Kharisma Ulmadinah Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Ngaji Kiai Google: Pentingnya Memahami Strategi Dakwah Islam Kontemporer

3 min read

Memahami aktor budaya modern dalam strategi dakwah kekinian adalah hal yang sangat perlu untuk dipahami dan diketahui oleh kalangan Nahdliyin agar dapat menentukan metode dakwah yang tepat. Hal itu disampaikan diacara munas pada Muktamar PKB 2019 di Bali.

Perubahan transformasi budaya merupakan serangkaian perubahan budaya dari nilai sosial hingga nilai agama yang harus dipahami. Seperti yang telah disampaikan oleh Gus Nadirsyah Hosen, bahwa perubahan-perubahan yang sangat mencolok pada era sekarang, di antaranya dari ormas ke parpol; dulu ormas yang jadi primadona sekarang parpol yang jadi primadona.

Dari guru ke artis yang hijrah, dari ulama ke motivator, perubahan dari haji ke umrah, dari pesantren ke masjid. Tetapi pesantren telah menjadi banteng, sehingga mereka tidak bisa menembus pesantren.

Sekarang mereka merebut masjid, maka tidak heran dari mulai pilkada DKI sampai pilpres kemarin, mimbar-mimbar masjid menjadi ajang bagi mereka, dari perpustakaan sekarang beralih ke kafe, jadi dulu orang nongkrongnya di perpustakan, sekarang nongkrongnya di kafe.

Dari televisi berpindah nonton di youtube, televisi hanya sebagai tempat hiburan 20% sedangkan 80% mereka mendapatkan informasi dari youtube dan media social. Dari jimat ke smartphone. Jadi sekarang kalau ketemu kiai tidak lagi minta wirid, melainkan minta selfie, dari uang cash ke digital money, dari adu dalil sekarang adu data survei.

Dengan fenomena seperti ini jika dilihat dengan cermat, ternyata umat Islam tidak statis. Budaya juga begitu dinamis. karena ternyata perubahan agen dan aktor budaya modern ini disebut dengan para pakar sosiologi melahirkan modernisasi, yang ternyata modernisasi bukan hanya melahirkan pragmatisme tetapi juga melahirkan fundamentalisme.

Gerakan fundamentalisme sering dianggap sebagai fenomena yang terdapat pada masyarakat kaum perkotaan. Masalah tersebut semakin melebar dengan adanya kemajuan di media sosial. Masyarakat perkotaan memiliki agama yang cenderung berlawanan antara budaya dan agama.

Baca Juga  Syeikh Ali Jum‘ah Disebut sebagai “Ali Begal”: Potret Gabas Portal Islam di Indonesia

Dengan padatnya kesibukan duniawi dan mengakibatkan keringnya pengetahuan keagamaan pada masyarakat urban, dan ternyata mereka masih memiliki keinginan untuk mempelajari agama.

Hal ini menjadi mudah dan efisien karena dengan hadirnya internet serta media sosial. Hal tersebut dapat mempermudah mendapatkan informasi secara cepat dan dapat diakses dimanapun mereka berada.

Namun tanpa disadari mereka orang-orang awam yang ingin memperdalam ilmu agama justru terjerumus ke dalam website maupun akun-akun media sosial kaum fundamentalis Islam. Mereka memilih akun tersebut karena follower akun tersebut banyak.

Noorhaidi Hasan menjelaskan bahwa dengan bertumbuh kembangnya era digital membuat bergesernya minat untuk melacak literatur keislaman, seperti sekarang beralih ke online yang semula dari literatur cetak. Pada era sekarang mereka lebih suka sesuatu yang berbasis internet, seperti menggali sumber-sumber keagaman dari internet dan media sosial. Bahkan yang mengakses pun tidak sedikit.

Dengan adanya pergeseran ini membuat para penulis maupun penerbit menciptaakan tulisan literatur keislaaman melalui media sosial. Para agen pun tak ragu lagi untuk bekerja sama dengan LDK (Lembaga Dakwah Kampus) dan Rohis (Rohani Islam).

Banyaknya para mubaligh populer yang menyebar lewat media sosial, seperti Google, Instagram, Facebook, serta Youtube menjadi sebuah sarana yang mudah dan dirasa paling efektif untuk mempopulerkan nama-nama para penceramah baru.

Tingginya hasrat serta keinginan masyarakat utuk mendalami agama, hal ini dirasa perlu mendapatkan perhatian khusus oleh Kementerian Agama maupun para kelompok-kelompok keagamaan agar bisa menghadirkan para ustaz-ustaz pilihan yang membawa pesan Wasathiyah Islam (Islam Moderat).

Pada masa-masa ini pemerintah masih belum membahas khusus akan kasus ini, pada akhirnya dipenuhi atau diisi oleh para penceramah yang intoleran. Mereka biasanya membuat majelis pengajian khusus dan mempublikasikannya melewati media sosial.

Baca Juga  New Normal Kampus Merdeka

Setahun terakhir bidang ilmu serta teknologi berkembang sangat pesat dengan menghadirkan banyak kemudahan bagi penikmatnya. Lahirnya beragam media online ini memudahkan dalam mengakses internet. Hanya dengan bermodalkan gadget, tak perlu lagi repot-repot membeli serta berlangganan koran atau majalah. Orang bisa dengan mudah mengakses berita apapun baik dari akun jejaring sosial atau dari media-media online lainnya.

Segala pertanyaan yang susah dipecahkan atau bahkan pertanyaan mengenai agama sekalipun mereka cari di internet, dengan cepat jawaban yang diinginkan pun didapatkan. Belajar di internet juga tidak selalu melahirkan hal positif. Ibarat buah simalakama: di satu sisi menawarkan surga di sisi lain mengiming-ngimingi neraka.

Dengan kata lain, belajar di internet khususnya belajar agama atau bisa disebut ngaji kiai Google ini juga memiliki dampak negatif. Contoh banyak orang tidak pernah ngaji fikih tetapi ngomongnya fikih kelas tinggi hanya karena dia mempunyai data tersebut dari internet dan medsos, sehingga dia tidak tahu porsi serta proposisi yang telah diomongkan ini merupaka efek kegemukan informasi yang tidak penting-penting dimengerti. Akhirnya, mereka mudah menghakimi orang lain hanya melalui sepenggal ayat ataupun hadis.

Terutama saat masa pandemi Covid-19 seperti ini, terdapat banyak opini yang beredar terutama pada situs-situs keagamaan. banyak berita yang dilebih-lebihkan atau bahkan tak sesuai fakta. Contohnya seperti ketiga website keislaman eramuslim.com, nahimunkar.com serta islami.co.

Ketiga akun tersebut memiliki perbedaan yang mana eramuslim.com lebih banyak memuat berita-berita opini serta menyebar berita kebencian. Berita yang mereka muat lebih condong memuat unsur seruan jihad ke syariah, paham-paham takfiri, mengobarkan semangat permusuhan antar/sesama umat beragama, memuat unsur SARA, dan lain sebagainya. Sehingga akun ini masuk dalam daftar Kominfo sebagai daftar akun radikal,. Akun ini pun sudah pernah diblokir.

Baca Juga  Berislam dengan Santuy

Nahimunkar.com, hampir sama dengan akun eramuslim.com sama-sama memuat berita-berita bersifat opini serta menyebar kebencian. Dengan membawa misi melawan “kesesatan”. Media yang didirikan Hartono Ahmad Jaiz ini mengklaim dirinya sebagai bagian dari afiliasi organisasi tertentu, sehingga sulit untuk menentukan siapa dan seperti apa ideolognya.

Namun dari segi konten yang disuguhkan dan alur logika berpikir media ini lebih condong ke gerakan dakwah Salafi-Wahabi. Dalam portal ini Ahmad Jaiz gigih membantah aliran-aliran sesat, paham munkar, budaya destruktif, serta politisi-politisi busuk dari kalangan sekuler. Sehingga ia melakukan jihad pena melalui media nahimunkar.com.

Sedangkan islami.co bertolak belakang dengan kedua akun di atas. Mereka cenderung memuat konten berita, opini, dan kajian yang sangat moderat. Situs tersebut didedikasikan untuk menyebarluaskan informasi dan gagasan yang mendukung tumbuhnya masyarakat yang penuh toleransi dan kedamaian.

Situs tersebut didirikan oleh Muhammad Syafi’ Alielha. Sosok ini pernah menjadi aktivis NU Online sejak tahun 1998. Oleh beberapa kalangan, portal ini masuk ke dalam golongan portal ormas, santri atau pesantren, tetapi hal ini mereka tolak karena mereka beranggapan bahwa portal ini layak diplot sebagai portal milenial-multikultural, Sehingga status portal ini berada di tengah-tengah antara ormas, santri dan pesantren dengan golangan milenial serta multikultural.

Kehadiran media baru membuat mereka gencar melancarkan aksi dalam mengukuhkan identitas kelompok dengan membawa sebuah wacana. Wacana tersebut lah yang bergerak sirkulatis di dalam internet. Sehingga berbagai bentuk informasi dapat disebarluaskan secara cepat bahkan hanya dalam hitungan detik mengalahkan media elektronik serta cetak seperti radio, televisi, buletin, koran, tabloid, majalah.

Kharisma Ulmadinah
Kharisma Ulmadinah Alumnus Prodi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya