Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online

Memorial 100 Hari Wafatnya KH. Agus Sunyoto (3)

1 min read

Sebelumnya: Memorial 100 Hari Wafatnya… (2)

Saya ingin menutup kenangan kecil ini dengan menunjukkan hal lain yang “khas” pada Mas Agus. Semangat dia untuk menempuh historiografi alternatif ini tampak juga dalam cara dia berpakaian. Pertama, ia selalu tampak dengan tampilan fisik yang unik: ia memiliki jenggot dan kumis yang jelas berbeda sekali dengan “jenggot salafi.” Ia selalu memakai kopiah ke manapun ia pergi. Ia memakai pakaian yang amat sederhana. Dan ia pun hidup dengan gaya hidup yang “semenjana,” sedang-sedang saja, bahkan cenderung sederhana sekali.

Orang yang duduk di samping Mas Agus tidak akan merasakan “aura pretensi” apapun. Dia tidak tampak ingin dilihat sebagai seorang kiai, intelektual, cendekiawan, dosen, atau apapun. Ia tampil tanpa beban apapun. Bagi saya, ini adalah sikap “kerohanian” yang amat patut diapresiasi. Tampilan fisik semacam ini bagi saya bukanlah sesuatu yang terjadi secara acak dan kebetulan saja. Ini jelas ada kait-mengaitnya dengan wawasan “epistemologis” Mas Agus yang ingin menenpuh jalur alternatif dalam penulisan sejarah.

Dalam banyak kasus, saya sering melihat kaitan (meskipun ini sulit dibuktikan) antara wawasan teoritis seseorang dengan cara ia berpakaian, bertindak, dan berbicara di depan khalayak ramai. Seseorang yang memiliki “passion” pada kekuasaan dan politik, misalnya, cenderung (meski ini tidak “muttarid,” berlaku dalam semua kasus) akan tampil dengan gaya hidup dan gaya berpakaian tertentu.

Saat berbicara dan bercakap-cakap dengan Mas Agus pun, saya juga tidak merasakan adanya “pretensi” tertentu. Dia memiliki “strong opinion,” pendapat yang solid mengenai hal-hal yang berkaitan dengan sejarah, tetapi dia juga tidak cenderung memaksakan pendapatnya itu, atau mendakwahkannya secara “misionaris” kepada orang-orang lain.

Baca Juga  Kiai Achmad Machsun dari Bojonegoro: Mendirikan Pesantren Rehabilitasi untuk Anak-anak Marginal

Dengan kata lain, sikap keilmuan Mas Agus dalam bidang sejarah tidak saja berhenti sebagai “posisi teoritis” saja, melainkan “tembus” ke dalam laku kehidupan sehari-hari. Karena itu, di mata saya, Mas Agus bukan sekedar seorang “ilmuwan” dan “sejarawan” dalam pengertian yang kita kenal di kalangan academia.

Dia menulis sejarah sebagai ilmu dan sebagai laku sekaligus. Ini adalah “etos kesarjanaan” yang jelas tidak asing bagi orang-orang yang pernah menjalani pendidikan di pesantren. Theoria dan praxis, ilmu dan amal bersatu, bukan dua hal yang dipisahkan. Bagi Mas Agus, menulis sejarah juga bukan semata-mata tindakan ilmiah belaka, tetapi “tindakan etis.” Apa yang saya maksud dengan tindakan etis di sini ialah sesuatu yang dikerjakan dengan tanggung-jawab etis tertentu.

Dengan kata lain, menulis sejarah mengandung sebuah “misi moral,” bukan semata-mata menafsirkan peristiwa sosial dengan sikap yang (seolah-olah) “obyektif”. Tanggung jawab moral di sini ialah: membela orang-orang yang lemah, dan memberdayakan mereka. Ini, tiada lain, adalah perwujudan langsung dari ajaran “ingsun” yang diwedarkan oleh Syekh Siti Jenar sebagaimana dipahami oleh Mas Agus. Menulis sejarah adalah menulis narasi dengan tujuan pokok, yaitu menanamkan kesadaran “ingsun” yang otonom dan merdeka pada komunitas yang selama ini dipinggirkan atau dipandang bukan sebagai sumber yang layak untuk penulisan sejarah. (mmsm)

Jatibening, 17 Juni 2021

 

Ulil Abshar Abdalla Pegiat Ngaji Ihya Ulum al-Din dan al-Munqidh min al-Dalal Online