Jajang Jahroni Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Alumnus S3 Univeritas Boston Amerika Serikat

Integrasi Ilmu: Agenda Yang Harus Terus Diperbincangkan

4 min read

sumber: gutmicrobiotaforhealth.com

Integrasi ilmu dan agama di PTKI adalah masalah serius yang harus terus diperbincangkan. Sekitar dua dasawarsa yang lalu masalah ini mencuat ke permukaan. Dipicu oleh perkembangan PTKI yang semakin besar, isu ini dibicarakan oleh beberapa tokoh PTKI. Secara umum orang sebenarnya bisa menerima ide ini, paling tidak pada tataran konsep. Namun bagaimana ia diimplementasikan, ternyata tidak ada kata sepakat.

Integrasi ilmu dan agama sebenarnya didorong oleh cara pandang Islam yang khas, yang tidak membedakan kehidupan material dan spiritual. Keduanya merupakan manifestasi dari entitas yang sama. Ini sebenarnya persoalan mendasar yang sudah banyak dibahas oleh para filosof dan sarjana Muslim. Belakangan isu ini muncul kembali sejalan dengan perkembangan ilmu di Barat yang semakin sekular, dan bahkan ilmu menjadi resep untuk lahirnya sebuah ideologi politik yang meluluhlantakkan nilai-nilai kemanusiaan. Maka, kita pun para sarjana Muslim di tanah air, sibuk mencari landasan bagi lahirnya sebuah peradaban profetis.

Lalu, apa itu integrasi? Dalam sebuah hadis disebutkan bahwa setiap pekerjaan manusia yang tidak diawali dengan basmalah, maka pekerjaan itu terputus. Sebagian ulama menafsirkan terputus di sini adalah terputus dari rahmat Allah. Berdasarkan hadis ini, dapat dipahami bahwa basmalah adalah kunci yang membuka segala pintu kebaikan. Mengapa? Karena basmalah menawarkan sebuah paradigma; realitas, realitas apapun, adalah manifestasi dari Tuhan Yang Maha Esa. Ketika membaca basmalah, kaum Muslim meyakini seyakin-yakinnya bahwa semuanya terjadi atas kehendak Allah.

Sayangnya, dalam implementasinya, konsep integrasi dipahami sebagai islamisasi atau ayatisasi. Islamisasi adalah pemberian ideologi Islam ke dalam ilmu pengetahuan yang dianggap sekular, sementara ayatisasi pemberian ayat-ayat al-Qur’an di setiap pembahasan ilmu pengetahuan. Baik islamisasi maupun ayatisasi tidaklah menjawab persoalan secara tuntas. Ilmu pengetahuan berkembang lepas dari ideologi apa pun. Ilmuwan bekerja ya bekerja, ia bekerja berdasarkan data yang ada di lapangan, terlepas apakah ia seorang Muslim atau bukan. Lalu data itu ia simpulkan untuk melahirkan teori tertentu, ada penemuan, dan seterusnya. Sementara ayatisasi membuat pembicaraan tentang ilmu pengetahuan seakan terhenti, karena semua dihubungkan dengan kuasa Allah. Kun Fayakuun. Jadilah, maka jadi. Selesai semua.

Baca Juga  Keberagaman Agama di Indonesia: Refleksi Humanis dan Dialog Terbuka untuk Harmoni Sosial

Kecenderungan orang beragama memang seperti itu. Mereka selalu membawa-bawa nama tuhan. Akibatnya mereka lemah dalam analisa. Ini pula yang memicu lahirnya anti-agama di kalangan ilmuwan. Richard Dawkins, Sam Harris, adalah segelintir ilmuwan yang menyangsikan bahkan menyerang agama. Bagi mereka agama identik dengan kerancuan berpikir. Namun itulah yang terjadi, khususnya di kalangan sebagian besar kaum Muslim dewasa ini. Semua ayatisasi.

Pada awal 2000-an bahkan pengajaran di sejumlah PTKI memasangkan dua dosen sekaligus dalam sebuah mata kuliah, dosen sains dan dosen agama. Setiap kali dosen sains menjelaskan sebuah teori, dosen agama akan membacakan ayat yang sesuai. Dan model ini ditiru ole banyak madrasah dan sekola Islam. Buku-buku sains dipenuhi oleh ayat-ayat al-Qur’an. Lalu tokoh-tokoh seperti Harun Yahya dan Zakir Naik menjadi popular di kalangan mereka. Kalau model pengajaran seperti ini, sulit lahir seorang ilmuwan dari kalangan Muslim. Terus terang, kaum Muslim sudah lama tidak melahirkan ilmuwan besar. Dulu ada Habibie. Tapi Habibie sebenarnya lahir dari rahim pendidikan Barat yang sekular. Pada waktu tuanya saja dia menjadi Muslim yang taat sehingga diklaim sebagai ilmuwan Muslim.

Perluasan PTKI

Isu integrasi tidak saja membawa konsekuensi pada pengajaran. Ia juga berdampak pada kelembagaan. PTKI harus memperluas cakupannya. PTKI tidak cukup mengajarkan ilmu agama, ia juga harus mengajarkan ilmu umum. Pengajaran ilmu umum sebenarnya sudah dimulai sejak era 1990-an. Sejumlah alumni PTKI kuliah ke Barat, mempelajari ilmu sosial dan humaniora. Lalu dibukalah jurusan sosial dan humaniora di PTKI.

Dan pada awal 2000-an, PTKI membuka jurusan-jurusan sains semisal kedokteran dan farmasi, ekonomi dan teknik. Pada tahap ini, PTKI sudah mengalami banyak kemajuan. Tercatat, awal 2000-an sejumlah IAIN bertransformasi menjadi UIN dan membuka fakultas-fakultas baru. Yang mengejutkan adalah, dalam kasus UIN Jakarta, UIN Jakarta membuka fakultas kedokteran, sebuah fakultas yang dianggap “bentengnya” kaum sekular. Ternyata UIN Jakarta mampu, menghasilkan lulusan yang tak kalah bagus dengan kampus-kampus umum. Demikian pula kampus-kampus lain, membuka ekonomi dan bisnis.

Baca Juga  Kyai Mutamakkin dan Corak Islam di Nusantara Sebelum Abad ke-20 (2)

Dari perkembangkan ini, yang menarik adalah, UIN ternyata cukup disegani oleh perguruan tinggi umum yang selama ini mengkhususkan ilmu-ilmu umum. UIN dianggap berhasil mengelola fakultas-fakultas sains-nya. Dekan pertama Fakultas Kedokteran UIN Jakarta, Prof. Tajuddin MK, yang adalah mantan rektor UI, pernah mengatakan lulusannya lebih bagus dari UI.

Seperti diketahui, dewasa ini, sejumlah IAIN tengah bertransformasi menjadi UIN dan menunjukkan pola-pola perkembangan yang kurang lebih sama. Akan tetapi, ada yang terasa menghambat laju perkembangan ini. Menurut UU, UIN adalah perguruan tinggi bercirikan agama, maka jumlah prodi umum tidak boleh lebih banyak daripada prodi agama. Kelihatannya ini cukup adil.

Namun peraturan ini sebenarnya membatasi gerak UIN untuk hanya boleh berkembang hingga tingkat tertentu saja, tidak boleh lebih. Peraturan ini juga tidak sesuai dengan hasrat masyarakat Muslim yang ingin mempelajari ilmu apa pun, karena ilmu apa pun pada dasarnya adalah ilmu Allah yang kaum Muslim wajib mempelajarinya. Tercatat sejumlah prodi di sejumlah UIN akhirnya ditutup karena melanggar peraturan di atas.

Perluasan UIN tidak selalu disikapi positif. Sejumlah kalangan internal merasa perlu mengerem laju ini dengan berupaya mengembalikan UIN sebagai lembaga perguruan tinggi Islam. Mereka membuka prodi-prodi agama yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi dalam kehidupan. Maka lahirlah jurusan-jurusan seperti jinayah Islam, muamalah Islam, keuangan Islam, dan lain sebagainya. Romantisme akan masa lalu membuat sebagian kalangan Muslim menciptakan ruang-ruang artifisial. Ini sebenarnya sama bahayanya dengan mereka yang berupaya menghidupkan kembali ide khilafah Islam di tengah masyarakat dunia yang hidup dalam era negara-bangsa.

Ke depan, hemat saya, UIN harus konsentrasi untuk masuk ke dalam persaingan hard science seperti biologi dan kimia. UIN juga harus membuka pertanian, kehutanan, dan kelautan karena keahliannya diperlukan bangsa ini. Ini agar UIN dapat benar-benar masuk ke dalam persaingan nasional dan global. Fakultas agama tentu saja harus tetap ada, karena itu ciri khas UIN, tapi mungkin kecil saja. Ini karena watak kehidupan yang pragmatis. Dalam al-Qur’an sendiri disebutkan agar sekelompok orang tetap mempelajari ilmu agama (9:122).

Baca Juga  Memanusiakan Korban Covid-19: Sebuah Catatan Keprihatinan [bagian 1]

Untuk Indonesia dan Dunia

Orang-orang UIN memiliki modal sosial yang luar biasa. Kiprah mereka mulai terlihat di tengah masyarakat. Lambat laun mereka tampil dan menguasai bidang-bidang tertentu. Ini karena orang UIN—baca kaum santri—memandang ilmu, ilmu apa pun, adalah harta temuan kaum Muslim. Kedua, bagi kaum santri, menuntut ilmu bukan hanya bertujuan untuk mengejar pekerjaan dan karir. Menuntut ilmu adalah ibadah. Tidak jadi soal di mana mereka belajar, karena ilmu Allah tidak membedakan timur dan barat.

Kenyataan ini seharusnya membuat kalangan PTKI untuk terus membuka diri. UIN harus inklusif, dalam pengertian siapa pun boleh masuk dan belajar di dalamnya karena UIN adalah pohon peradaban, tanpa melihat apakan ia Muslim atau bukan. Tak elok rasanya melihat orang UIN keluar masuk di berbagai perguruan tinggi di Barat—yang sebagian adalah kampus-kampus agama—namun orang lain tidak diperkenankan masuk di UIN. Jelas ini tidak adil. Ada sebagian kalangan UIN yang memandang UIN adalah lembaga pengajaran Islam, semacam majlis taklim, maka calon mahasiswa dipersyaratkan beragama Islam dan bisa baca al-Qur’an.

Dulu era 1990-an, banyak dosen PTKI yang mengeluh bahwa UIN hanya diperkenankan berenang di sungai-sungai kecil. UIN harus berenang di lautan luas. Ketika kesempatan itu ada, sebagian orang UIN merasa ciut. Mereka ingin balik lagi berenang di sungai. Transformasi UIN jelas tidak bisa balik lagi, harus dilanjutkan. UIN harus menjadi universitas yang sering diceritakan dalam sejarah Andalusia yang mahasiswanya datang bukan hanya dari negeri-negeri Muslim, tapi juga dari Eropa Barat. UIN harus memberi pencerahan kepada bangsa dan dunia. []

Jajang Jahroni Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Alumnus S3 Univeritas Boston Amerika Serikat

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *