Mohammad Afifi Koordinator GUSDURian Bondowoso. Founder Padepokan Nyai Surti

Memperkuat Keberagamaan melalui Dialektika

2 min read

“Betapa larisnya agama.” Ujar kawan saya yang seorang agamawan. Agama menjelma sebagai bentuk yang hegemonik. Agama dihadirkan dan ditampilkan sebagai perwajahan yang mudah memantik emosi. Gampang menghidupkan sensitifitas. Di sinilah kemudian terlihat nyata bahwa betapa kuat dan menariknya agama.

Di sisi lain, agama mestinya dipakai sebagai ruang refleksi ke dalam diri–dalam rangka menggali spritualitas yang agung dari agama itu. Spiritualitas yang melemahkan egoisme diri, mengokohkan prinsip, dan membantai ruang-ruang ketaksportifan yang penuh tabir pembenaran. Lazimnya, agama rupanya kerap kali dipakai ke jalur-jalur di luar diri. Maka tampilannya pun menjadi suatu wujud egoisme yang berdasar pada kepentingan teks. Agama sekedar dipakai subutuhnya. Tak utuh dalam penjiwaan yang seluhur-luhurnya–manipulatif.

Hampir lupa bahwa realitas ini beragam. Dan inilah fakta keniscayaan. Beragam tak belaka di bentuk, wujud keberagaman itu nyata hadir di ruang-ruang terkecil sekalipun–watak, karakter, sifat, bahkan persepsi. Di sini kemudian betapa pentingnya dialog. Dialog yang tak sekedar mendatangi sekitar, tapi yang mampu mendatangi diri sendiri. Hingga agama mampu diracik dan diolah menjadi suatu nilai yang indah dan menggembirakan. Menciptakan kasih sayang dan tentu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan.

Mengolah atau menziarahi nilai keagamaan mestinya mengimplikasikan prilaku. Prilaku yang tak belaka teks, tak belaka perihal ambiguitas yang rapuh. Tapi terus digerakkan dalam upaya ending kekokohan yang paripurna–ulul albab. Tentu semuanya perlu argumentasi dan kebijaksanaan atas beragam pola dan fakta perwujudannya.

Dalam suatu argumentasi yang masyhur, agama itu tak lain sebuah literasi. Ruang di mana seharusnya melahirkan dialektika yang argumentatif. Hasil perdebatan argumentasi melahirkan suatu logika yang mesti diterima oleh esensi agama itu. Sehingga tiap kejumudan publik yang terus berjalan beriringan dengan peradaban mampu dialektis dengan stabil dan elegan.

Baca Juga  Surau Tanpa (Papan) Nama: Rumah Ibadat yang Tak Mementingkan Formalisme

Debat-debat mesti terus dibikin. Utamanya mendebat diri. Demikan pula mestinya lazim tak terbantahkan. Pertanyaannya, seberapa seringkah di antara kita mendebat diri? Memarahi diri sendiri? Lalu mengurai tiap hasil dari perdebatan dan marah-marah itu? Di sini kemudian pentingnya suatu ilmu untuk terus berjalan atas esensi keberagamaan itu.

Soal mendebat diri – dialektis, rupanya logika ulama nusantara sangat fenomenal adalah KH. Wahab Chasbullah perihal sikap keberagamaan dan pola kehidupan keseharian. Selain beliau masyhur dikenal ulama, bahkan nyata tercatat sebagai penggerak organisasi keislaman tersohor di nusantara, yakni Nahdlatul Ulama, logika keagamaan Kiai Wahab dikenal sangat unik, bernash, dan elegan atas peradaban.

Selain sebagai ulama, diruang lakon keberagamaan KH. Wahab Chasbullah juga merupakan seorang pengusaha. Ya, penjual kain. Mengapa demikian langkah yang diambil beliau? Konsep dan pola KH. Wahab meletakkan orang yang beragama mestinya menjadi subjek, aktor, produsen. Jangan sekedar hidup sebagai objek dalam ruang apapun.

Rupanya sikap beliau selaras dengan adigum yang masyhur dinyatakan Sayyidina Ali bin Abi Tholib, Faqubhan Lakum Khiina Syirtum Gharodhan Yurma–Buruk sekali jika di mana-di mana di antara kalian sekedar menjadi objek. Adigum singkat ini sangat monumental untuk dijiwai, suatu ruang refleksi yang jelas memotivasi realitas relasi kemanusiaan dalam segala aspek ruang dan waktu. Maka langkah sebagaimana model yang dilakukan KH. Wahab Chasbullah inilah rupanya uswah yang mesti mendidik kita semua sebagai orang-orang yang hidup dalam perjalanan keberagamaan yang agung–harus menjadi pelaku (subjek).

Argumen perihal agama dan pola hidup, ulama nusantara juga banyak berefrensi atas adigum lain, ainnal Ghina ‘anissyai’i Laa Bihii–Dalam rangka berkucukupan usahakan banyak hal yang tidak anda butuhkan. Artinya, kekayaan yang sejati adalah keserbacukupan–yang meletakkan keinginan sebagai sesuatu yang fana. Demikan ditindih oleh dasar hidup yang sekedar dibutuhkan saja. Artinya lebih kepada hal yang apa adanya, sederhana, dan cukup yang esensial saja.

Baca Juga  Mendesain Kurikulum Anti-radikal di Pesantren

Nah, dua adigum ini rupanya semacam bertentangan secara teks. Tapi lagi-lagi, agama memang perlu dialog. Yang meletakkan teks sebagai perwujudan instrumen guna mendalami esensi dibalik kedua teks dibalik adigum itu. Sehingga menemukan kesamaan yang sama-sama esensial dan berdasar secara nash. Demikian agar teks agama tak menjelma sebagai literasi yang dipertentangkan, tapi didialogkan secara kontekstual–al islamu sholihun likulli zamanin wa makanin, alhukmu yadhuruu ma’a ‘illatihii wujudan wa ‘adaman–bahwa hukum berjalan sesuai konteksnya.

Itu artinya, di antara kita mesti meletakkan agama tidak sebagai sesuatu yang formal saja, ia merupakan instrumen penempatan diri atas ketegangan antara wahyu Ilahi yang khas dan fakta teks-konteks realitas di mana dan kapan manusia itu berjalan hidup. Suatu sumber yang berimplikasi pada kekuatan spritual agung. Demikian itu tentunya perlu penziarahan yang panjang dan mendalam. Sehingga agama mampu diyakini oleh para pemeluknya sebagai suatu kekhasan yang literal dan substansial.

Bagi Paul F. Knitter bahwa konteks fakta keberagamaan dengan berbagai ragamnya tidak diharapkan sebagai peletakan atas pemeluk-pemeluknya sebagai kompetitor atau pesaing untuk berburu siapa yang paling benar. Pun kelangsungan hidup agama tak belaka ditentukan oleh kemampuan untuk saling mengalahkan atau menyalahkan yang lain. Tapi kemauan kuat yang murni lahir dari dalam diri, bahwa terbuka dan melihat diluar kita sebagai sesama ciptaan jelas merupakan bukti nyata bahwa penziarahan kita yang dialektis atas esensi agama itu benar-benar tuntas.

Hingga pada akhirnya kita menyadari, inilah fakta yang dengannya mesti didudukkan bahwa agama, beragama, dan keberagamaan itu benar-benar perlu perjumpaan dan dialog-dialog antara teks dan konteks yang argumentatif. Pun dalam tiap aktifitas-aktifitas agama itu mestinya mampu menciptakan ruang kehidupan yang tak menjumudkan, menciptakan kegembiraan, melahirkan keindahan dan tak perlu mengkerutkan dahi yang berlebihan, bukan? (mmsm)

Mohammad Afifi Koordinator GUSDURian Bondowoso. Founder Padepokan Nyai Surti