Mengenal Teologi Negatif Abu Nawas

Perjalanan kalam memang tidak ada habisnya untuk terus diperbincangkan. Perdebatan tentang kalam terjadi pada masa Dinasti Abbasiyah. Dimana para mutakallimun awal mendebatkan perihal “ucapan Allah” dan penciptaan Al Qur’an. Banyak ajaran-ajaran yang mengarahkan untuk kembali pada Al-Qur’an dan Sunnah, tetapi pasti akan timbul konflik antar sesama umat. Namun, ketika ajakan untuk meninggalkan Al-Qur’an dan Sunnah, bahkan hampir tidak ada yang menanggapi.

Abu Nuwas menjadi salah satu sosok yang fenomenal dengan kontroversinya. Sampai saat ini namanya terus digunakan dalam anekdot-anekdot dan cerita-cerita Islami. Kontroversial Abu Nuwas karena memiliki kelebihan dalam kehidupan beragama dan kemasyarakatan. Namun, kontroversial lainnya ia dianggap zindiq karena perilakunya yang selalu menyimpang dari syariat, seperti mabuk-mabukan, bermain wanita, dan mencintai lelaki. Gaya hidup yang menyimpang ini terus dilakukan kecuali syirik. Selain itu ia juga memiliki keberanian untuk mengkritisi, menentang, bahkan melawan kekuasaan yang menghegemoni.

Meskipun Abu Nuwas dituduh zindiq bahkan kafir, tetapi hal itu tidak semata melunturkan keimanannya kepada Allah swt. Ia melawan dogmatisme, menegasikannya sehingga merefleksikan pemeliharaan teologi filosofis sebagai dimensi keagamaan. Lantas seperti apa kelanjutan teologi negatif Abu Nuwas di tengah masyarakat?

Zindiq Abu Nuwas
Abu Nuwas tak henti-hentinya menentang agama. Tidak jarang ia mendapat teguran bahkan hukuman karena sering mengolok khalifah dan dengan terang-terangan meminum khamr. Pernah saat itu Abu Nuwas hendak melaksanakan shalat berjamaah dan sedang dalam keadaan mabuk. Ketika imam membaca surah al-Kafirun, saat membunyikan ayat qul ya ayyuh alkafirun, Abu Nuwas menjawab dengan labbaik (aku sambut panggilanmu, dan dengan setia, aku siap menerima perintahmu). Jika orang-orang tidak tahu bahwa ia seorang pelawak, maka ia akan dihukum.

Zindiq-nya Abu Nuwas dipicu oleh gerakan nasionalismenya yang menentang diskriminasi pemerintah terhadap kelompok minoritas non-muslim dan non-Arab. Dalam hal ini, Zindiq dekat dengan kufr. Namun, bagi Ibnu Manadhir Abu Nuwas bukan seorang zindiq melainkan seorang yang menyegarkan suasana dengan lawakannya. Zindiq Abu Nuwas tidak mengarah pada persoalan teologis melainkan hanya tertawaannya terhadap agama. Ia tidak kufr tetapi hanya bersikap kritis dan elegan terhadap agama. Ekspresifnya hanya di lisan dan tidak sampai ke keyakinan hati.

Teologi Negatif Abu Nawas

Perannya dalam ilmu kalam ketika berlangsung tarik menarik arus Sunni dan Syi’ah. Abu Nawas sendiri berada diantara dua pihak ini. Perdebatannya yang dimulai dari olokan, ejekan, dan dengan cara yang jenaka mengeluarkan pemikiran teologinya.

Abu Nuwas melihat perlakuan yang berbeda oleh penguasa terhadap syari’at agama. Manusia terus berkembang secara progresif dan maju terus menerus. Namun, kenyataannya kemajuan yang dicapai Baghdad tidak semua mendapat dampak positif, tidak sedikit dari mereka yang memanfaatkan kemenangan tersebut untuk berfoya-foya. Hal itu lantas mengundang semangat nasionalisme Abu Nuwas menggebu. Ia mengelabuhi pemerintah dengan cerdas  dengan cara jenaka dan kelaka. Hal itu yang kemudian menjadi jalan teologi Abu Nuwas yang dikategorikan sebagai Teologi Negatif.

Terdapat empat hal yang menjadi landasan dalam membangun teologi negatif-nya yakni, budaya, etika, sosial, politik. Hal itu digunakan untuk mengkritisi tradisionalisme. Pertama-tama yang dilakukan adalah menegasikan (melawan) realitas plus (+) dengan realitas minus (-). Dalam hal ini, Abu Nuwas tidak lagi menjadi pencipta (aku) melainkan sebagai pengguna (yang lain) yang tidak pernah mencampuri kedua realitas. Oleh karena itu munculah disini skeptisme dan “biarinisme” (dari kata Indonesia ‘biar’) sebagai salah satu ciri teologi negatif. Ketika menjadi ‘yang lain’ itu lah ia menunjukkan kekritisan dan mendapat kebebasan.

Abu Nuwas melihat ampunan Allah sangatlah luas, sebagai seorang Murji’ah pengampunan Allah lebih luas dari pada perbuatan dosa yang telah dilakukannya selagi tidak membahayakan iman. Abu Nuwas pun menempuh jalan zuhud karena merasa telah lalai dalam hidup yang serba jenaka (mujun). Dalam menempuh zuhud ia melalui tiga tahap, yaitu penyesalan (nadam), taubat, dan pasrah (tawakkal). Ia benar-benar bertaubat dan tidak diikuti perbuatan maksiat dan bukan pertaubatan yang munafik. Dosa menurut Abu Nuwas tetap bersemi dan tidak akan mati selama hati manusia itu buta.

0

Mahasiswa UIN Sunan Ampel Surabaya

Post Lainnya

Arrahim.id merupakan portal keislaman yang dihadirkan untuk mendiseminasikan ide, gagasan dan informasi keislaman untuk menyemai moderasi berislam dan beragama.