Khoirul Athyabil Anwari Alumnus Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta

Nabi Sulaiman dan Tasbih Seekor Cacing

2 min read

Di antara bacaan zikir yang dianjurkan oleh Rasulullah Saw. setelah Alquran adalah bacaan tasbih. Kata al-tasbīh merupakan bentuk nomina dari kata sabbaha yang terdiri dari huruf asli sīnbā’ dan hā’ yang memiliki beberapa maksa asalnya, seperti al-bu’du (jauh) al-jāri wa al-marr al-sāri (berjalan dengan cepat).

Pada makna al-bu’d mengandung arti al-tab’īd (menjauhkan). Sehingga ketika mengucapkan sabbahnallāh berarti menjauhkan Allah dari segala keburukan. Sedangkan makna al-jarr sebagaimana redaksi Alquran dalam Surah Yāsin: 40

و كل في فلك يسبحون

Kata yasbahūn berarti yajrūn, berjalan.

Secara umum, makna tasbih tidak hanya sebatas lafal subhanallāh. Namun lafal apa saja yang mengandung makna mensucikan Allah dari segala hal yang tidak layak dan tidak pantas dalam Dzat, Sifat dan perbuatan-Nya. Tasbih di dalam Alquran juga bermakna salat sebagaimana terdapat dalam Surah Tāha: 130;

“Maka bersabarlah kamu atas apa yang mereka katakan, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu, sebelum terbit matahari dan sebelum terbenamnya. Bertasbihlah pula pada waktu-waktu malam hari dan siang hari supaya kamu meresa rida.” (Tāha: 130)

Ibnu ‘Arabi menuturkan bahwa ulama sepakat mengatakan bahwa makna perintah sabbih pada ayat di atas adalah shallī (salatlah). Entah salat apa yang dimaksud dalam ayat di atas, apakah salat fardhu atau sunnah, para ulama berbeda pendapat.

Selain bermakna salat, tasbih juga memiliki makna zikir (Maryam: 11), ibadah (al-Shaffāt: 143), doa (Yūnus: 10) dan istitsnā’ (al-Qalam: 17-29).

Pada hakikatnya, tasbih adalah pengagungan kepada Allah dan pengakuan kelemahan diri yang diterapkan dalam bentuk penghambaan dan penghinaan diri di hadapan Allah sebagai wujud kecintaan hamba kepada-Nya. Seperti apakah wujud pengagungan kepada Allah dan penghambaan diri di hadapan-Nya. Simak kisah berikut!

Baca Juga  Manusia, Tangan Tuhan, dan Kebebasan Diri: Akal, Potensi, dan Jalan Kebahagiaan [2]

Sulaiman bin Daud AS sedang duduk di tepi laut. Pagi ketika menikmati angin segar, kebetulan ia melihat seekor semut berjalan membawa sebiji gandum menuju laut yang sedang pasang. Melihat itu dia menjadi heran.

Sesampainya semut di tepi laut dan hampir menyentuh air, muncullah seekor kura-kura dari dalam laut berjalan menghampiri semut. Kura-kura itu kemudian membuka mulutnya dan semut berjalan memasuki liang mulut kura-kura yang kemudian mengatup dan kembali ke dalam laut lagi.

Sulaiman semakin terheran. Semakin dipikir bukannya menjadi jelas malah semakin rumit. Ia tidak kunjung menemukan maksud di balik apa yang barusan ia lihat. Apa, sih, yang dilakukan dua hewan itu?

Setelah berselang lama, kura-kura tadi muncul kembali dari dalam laut menuju tepian. Dibukalah mulutnya seperti yang ia lakukan tadi. Dan, keluarlah semut dari dalam mulut kura-kura dengan selamat sentosa. Namun kali ini ia tak lagi membawa sebiji gandum dengan mulutnya.

Tak sabar untuk memecahkan teka-teki tersebut lantas ia menghampiri semut dan kura-kura itu. Kepada semut Sulaiman bertanya, “Bukankah tadi kau membawa sebiji gandum?”

“Benar, Tuan.” Jawab semut.

“Lalu kenapa sekarang kau tak lagi membawanya?”

“Wahai Nabi Allah, sesungguhnya di bawah batu di dasar laut sana ada seekor cacing buta yang Allah ciptakan di dalam sana. Dan Dia memerintahkanku untuk menyampaikan rezekinya.”

Sulaiman tertegun mendengar tuturan semut. Lalu semut menlanjutkan.

“Dan Allah memerintahkan kura-kura itu untuk mengangkutku di dalam mulutnya dan membawaku menuju dasar laut. Setelah sampai di dasar sana, ia membuka mulutnya dan mengeluarkan biji gandum yang kubawa untuk diberikan kepada cacing buta itu. Serampungnya ia membawaku kembali ke daratan seperti yang kaulihat ini tadi.”

Baca Juga  Strategi Membangun Harmoni Berumah Tangga

Sulaiman masih isykāl dan bertanya, “Apakah kau juga mendengar ia bertasbih?”

“Benar, Tuan.” Jawab semut.

“Bagaimana ia bertasbih?”

“Cacing buta itu mengucapkan,

يا من لا ينساني في جوف هذه الصخرة تحت هذه اللجة لا تنس عبادك المؤمنين برحمتك يا أرحم الراحمين

Wahai Engkau yang tak pernah melupakanku yang berada di dalam karang di bawah ombak samudera ini. Janganlah Engkau lupakan hamba-hambaMu yang beriman dengan rahmat-Mu, wahai Yang Maha Pengasih dari segala yang mengasihi.”

Dan kisah di atas adalah kali kesekian Sulaiman belajar hikmah dari rakyatnya. [MZ]

Khoirul Athyabil Anwari Alumnus Pesantren Al-Imdad, Bantul, Yogyakarta