Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya

Fungsi Akal dalam Berpikir dan Bertindak

3 min read

Sumber: Kompasiana.com

Kekerasan merupakan suatu tindakan yang mengacu pada sikap atau perilaku yang tidak sebagaimana mestinya, sehingga dapat menyakiti orang lain yang menjadi korban kekerasan tersebut dan membawa kerugian bagi kedua belah pihak. Perempuan tidak jarang menjadi objek dari kekerasan tersebut. Dan pesantren, tidak terkecuali menjadi tempat terjadinya kekerasan itu.

Belakangan ini kerap ditemukan kasus kekerasan seksual di dalam lingkungan pesantren. Ada yang dilakukan oleh pengasuhnya sendiri seperti kasus Herry Wirawan yang memperkosa 13 santriwati di Bandung. Ada pula yang menjadi sorotan lantaran proses penangkapannya yang penuh drama, oleh Moch Subchi Azal Tzani (MSAT) alias Mas Bechi, putra seorang pengasuh Pondok Pesantren Shidiqiyyah di Jombang.

Untuk kasus yang terjadi di Pondok Pesantren Shidiqiyyah Jombang, satu di antara beberapa hal yang perlu digarisbawahi adalah bahwa terduga pelaku menggunakan istilah “metafakta”. Metafakta dimaksud adalah semacam ilmu kesaktian yang meliputi segala sesuatu, penyembuhan terhadap penyakit, dan pemenuhan keinginan dengan menggunakan cara-cara gaib. Namun, untuk itu, penerima ilmu diminta untuk melepas semua pakaiannya agar ilmu tersebut bisa masuk. Pengajaran/transfer ilmu metafakta tersebut adalah apa yang dijadikan modus atas kekerasan seksual yang dilakukan terduga pelaku atau Mas Bechi.

Jadi apa yang Mas Bechi lakukan? Santriwati diajak untuk saling berhadapan satu per satu, kemudian disampaikan maksud tujuannya dipanggil menghadap yakni karena hendak diajari/ditransferkan ilmu metafakta. Lantas, penerima ilmu yang dalam hal ini adalah santriwati itu diminta untuk melepas semua pakaiannya. Tentu sedikit banyak santriwati menolak karena menganggap bahwa apa yang dilakukan adalah sesuatu yang salah.

Namun, Mas Bechi dengan kharismanya meyakinkan untuknya jangan berpikir menggunakan logika. Ilmu metafakta tidak akan sampai selagi penerimanya masih menggunakan akal atau mengandalkan penalaran logikanya. Seketika akal dan logika berhasil ditundukkan, saat itulah terjadi pemerkosaan.

Baca Juga  Pembaruan Pendidikan Agama Di Era Globalisasi

Akal merupakan suatu alat yang berfungsi untuk membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Sedangkan logika merupakan modul berpikir manusia untuk membantunya berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan.

Untuk itu, apabila ada tokoh, agama, kelompok tertentu, mazhab, firqah, atau apapun yang ketika membujuk kita dengan kalimat semisal: “udah, tidak usah berpikir secara logika”, “Tuhan mah tidak bisa dicapai dengan logika kita”, “bagaimana pun kita berpikir, akal kita mah terbatas”, atau kalimat-kalimat lain yang serupa yang mendegradasi kemampuan akal pikiran dan logika kita; maka pastikan itu bahwa orang atau tokoh tersebut, agama, kelompok dan/atau sebagainya itu adalah yang memiliki tujuan duniawi dengan memanfaatkan kita. Mengapa demikian?

Akal merupakan anugerah terbesar yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Jadi, kalau misalkan ada orang atau kelompok tertentu yang berusaha merendahkan akal pikiran dan logika kita itu, maka sama halnya dengan dia sedang berusaha untuk menumpulkan kemampuan kita dalam membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Kenapa harus ditumpulkan? Kemungkinan besar adalah karena dia memang sedang mengajarkan sesuatu yang salah.

Betapapun kalimat-kalimat yang disebutkan tadi itu secara kontennya adalah benar, bahwa logika kita terkadang cacat dan pikiran kita tidak bisa menjangkau sesuatu di luar sana seperti halnya Tuhan; tetapi betapapun faktanya demikian, ketika fakta yang demikian itu dijadikan sebuah alasan, maka alasan itu dapat dipastikan adalah alasan yang mendorong kita untuk melakukan hal yang tidak sebagaimana mestinya.

Orang-orang fasis menggunakan cara sebagaimana demikian, tidak usah pakai logika yang penting kerja; orang-orang teroris juga melakukan hal yang persis sama, pokoknya lakukan saja ini dan itu, tidak usah pakai logika dan lain sebagainya nanti kamu akan dapat bidadari. Oleh karena itu, jika kita menganggap fasisme dan terrorisme adalah sebuah bentuk kekeliruan, berhati-hatilah kepada kelompok, agama, atau siapapun yang mengajarkan kepada umatnya untuk jangan memakai logika, pakai iman saja, dan sejenisnya.

Baca Juga  Menjadi Muslim yang nJawani

“Tapi kan yang menakar benar dan salah adalah wahyu Ilahi, bukan akal pikiran?”

Perkatakan tersebut sebenarnya merupakan perkataan yang agak keliru. Dikatakan agak keliru karena kalau misalkan kita memahami bahwa penakar yang benar dan salah itu adalah wahyu Ilahi, maka sebenarnya kita tidak mendapatkan wahyu Ilahi itu. Kita mendapatkan wahyu Ilahi itu tidak secara langsung, melainkan melalui teks yang diwariskan dari zaman lampau. Dan untuk dapat mencerap dan memahami apa yang disampaikan dalam teks itu tidak bisa tidak kita harus menggunakan penalaran logika. Kalau tidak, maka teks tersebut tidak akan menjadi apa-apa.

Beragama memang berlandaskan keimanan, sebagaimana misalnya kita sebagai orang Islam yang harus beriman pada hadis sahih. Jadi, kalau ada hadis sahih, maka kita harus menerimanya dan jangan membantah. Hal itu disepakati bersama bukan? Artinya, di situ ada keimanan yang memang tidak boleh disanggah. Cuma, keimanan itu disandarkan pada logika. Kenapa? Karena hadis sahih itu disebut sahih berdasarkan kriteria-kriteria logika.

Umpamanya, dalam periwayatan sebuah hadis, ada seseorang berkata kepada Imam Bukhari bahwa dirinya mendapat suatu hadis dari Ahmad bin Hanbal yang mendapatkannya dari Malik yang mendapatkannya dari Yahya yang mendapatkannya dari Anas yang mendapatkannya dari Rasulullah SAW, yang mana Rasulullah SAW bersabda seperti ini seperti itu. Hadis yang didapati Imam Bukhari dari seseorang tersebut pasti akan dicoret. Kenapa seperti itu? Karena Malik bin Anas tidak pernah bertemu dengan Ahmad bin Hanbal, sehingga tidak pernah mungkin meriwayatkan hadis langsung darinya. Bukankah itu pikiran logika?

Dengan logika bahwa tidak mungkin orang yang tidak pernah bertemu kemudian saling menyampaikan pesan, Imam Bukhari menyatakan hadis tersebut sebagai hadis yang terputus. Oleh karena itu, hadits tersebut bukan termasuk hadis sahih, mengingat hadis sahih adalah hadis yang sanadnya bersambung, diriwayatkan oleh orang yang adil dan dabit, serta di dalamnya tidak terdapat illat.

Baca Juga  Menolak Vaksin seperti Belajar Islam dari Buku Terjemahan

Maka, berhubung bukan hadits shahih, hadits di atas bukan termasuk hadis yang harus diterima dan tidak boleh dibantah. Dengan demikian, dapat ketahui bahwa Imam Bukhari menyatakan sesuatu yang terkait dengan keimanan bahwa hadis sahih harus diimani, tapi kesahihan itu didasarkan pada fakta-fakta logis atau kriteria-kriteria yang berdasarkan logika.

Agama yang menuntut keimanan, sudah seharusnya dilogikakan sejak awal. Maka, ketika kita belajar ilmu-ilmu keagamaan sudah semestinya akal tetap digunakan dan kaidah-kaidah logika tidak ditinggalkan. Kedudukan akal dan logika sedemikian tinggi dan menjulang sehingga Allah SWT dalam Al-Quran, tidak sekali pun menyuruh hamba-Nya untuk tidak berpikir atau menempuh jalan secara membabi buta. Ibnu Taimiyyah mengatakan dalam Majmu’ Fatawa: “Akal merupakan syarat dalam mempelajari semua ilmu. Akal adalah mata, sedangkan agama adalah cahayanya. Cahaya tak mungkin terlihat tanpa mata, dan mata juga tak dapat melihat tanpa cahaya.

Akal merupakan anugerah terbesar yang dikaruniakan Tuhan kepada kita. Logika membantu kita untuk berpikir lurus, efisien, tepat, dan teratur untuk mendapatkan kebenaran dan menghindari kekeliruan. Dengan kita tetap berpegang teguh pada akal atau logika kita, paling tidak kekerasan dalam bentuk apapun khususnya terhadap perempuan yang menggunakan modus agama atau dalih keilmuan tertentu, dapat ditanggulangi. (mmsm)

Mohamad Khusnial Muhtar Santri dan Mahasiswa Aqidah dan Filsafat Islam UIN Sunan Ampel Surabaya