



Ramadan di era ini bukan lagi soal menahan lapar, tapi soal lonjakan pengeluaran yang tidak masuk akal. Logikanya sederhananya, kalau kita benar-benar berpuasa dengan mengikuti teladan Nabi Muhammad saw, pengeluaran rumah tangga seharusnya justru turun secara signifikan karena frekuensi makan yang berkurang.
Inilah orkestrasi kapitalis yang paling licin; mereka membajak emosi keagamaan untuk menumpuk laba. Karl Marx dalam Das Kapital pernah menyentil fenomena “fetisisme komoditas” tentang bagaimana benda-benda diberi nyawa dan nilai magis. Di bulan ini, sirup, sarung, hingga gawai terbaru diberi label islami.
Iklan-iklan di berbagai platform pun mulai meluncurkan orkestrasi sentimentalitas yang manipulatif. Mereka mengeksploitasi narasi rindu mudik, wajah ibu yang sendu, hingga kehangatan keluarga dalam durasi singkat yang dikemas sangat estetik.
Tujuannya bukan sekadar memaksa anda melakukan transaksi instan, melainkan secara halus menggeser standar kebahagiaan, seolah-olah kehangatan keluarga dan kesalehan sosial baru dianggap valid jika ada komoditas tertentu yang hadir di tengahnya.
Perspektif kita sebagai konsumen telah mengalami distorsi yang akut. Padahal, jika merujuk pada Ihya Ulumuddin, khususnya bab Asrar al-Sawm (Rahasia-Rahasia Puasa), Al-Ghazali telah memberikan klasifikasi puasa ke dalam tiga tingkatan.
Mayoritas dari kita tampaknya masih tertahan di level yang paling dasar yakni, Shawm al-‘Umum (puasa orang awam). Di level ini, puasa hanya dimaknai sebatas menahan perut dari lapar dan kemaluan dari syahwat; sebuah pencapaian yang sangat minimalis.
Di atas itu, terdapat Shawm al-Khusus (puasa orang khusus), di mana seseorang mulai mampu mengerem panca indra dari segala bentuk perbuatan sia-sia. Adapun puncaknya, Sawm Khusus al-Khusus, memfokuskan hati sepenuhnya kepada Tuhan tanpa distraksi duniawi, kita justru terjebak dalam ironi.
Namun alih-alih naik kelas, kita justru melakukan “penundaan syahwat” agar bisa meledak secara kolosal begitu azan magrib berkumandang. Kita hanya memindahkan jam makan siang ke pesta pora malam hari, sembari tetap memelihara nafsu konsumsi yang jauh lebih rakus di balik kedok ibadah.
Bagi kaum kapitalis, Ramadan hanyalah peak season, sebuah musim panen raya. Mereka sama sekali tidak peduli apakah derajat ketakwaan anda meningkat atau tidak; mereka hanya menghitung seberapa besar conversion rate iklan mereka melonjak.
Salah satu bentuk komodifikasi yang paling menyesakkan adalah pergeseran makna bingkisan atau hampers, yang kini telah bertransformasi dari simbol persaudaraan menjadi beban transaksional yang bersifat wajib.
Ironi itu diperparah para pesohor dan kreator konten yang mendadak religius demi aji mumpung. Ramadan bukan lagi soal takwa, melainkan soal menyerap anggaran. Mereka fasih berbicara tentang kedermawanan sambil memamerkan kemewahan yang memicu inferioritas pengikutnya.
Ketimpangan ini lalu menemukan saluran buang paling beringas, media sosial. Menjelang berbuka, kita berubah menjadi hakim paling kejam. Memang, objek kemarahan kerap layak dikritik, arogansi anak pejabat, misalnya, namun bahan bakar amuk massa digital itu sering kali frustrasi atas kesenjangan sosial. Kita menghakimi sebagai katarsis atas ketidakberdayaan ekonomi. Kita mengutuk keserakahan, tetapi di saat yang sama menebar kebencian demi kepuasan sesaat.
Sementara itu, peran negara sering absen secara substansial. Operasi pasar hadir seremonial, gagal menyentuh akar spekulasi yang membuat harga kebutuhan pokok rutin naik tiap Ramadan. Rakyat diminta sabar menghadapi inflasi, sementara kebijakan pajak mencekik.
Kemiskinan dipelihara sebagai latar kedermawanan semu elit. Fenomena warga yang “booking” saf tarawih demi amplop adalah potret getir, rumah ibadah turun derajat menjadi loket antrean keputusasaan. Martabat digadaikan di hadapan kuasa uang.
Al-Quran dalam Surah Al-Ma’un ayat 1-3 sangat keras menyindir para pendusta agama. Mereka adalah orang-orang yang menghardik anak yatim dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.
“Memberi makan” tidak bisa lagi dimaknai sesempit membagi takjil untuk kebutuhan konten atau menebar amplop secara seremonial. Memberi makan yang sesungguhnya adalah menciptakan sebuah sistem agar orang miskin tidak perlu lagi berebut sedekah.
Namun, kita terlalu jauh menyalahkan sistem atau orang lain, mari bercermin. Kita sering berteriak bahwa pemerintah tidak becus, tapi di ruang publik, kita hobi menerobos lampu merah dan palang kereta. Di jalanan, kita liar dan brutal; di media sosial, kita sering kehilangan peradaban. Bahkan di masjid sekalipun, ego kita sering kali lebih besar daripada sajadah.
Syekh Zainuddin al-Malibari dalam kitab Fathul Mu’in menjelaskan bahwa puasa seharusnya menjadi sarana untuk melatih disiplin diri yang amat ketat. Namun Ramadan justru sering dijadikan alasan lebih pemarah dan tidak tertib.
Kita mengutuk korupsi di level tinggi, tapi kita memaklumi korupsi waktu dan etika dalam keseharian kita. Syekh Ibnu Atha’illah al-Sakandari dalam kitab Al-Hikam mengingatkan: “Bagaimana mungkin hati bisa bersinar, sementara bayangan dunia masih melekat pada cermin hatinya?”
Bisa jadi, Ramadan tahun ini, cermin hati kita bukan lagi tertutup bayangan dunia, melainkan tertutup oleh kerak keegoisan, ketidakpedulian, dan kebebalan kita sendiri.
Jika puasa hanya berakhir sebagai ritual memindahkan jam makan, katalisator pemborosan, dan ajang penghakiman massal, maka benarlah sabda Nabi Muhammad saw.
“Betapa banyak orang yang berpuasa namun tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali lapar dan dahaga.” Sudah saatnya kita berhenti menjadi pion dalam permainan kapitalis dan budak dari ego diri sendiri. Jika kita tidak mampu disiplin di lampu merah atau menahan jari di media sosial, jangan berharap puasa kita akan naik kelas. Ramadan seharusnya menjadi waktu untuk memperbaiki diri secara radikal, bukan validasi.