Ahmad Khoiruddin Mahasiswa pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya

Sufi Healing Dibalik Makna Ketupat

2 min read

Perayaan idul fitri di Indonesia dipehuhi dengan beragam budaya, salah satunya budaya lebaran ketupat. Lebaran ini biasanya jatuh pada H+7 setelah lebaran, atau tanggal 7 syawal. Pada hari itu sebagian besar masyarakat muslim Indonesia berbondong-bondong membuat ketupat untuk menjadi sajian makanan untuk keluarga sendiri, tetangga, maupun kerabat jauh yang ingin datang untuk berlebaran bersama. Bahkan sebagian sengaja menyajikan di depan rumah, diperuntukan bagi siapa saja yang lewat depan rumah dan menghendaki makan ketupat.

Dibalik adanya budaya ketupat, kita perlu tahu bahwa filosofi dari ketupat ini membawa pemikiran mengenai sufi healing yang sangat komprehensif, terlebih  bagi umat Islam sendiri. Telah kita ketahui bersama bahwa ketupat ini memang digagas oleh salah satu dewan walisongo yang memiliki latar belakang tasawuf yang kuat, yaitu Raden Mas Said atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kalijaga.

Sunan Kalijaga memang dikenal memiliki ilmu tasawuf tingkat tinggi. Kita juga pasti sangatlah paham bahwa tasawuf juga disebut sebagai psikologi Islam sendiri, karena memang di dalamnya membahas keadaan jiwa yang tercermin melalui perilaku, sebagai salah satu diskursusnya.

Sufi healing yang terdapat pada filosofi ketupat setidaknya dapat penulis jabarkan, pertama, ketupat berasal dari bahasa jawa, yaitu ngaku lepat, yang dalam bahasa Indonesia diartikan mengakui segala kesalahan. Dalam konsentrasi psikologi, mengakui kesalahan merupakan salah satu cara terapi psikis, terutama untuk diri sendiri. diakui atau tidak memang jiwa seseorang sering kali tersiksa dan tidak fokus dalam mengerjakan suatu pekerjaan karena terdistraksi oleh kesalahan yang selalu menghantui.

Di Indonesia sendiri tokoh terapi pemaafan atau yang sering disebut terapi forgivness adalah Drs. Asep Haerul Ghani, Psikolog. Ia merupakan salah satu pendiri Asosiasi Psikolog Islam (API). Menurutnya, terapi pemaafan ini salah satu cara melepaskan emosi negative dalam diri. Hal ini menjadi keharusan karena jika tidak dilakukan akan sering mengganggu kondisi diri seseorang.

Baca Juga  Tiga Kiai Masduqi dan Doa KH. Wahab Chasbullah

Dalam meminta maaf atau memaafkan seseorang memang sangat tidak mudah, sehingga harus berjuang setulus hati untuk melakukannya. Asep menyebut orang yang berjuang dalam pemaafan sebagai survival. Di mana ia berjuang untuk melepaskan kesalahan yang selalui mengantuinya.

Kedua, Janur, adalah daun kelapa yang masih muda, berwarna kuning kehijauan. Janur banyak dipakai masyawarakat muslim Indonesia dalam berbagai acara, semisal pernikahan. Dalam salah satu literasi dikatakan bahwa janur digunakan sebagai tolak balak menurut kepercayaan mereka. Secara fakta kesehatan, dalam salah satu laman web, janur sangat bermanfaat dalam mengatasi penyakit kuning, radang hati hingga tekanan darah tinggi. Dalam pengobatannya, janur ada yang direbus dan dibakar. Dari model pemasakan ketupat, terdapat indikasi kesehatan yang didapatkan dari pemakaian janur sebagai kulit ketupat ini.

Ketiga, anyaman ketupat yang unik dan berkreasi seni tinggi. Membuat ketupat, bagi sebagian orang sangatlah mudah karena sudah terbiasa, sebaliknya sangat susah bagi orang yang tidak pernah membuatnya. Pasalnya memang pembuatan ketupat yang menggunakan dua bilah janur memang penuh lika-liku, di mana saling mengait satu dengan lainnya. Sehingga menjadi sebuah bangunan ketupat yang kuat dan tahan ketika dijadikan wadah beras yang nantinya di masak dalam tungku yang sangat panas.

Lika-liku anyaman ketupat ini melambangkan batin seseorang. Dalam batin, seseorang memiliki tingkatan jiwa yang berlapis-lapis, menurut diskursus tasawuf. Ketupat dibentuk dengan model segi empat, melambangkan 4 tingkat nafsu, yaitu nafs al-Amarah, Nafs al-Lawwamah, nafs al-Sufiah dan Nafs al-Muthmainnah. nafs al-Amarah menjadi lapisan nafsu terluar jiwa manusia, dalam al-Qur’an disebut sebagai nafs al-Amarah bi al-Su’.

Pada lapisan individu masih memiliki sifat kikir, materalistik, iri dengki, jahil, hedonistik, sombong dan pemarah. Pada tingkat nafsu lawwamah seseorang sudah mencapai kesadaran akan kebaikan dan kejahatan, sehingga suka mencela diri sendiri maupun orang lain. ia cenderung memiliki sifat pencela, menipu, ujub, penggunjing, pamer, dholim, pendusta dan lalai.

Baca Juga  Idul Adha, Mengasah Kepekaan Sosial Kita

Pada nafsu sufiyah sebagai tingkatan ke tiga jika dibandingkan dengan pemikiran tasawuf yang lain maka menempati nafsu mulhimah. Dalam lapis ini seseorang sudah agak lembut dan melahirkan kesadaran positif sehingga memiliki sifat tawadhu, dermawan, lapang dada, bertaubat, sabar, dan menerima. Keempat, nafs al-Muthmainnah, yaitu jiwa yang diterangi oleh cahaya hati nurani. Seseorang pada tahap ini memiliki sifat tidak kikir, tawakal, ikhlas, syukur, rela, dan takut kepada Allah.

Sebagai seorang muslim sudah sepatutnya untuk dapat meraih tingkatan jiwa yang tinggi. Karena sebagaimana cerita ketika sepulang perang badar, Bahwa Nabi Saw pernah menyabdakan bahwa setelah perang badar ada perang yang lebih besar, yaitu memerangi diri sendiri (nafsu).

Urgensi dari mengendalikan nafsu ini ialah untuk meraih tingkat insan kamil di sisi Allah (habl min Allah). Sehingga dalam dunia sosial akan otomatis juga menjadi baik (habl min al-Nas), karena nafsu buruk (takhalli) telah kita buang, dan diri sudah dihiasi oleh nafsu yang penuh dengan kebaikan (tahalli). Pada akhirnya diri yang baik di sisi Allah dan makhluknya akan menjadi jiwa-jiwa yang tenang, sehat, berdaya tahan tinggi, dan berkualitas. (mmsm)

Ahmad Khoiruddin Mahasiswa pascasarjana Universitas Sunan Giri Surabaya