Nur Khalik Ridwan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia, Gombang, Sleman; Penulis Buku Ensiklopedi Khittah Nahdlatul Ulama, Masa Depan NU, Sejarah Lengkap Wahabi, NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan, dll.

Alissa Wahid: Fokus dengan Dunia Pendidikan dan Kebudayaan

4 min read

Source: dewimagazine.com

Alissa Wahid atau Alissa Qotrunnada Munawwarah Wahid, merupakan penggerak utama Jaringan Gusdurian (yang bergerak di level kultural), dan berbagai gerakan gerakan di masyarakat. Bersama KH. Abdul Ghafar Razin, Ning Nida’us Saadah, Gus Aam, Hakim Jayli, dan beberapa yang lain, menginisiasi dan menjadi penasihat diselenggarakannya Muktamar anak muda NU di Tambakberas, pada waktu Muktamar NU diselenggarakan di Jombang (2015).

Pertemuan anak-anak muda NU itu bertempat di UNWAHA, yang suksesnya acara itu, banyak berkat usaha-usaha penting yang dilakukan Ning Nidaus Saadah dan Gus Aam, yang keduanya dari Pesantren Tambakberas sendiri.

Alissa Wahid adalah anak pertama Gus Dur dan Hj. Shinta Nuriyah, yang lahir pada tanggal 25 Juni 1973 di kompleks Pesantren Denanyar, Jombang. Saat kelahiran anak pertama itu, sebagaimana diungkapan Greg Barton dalam Biografi Gus Dur (2003: 116), rumah sederhana Gus Dur di kompleks pesantren itu baru saja rampung, dan Gus Dur sudah sering bepergian wira-wiri dari LP3ES-Jombang; tetapi pasangan Gus Dur dan Nyai Hj. Shinta Nuriyah saat itu, masih berusaha menutupi kekurangan belanja hariannya dengan berjualan kacang tayamum dan es lilin, yang diantar Gus Dur dengan sepeda vespa sekuter. Gus Dur sendiri memiliki beberapa anak dan semuanya perempuan: Alissa, Yenny, Anita, dan Inayah.

Nama Alissa Qotrunnada, diberikan Gus Dur, menurut kutipan KH. Hussein Muhammad, sebagaimana disebutkan dalam bangkitmedia.com, agak panjang begini:

“Alissa adalah nama tokoh utama dalam novel berbahasa Prancis yang dalam bahasa Indonesia berjudul “Gerbang yang Tertutup”. Novel ini mengisahkan seorang gadis bernama Alissa. Dia mencintai sepupunya. Gadis Alissa terombang-ambing oleh rasa cinta, rasa takut dan rasa bimbang. Situasi jiwa yang bergolak itu akhirnya justru menghaluskan perasaannya.”

“Peristiwa psikologi pada diri Alissa itu membawa diri saya (Gus Dur) kepada kesadaran bahwa di balik semua itu: yang mengacaukan, yang membingungkan dan yang menggelisahkan, tampak yang abadi. Yaitu Tuhan. Karena itulah orang-orang yang mendapati kebesaran Tuhan, akan menemukan jalan untuk membuka gerbang yang tertutup ini menjadi sangat luas. Dari sini kita dapat memahami seni dan budaya berfungsi agar hidup kita tidak terlalu serba pasti dan tidak serba benar. Sedemikian besar pengaruh ketokohan dan sosok Alissa dalam diri saya, sehingga nama itu saya berikan untuk putri pertama saya. Sementara nama Qathrunnada diambil dari nama sebuah kitab Nahwu (gramatika Arab) yang ditulis oleh Ibnu Hisyam: Qathrunnada wa Ball ash-Shada” , yang berarti Tetesan Embun dan Membasahi Kehausan).”

Baca Juga  Kiai Taufiqul Hakim: Sang Kiai Penyair

Karena hidup di pesantren, Alissa Wahid kecil bersama keluarga Gus Dur, hidup bersosialisasi di dalam keluarga santri dan pondok terkenal Denanyar, dan juga keluarga Pesantren Tebuireng Jombang, yang juga tempat Gus Dur dilahirkan.

Kakek buyutnya dari pihak ibu adalah pendiri NU, KH. Bishri Syamsuri (1971-1980, pernah menjadi Rais Am PBNU setelah KH. Abdul Wahab Hasbullah yang wafat tahun 1971); dan dari pihak ayah adalah KH. Hasyim Asyari (Rais Akbar NU). Sejak KH. Bisri Syamsuri wafat tahun 1980, keluarga Gus Dur pindah ke Jakarta, tepatnya di Ciganjur Utara. Rumah yang ditempati keluarga dan anak-anaknya ini sederhana dan kecil.

Ketika tahun 1987, menurut penjelasan dalam Biografi Gus Dur, yang ditulis Greg Barton, Gus Dur dan keluarganya pindah lagi dan menyewa rumah yang jauh dari kota Jakarta Pusat dan PBNU. Pada saat inilah Alissa sudah sekolah di sekolah menengah bersama Yenny (anak kedua Gus Dur); dan Anita (anak ketiga) hampir menyelesaikan SD. Anak-anak Gus Dur ini, termasuk Alissa menempuh pendidikan sekolah menengah di Jakarta, dan karenanya pergaulan mereka menjadi semakin luas, bukan hanya di lingkaran santri Nahdliyin. Alissa kemudian melanjutkan sekolah di perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta, tepatnya di Fakultas Psikologi UGM.

Meskipun sebenarnya ahli sebagai psikolog, tetapi Alissa Wahid, setelah lulus bergiat dalam gerakan masyarakat, di antaranya ikut mendirikan dan membina sejumlah pendidikan internasional dan unggul di Yogyakarta, seperti SD Tumbuh, Fastrack Funschool dan Yogyakarta Community School. Sebagian sekolah-sekolah terkenal dan unggulan yang dibuat para aktivis di Yogyakarta, juga komunitas-komunitas gerakan, sebagiannya selalu menjadikan Alissa sebagai bagian penting di dalamnya dan berjejaring.

Aktivitas Alissa di dalam pergerakan masyarakat, semakin matang ketika Gerakan Nasional Gusdurian didirikan pada tahun 2012, dan berpusat di Yogyakarta. Berbagi dengan adiknya, Yenny Wahid yang fokus di bidang politik, Alissa memilih fokus di dunia pendidikan, kultural, dan kebudayaan. Alissa menjadi Koordinator Sekretariat Nasional Gusdurian, yang anggotanya terdiri dari berbagai komunitas yang tersebar di tanah air. Dengan demikian, jam terbangnya untuk bertemu dengan para aktivis di daerah semakin banyak, tidak hanya di Yogyakarta dan di Jawa, tetapi juga di luar Jawa.

Baca Juga  KH Thoifur Ali Wafa dari Madura dan Kitab Firdaws al-Na‘īm

Sampai akhir tahun 2012, tidak kurang dari 60-an komunitas Gusdurian lokal telah ada dan terhubung dengan Seknas Gusdurian; dan sekarang (2019) tidak kurang dari 130-an komunitas tersebar di seluruh Indonesia, merupakan jaringan yang terkoordinasi dengan Seknas Gusdurian. Kelompok-kelompok jaringan Gusdurian di tingkat lokal sering mengadakan kelas-kelas pemikiran Gus Dur, dan menjalin hubungan jaringan, dan juga sering meminta Alissa Wahid untuk datang di berbagai komunitas itu.

Dalam kapasitasnya sebagai penggerak utama Gusdurian, pernyataan-pernyataan Alissa sering dikutip media massa, berkaitan dengan sikap-sikap Gusdurian terhadap masalah bangsa dan politik. Kader-kader yang dididik melalui Gusdurian, berkampanye, melakukan riset dan menyebarkan gagasan-gagasan Gus Dur yang dituangkan dalam 9 Nilai Utama Gus Dur: Ketauhidan, Kemanusiaan, Keadilan, Kesetaraan, Pembebasan, Persaudaraan, serta Kesederhanaan, Sikap Ksatria, dan Kearifan Tradisi.

Di dalam dapur Gusdurian yang dikoordinir Alissa Wahid, terdapat beberapa anak muda yang berdedikasi dalam mengembangkan dan menghidupkan jaringan Gusdurian, yang mereka ini adalah merupkan murid-murid langsung dari Alissa Wahid. Di antara mereka adalah Jay Ahmad, Heru Prasetia, Rifa Mufidah, Mukhibullah Ahmad, Sarjoko, Autad an-Nashr, Nur Sholihin, dan Della Sari.

Jaringan Gusdurian sendiri, berada di bawah Yayasan Bani Abdurrahman Wahid (YBAW), yang membawahi selain jaringan Gusdurian, juga Abdurrahman Wahid Center for Peace and Humanity UI (AWCPH UI), Jaringan Kios Rakyat, dan Pojok Gus Dur. Di YBAW sendiri, aktivis-aktivis yang terlibat di situ di antaranya, Suraji, Zahriyatul Humaira, dan beberapa yang lain.

Alissa Wahid juga aktif di lingkungan Nahdlatul Ulama Yogyakarta, sebagai wakil ketua LKKNU DIY, yang ketuanya adalah Nasikh Ridwan; juga menjadi sekretaris PP LKKNU; dan datang untuk memberi semangat di pertemuan-pertemuan anak muda NU di berbagai daerah. Di LKKNU DIY, Alissa Wahid, bergiat bersama beberapa orang, di antaranya: Saeroni, Ahmad Ghozi, dan lain-lain.

Baca Juga  Obituari: M. Nursamad Kamba, Teladan yang Menginspirasi

Dalam kapasitasnya sebagai aktivis yang bergerak di bidang kemaslahatan keluarga, Alissa juga terlibat dalam tim pembuatan modul keluarga sakinah/mashlahah bersama, Nur Rofiah, Faqihuddin Abdul Qadir, Adib Machrus, dan beberapa yang lain.

Selain sebagai psikolog, penggerak, dan pendidik, dan trainer handal, Alissa juga ulung berpuisi. Misalnya, ketika ada acara acara tahlil kebangsaan di Masjid UIN Sunan Kalijaga dalam acara sewindu Gus Dur pada 4/1/2-18, Alissa membaca puisi berjudul “Lelaki yang tak Punya Mata”, sebuah parodi ketika dia diejek oleh pembenci Gus Dur sebagai “anak si buta”.

Di Yogyakarta, gerakan-gerakan kaum muda NU, yang memiliki beberapa komunitas, selalu menjadikan Alissa tempat untuk berkonsultasi, silaturahmi dan memperkuat jaringan. Komunitas-komunitas ini, meskipun tidak menjadi bagian dari Gusdurian, tetapi menempatkan Alissa Wahid sebagai guru gerakan, secara kultural.

Hubungan Alissa Wahid dengan kiai-kiai lokal di Yogyakarta juga terjalin baik, di antaranya dengan KH. Hasan Abdillah, KH. Mu’tashim Billah, Kiai Marzuki Kurdi, dan banyak kiai yang lain; juga terhubungan dengan guru-guru muda NU yang lain, seperti Imam Aziz, M. Jadul Maula, Kiai Mustafid, Gus Irwan Masduki, Hairus Salim, dan banyak yang lain.

Selain itu, Alissa juga menjadi Sekjen Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK), yang diketuai oleh Moh Mahfud MD. Gerakan Suluh kebangsaan melakukan kegiatan-kegiatan rekonsiliasi pasca Pemilu, bersilaturahim kepada tokoh-tokoh penting, dan melakukan diskusi-diskusi unik di berbagai stasiun kereta api. Beberapa tokoh GSK, di antaranya Franz Magnis Suseno, Erry Riyana Hardjapamekas, Al-Hilal Hamdi, dan lain-lain.

Alissa menikah dengan Erman Royadi pada Juli 1999, sebagaimana dituturkan di mojok.co: “Saya menikah Juli 1999. Tiga bulan sebelum Gus Dur jadi presiden. Saat itu suasana politik serbakacau, saya dan suami tidak mungkin pergi bulan madu. Tiba-tiba, Gus Dur jadi presiden. Ke mana-mana kami dikawal Paspampres.”

Bersama suaminya, yang oleh teman-teman Gusdurian sering dipanggil Mas Mbem, Alissa dikarunia beberapa anak, di antaranya Parikesit Nuril Azmi, Shabrina Aksara Ashakiran Arinka, Dimas Adjani Ismoyo Maulana Annadzief, dan Areta Zakiyah Saka Asmara. [MZ]

Nur Khalik Ridwan
Nur Khalik Ridwan Pengasuh Pesantren Bumi Cendekia, Gombang, Sleman; Penulis Buku Ensiklopedi Khittah Nahdlatul Ulama, Masa Depan NU, Sejarah Lengkap Wahabi, NU dan Bangsa 1914-2010: Pergulatan Politik dan Kekuasaan, dll.