smartphone,” “masyarakat digital,” atau ungkapan sejenis.

Gus Nadir pernah mengutarakan hukum berdakwah lewat media sosial sebagai fardu kifayah. Ia berkata, “Saya melihat aktivitas media sosial itu sudah fardu kifayah—wajib dan baru gugur bila sudah dikerjakan muslim lainnya. Artinya kalau ada yang tidak melakukan, kita berdosa.” NU sebagai ormas tradisional perlu menyesuaikan diri dengan perkembangan-perkembangan media dakwah mutakhir ini. Gus Nadir telah mencontohkannya. Jika tidak, wallahu a’lam apa yang akan terjadi di masa depan.

Artikel ini pertama kali terbit di https://m.tribunnews.com.

KH. Imam Jazuli, Lc., M.A Pengasuh PP Bina Insan Mulia, Cirebon; Wakil Ketua Pimpinan Pusat RMI; PBNU Periode 2010-2015; Alumnus Universitas Al-Azhar Mesir; UKM Malaysia; Universiti Malaya.

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *