Mufid Ketua APPTIS Jawa Timur

Sinergitas Pustakawan dan Dosen/Peneliti Menuju Research University

3 min read

source: wikipedia

Research university merupakan institusi yang menfokuskan upaya untuk mendidik generasi masa depan dan masyarakat akademik terlibat dalam berbagai riset di tingkat global. Universitas riset memiliki ciri khas yang sangat internasional dan mengglobal dalam hal perekrutan mahasiswa, SDM, dan dalam kolaborasi riset.

Dalam lingkungan Research university, Perpustakaan  memiliki posisi strategis dalam menfasilitasi dan mendukung tercapainya tujuan universitas (Adham dkk, 2015). Keterlibatan dan kontribusi perpustakaan digambarkan secara jelas dalam proses pendidikan, riset dan komersialisasi dalam lingkungan universitas riset sehingga pustakawan dan dosen/peneliti memiliki ruang untuk dapat saling bersinergi dalam kegiatan riset di lingkungan PTKIN yang sedang menuju research university.

Diskusi tentang besarnya ruang sinergitas pustakawan dan dosen/peneliti dalam kegiatan riset dapat dimulai dengan mendiskusikan standar mutu perpustakaan universitas. Dalam beberapa standar perpustakaan universitas, baik dalam dan luar negeri, sebenarnya telah menunjukkan adanya ruang bagi pustakawan untuk berperan lebih intensif selama kegiatan riset berlangsung hingga sampai publikasi riset.

Misalnya, Standar Nasional Perpustakaan Perguruan Tinggi (SNP-PT) yang dikeluarkan oleh Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (2017) yang kemudian dijelaskan secara rinci dalam instrumen akreditas perguruan tinggi yang dikeluarkan oleh Lembaga Akreditasi Perpustakaan Nasional (LAP), telah memberikan ruang pustakawan untuk berkolaborasi dan bersinergi dengan para peneliti dan dosen dalam komunikasi ilmiah, walaupun standar ini belum sepenuhnya menunjukkan dinamika peran pustakawan dalam perubahan lingkungan riset/komunikasi ilmiah hari ini.

Sementara  Standar yang dikeluarkan oleh Association of College and Research Libraries (2018), Peran pustakawan terlihat lebih jelas dalam indikator kinerja yang menunjukkan sinergitas pustakawan dan dosen/peneliti dalam proses riset. Namun demikian, semua standar perpustakaan perguruan tinggi, walaupun sangat beragam pada titik penekanannya, telah memberikan ruang bagi pustakawan untuk bersinergi dengan dosen/ peneliti dalam siklus riset mulai pada tahap identifikasi topik riset hingga pada tahap publikasi riset.

Baca Juga  Efek Covid-19 Lahirkan Jutaan Imam dan Khatib Dadakan

SNP-PT memberikan ruang bagi pustakawan untuk berperan dalam komunikasi ilmiah selama proses riset yang dilakukan oleh dosen/peneliti. Sedangkan, dalam Standar Association of College and Research Libraries (ACRL), peran pustakawan dalam siklus riset ditunjukkan pada indikator prinsip peran pendidikan (educationa role).

Dari kedua standar di atas, sesungguhnya peran nyata pustakawan dalam proses komunikasi ilmiah untuk mengembangkan dan mendukung pada proses riset dalam hal membantu menemukan, mengakses, dan menggunakan informasi secara efektif untuk keberhasilan akademis, riset, dan pembelajaran seumur hidup.

Pentingnya peran pustakawan dalam riset ini maka diperlukan kemampuan pustakawan sebagai penghubung para peneliti/dosen, membangun kemitraan dengan fakultas/prodi, dan kemampuan dalam bidang pengetahuan tertentu (subject specialist) sebagai jalan komunikasi kepada para peneliti/dosen.

Sinergitas Pustakawan dalam Proses Riset Dosen/Peneliti di Lingkungan PTKIN

Perubahan lanskap komunikasi ilmiah saat ini, dan membanjirnya informasi digital, maka peran pustakawan sangat penting dalam proses riset dosen/peneliti. Ada banyak artikel-artikel yang mengulas sinergitas peran pustakawan baru dalam komunikasi ilmiah saat ini dengan titik penekanan yang beragam. Keterlibatan pustakawan dalam komunikasi ilmiah sesungguhnya merupakan bentuk sinergitas pustakawan dan dosen/peneliti.

Di luar negeri, dalam berbagai diskusi seminar, temuan hasil riset dan sebagaimana yang digambarkan dalam standar ACRL, pustakawan terlibat aktif dalam komunikasi ilmiah. Sementara di Indonesia, sinergitas peran pustakawan akademik belum sejauh dan sekompleks dengan pustakawan akademik di luar negeri. Namun pustakawan akademik di Indonesia mulai terlihat adanya upaya kuat untuk memerankan diri dalam memenuhi kebutuhan riset masyarakat akademik. Ada tiga contoh penting tentang keterlibatan/sinergitas pustakawan dalam proses riset dosen/peneliti yang sedang berkembang dan menjadi kesadaran bersama bagi pustakawan PTKIN dalam merespon perubahan komunikasi ilmiah saat ini.

Baca Juga  Membincang Patologi Etno-Religion Muhammadiyah dan NU

Selain yang dilakukan oleh pustakawan PTKIN di atas, perluasan peran pustakawan Indonesia ditunjukkan oleh pustakawan LIPI yang telah membangun infrastruktur Repositori Ilmiah Nasional (RIN) untuk pengelolaan data mentah riset (RDM) yang bisa diakses dengan alamat http://rin.lipi.go.id/.

Dalam pengamatan penulis, secara umum peran pustakawan dalam kegiatan riset kolaboratif dengan peneliti/dosen dalam bidang ilmu perpustakaan dan informasi, dan sebagai dosen tamu di prodi ilmu perpustakaan dan informasi belum terlihat. Selanjutnya mayoritas pustakawan hanya melakukan riset secara mandiri sebagai upaya untuk memenuhi kebutuhan pengkajian kepustakawanan.

Namun, jika pustakawan terlibat dalam riset peneliti (riset kolaboratif), masih sedikit dan sebatas pada pengumpulan kuesioner atau mengirimkan surat undangan (Riyanto dkk, 2019). Hal ini tentu menarik untuk dilakukan riset lebih lanjut karena sesungguhnya pustakawan dapat terlibat lebih jauh dalam siklus riset di universitas seperti yang dilakukan oleh para peneliti di negara-negara maju (Amerika, Inggris, Australia).

Berdasarkan uraian di atas, maka isu-isu komunikasi ilmiah seharusnya menjadi kesadaran bersama seluruh perpustakaan universitas di Indonesia, khususnya perpustakaan PTKIN, untuk mengintegrasikan bagaimana informasi dikomunikasikan (komunikasi ilmiah) ke dalam misi, tujuan dan sasaran perpustakaan; memberikan pelayanan komunikasi ilmiah;  dan mengintegrasikan komunikasi ilmiah ke dalam seluruh pekerjaan perpustakaan (Gilman & Safari, 2013).

Selanjutnya untuk menguatkan peran pustakawan, perpustakaan PTKIN perlu memiliki divisi khusus komunikasi ilmiah untuk berfokus pada advokasi isu-isu komunikasi ilmiah dan isu-isu akses terbuka yang berkembang saat ini (Mullen, 2010), misalnya tentang kebijakan pengembangan repositori dan pengelolaan data riset sebagai hasil sarana untuk membantu mahasiswa, dosen dan peneliti dalam kegiatan studi dan riset serta diseminasi pengetahuan baru.

Skenario: Upaya Meningkatkan Sinergitas Pustakawan dan Dosen dalam Siklus Riset

Baca Juga  Jangan Menjadi Ustaz Palsu

Sebenarnya, kesadaran untuk meningkatkan peran perpustakaan dan pustakawan di lingkungan PTKIN ditunjukkan oleh upaya Direktorat Pendidikan Tinggi Islam dengan menggandeng Asosiasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Islam (APPTIS) untuk membuat peta jalan (road map) pengembangan perpustakaan PTKIN yang diselenggarakan di Kota Bali Tahun 2019. Hasilnya berupa Grand Design Pengembangan Perpustakaan PTKIN 2020-2024.

Selanjutnya, untuk menjadi kesadaran bersama dalam meningkatkan peran pustakawan di Indonesia, maka  perlu adanya upaya bersama semua Asosiasi Perpustakaan dan Pustakawan (APPTIS, FPPTI, FKP2TN, IPI) dalam menanggapi isu-isu komunikasi ilmiah.

Demikian potret sekilas tentang peran pustakawan, khususnya sinergitas pustakawan dan dosen/peneliti di lingkungan PTKIN. Potret ini menunjukkan ada peran signifikan pustakawan turut hadir dalam proses siklus riset menuju research university walaupun masih perlu ditingkatan lebih jauh lagi seperti yang dilakukan oleh pustakawan akademik di negara maju.

Peningkatan peran ini tidak cukup hanya dilakukan oleh perpustakaan dan asosiasi perpustakaan, tapi juga perlu adanya dukungan kebijakan internal dan eksternal dari para pengambil kebijakan antara lain, kebijakan universitas, kementerian dan perpustakaan nasional. [AA]

Mufid
Mufid Ketua APPTIS Jawa Timur