Putri Kusbandriyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Perjalanan Filosofis Hayy dalam Karya Ibn Thufail Hayy ibn Yaqzan

2 min read

sumber: steemit.com

Abu Bakar ibn Abd Al-Malik ibn Muhammad ibn Thufail, yang lebih dikenal dengan sebutan Ibn Thufail, adalah seorang filsuf terkemuka yang lahir di Cadix, Provinsi Granada, Guadix, Spanyol, pada abad ke-6, tepatnya tahun 506 H (1110 M). Ibn Thufail berasal dari suku Arab yang terkemuka, yaitu suku Qais. Namanya juga dikenal dalam bahasa Latin sebagai Abubacer.

Pada tahun 581 H/1185 M, Ibn Thufail meninggal dunia di daerah Marrakesh, meninggalkan warisan karya prosa terbesar khas abad pertengahan. Salah satu karyanya yang terkenal hingga sekarang adalah ayy Ibn Yaqẓān. Meskipun karya-karya lainnya tidak sampai pada masa kita karena Ibn Thufail lebih cenderung merenung daripada menulis secara intensif, ayy Ibn Yaqẓān tetap menjadi bukti kecemerlangan filsuf ini.

ayy Ibn Yaqẓān membahas filsafat dan ilmu kedokteran sesuai dengan pengetahuan yang dimiliki Ibn Thufail. Pemikirannya sering kali disampaikan melalui narasi-narasi menarik.  Judul lengkap novel ini adalah ayy Ibn Yaqẓān fī Asrār al-Ḥikmah al-Masyriqīyah. Montgomery Watt menilai bahwa buku ini merupakan karya filsafat yang menarik untuk dibaca, karena menceritakan perjalanan manusia sebatang kara yang menggunakan akal dan wahyu untuk memahami esensi kebenaran.

Walaupun berbahasa Arab, beberapa penerjemah telah menerjemahkan buku ini ke dalam beberapa bahasa lain karena nilai filsafat yang terkandung di dalamnya. Ibn Thufail mungkin memiliki lebih banyak karya jika tidak ada perang di Maghribi, mengingat kecenderungannya untuk menyampaikan pemikirannya melalui cerita yang menarik.

ayy Ibn Yaqẓān merupakan karya Ibn Thufail yang masih terjaga hingga saat ini. Bangsa Barat menyebutnya sebagai Philosophus Autodidactus (Filsuf Autodidak). Meskipun judul ayy Ibn Yaqẓān sebelumnya telah digunakan oleh filsuf Ibn Sina, versi Ibn Thufail menampilkan kisah yang berbeda, menggambarkan perjalanan seorang bayi laki-laki di pulau terpencil dengan cerita yang panjang dan pengalaman yang melimpah dalam pencarian esensi kebenaran dan dasar-dasar pengetahuan.

Baca Juga  Gus Awis: Mutiara Terpendam dan Teladan Generasi NU Milenial

Meskipun berbeda versi antara Ibn Sina dan Ibn Thufail, tokoh utama dalam kisah ayy Ibn Yaqẓān tetap menjadi pusat perhatian. ayy Ibn Yaqẓān mengandung berbagai tingkatan pengetahuan, dari yang paling sederhana hingga yang paling tinggi. Karya ini memiliki dimensi filosofis yang kaya, mencerminkan pandangan Ibn Sina dan Ibn Thufail dari perspektif masing-masing.

Dalam ayy Ibn Yaqẓān-nya Ibn Thufail, bayi laki-laki yang diceritakan terbuat dari tanah dan air, diberikan nyawa, dan menjadi manusia. Namun, ada juga kemungkinan bahwa bayi itu berasal dari seorang perempuan dan raja dari salah satu istana di pulau lain. Bayi itu kemudian ditempatkan dalam peti dan dihanyutkan ke laut. Rusa yang menemukannya kemudian merawatnya, yang selanjutnya dianggap sebagai ibu oleh Hayy.

Ketika bayi itu tumbuh dewasa, ia menyadari bahwa makhluk hidup memerlukan penutup tubuh untuk melindungi bagian tertentu. Mengamati hewan-hewan yang menggunakan bulu untuk menahan tubuh dari perubahan cuaca, Hayy mengambil dedaunan dan menutupi tubuhnya. Dia juga menggunakan akalnya untuk menyadari bahwa setiap makhluk hidup memerlukan alat untuk bertahan hidup, dan akhirnya menggunakan kulit binatang mati sebagai senjata.

Dengan banyak berpikir dan meneliti lingkungan sekitarnya, Hayy mempelajari berbagai aspek kehidupan. Dia mengetahui tentang menenun dari bulu binatang dan bahkan mampu membangun gubuk sebagai tempat tinggal. Namun, rusa yang selalu bersamanya sejak kecil akhirnya mati, mendorongnya menyelidiki penyebab kematian rusa tersebut.

Hayy melakukan pembedahan pada rusa itu dan menemukan bahwa penyebab kematian adalah berhentinya detak jantung. Meskipun tubuh rusa tetap utuh, Hayy menyimpulkan bahwa kehidupan makhluk hidup adalah persatuan jiwa dan tubuh. Penelitiannya kemudian meluas ke berbagai bidang lain.

Baca Juga  KH Thoifur Ali Wafa dari Madura dan Kitab Firdaws al-Na‘īm

Hayy terus melakukan penelitian tentang bidang-bidang langit. Dia menyadari keteraturan benda-benda luar angkasa dan tiba pada keyakinan bahwa ada pencipta yang mengatur segalanya, baik di alam semesta yang teramati maupun di luar jangkauannya. Hal ini mendorongnya untuk mencari tahu siapa sang pencipta tersebut.

Melihat sungai yang mengalir, Hayy menyadari bahwa di ujung sungai terdapat satu sumber yang sama untuk semua air. Ini menginspirasinya untuk mencari Tuhan, karena ia meyakini bahwa jika air memiliki satu sumber, begitu pula alam semesta. Pencarian Tuhan menjadi objek pengetahuan tertinggi menurut Hayy.

Suatu saat, Hayy menemukan kawan bernama Asal, seseorang dari pulau lain yang juga sendirian dalam merenungkan agama dan Tuhan. Mereka saling bertukar pengetahuan, di mana Asal mengajari Hayy cara berbicara dan menceritakan kondisi penduduk di pulau Asal yang menganut agama nabi terdahulu. Namun, pengetahuan mereka masih dangkal.

Kemudian, mereka berjumpa dengan Salaman, seorang yang amat luas pengetahuannya. Namun, Salaman menggunakan pikiran yang logis dalam agamanya. Penduduk dan Salaman tidak dapat menerima pandangan Hayy dan Asal. Hayy kemudian mempercayai kitab suci karena di dalamnya terdapat penjelasan yang masuk akal.

Asal dan Hayy meninggalkan pulau tersebut, meninggalkan pesan agar penduduk menggunakan agama mereka dengan bijak dan mengikuti jalan yang benar. Dengan meninggalkan pesan kepada penduduk pulau, Hayy Ibnu Yaqzan meninggalkan warisan pemikiran yang mendalam tentang eksistensi manusia dan pencarian makna hidup.

Secara keseluruhan, perjalanan Hayy dalam karya Ibnu Thufail menunjukkan evolusi pemikiran dan pengetahuan yang mendalam tentang kehidupan, alam semesta, dan pencarian Tuhan. Dengan menggunakan akal dan pengamatan lingkungan, Hayy mampu mengembangkan pengetahuannya dalam berbagai bidang, mulai dari kebutuhan dasar makhluk hidup hingga pemahaman tentang kematian dan esensi kehidupan. [AR]

Putri Kusbandriyah Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya