Muhammad Alfatih Suryadilaga Kaprodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Ketua Asosiasi Ilmu Hasis Indonesia (ASILHA)

Ketika Rumah sebagai Pusat Ibadah dan Aktivitas pada Bulan Ramadan

1 min read

Syiar Ramadan 1441 H/atau 2020 M terasa berbeda. Puasa di era Covid-19 memang tidak ada bedanya dengan pelaksanaan puasa sebelumnya. Orang yang berpuasa tetap menjaga dari hal-hal yang membatalkan, seperti makan, minum dan hal lain yang merusak keabsaan puasa. Artinya, esensi puasa tetap dan tidak berubah.

Perubahan besar justru terjadi pada aktivitas pendukung dalam mengisi kesemarakan puasa. Program-program yang bersifat bersama, seperti buka bersama, majlis taklim, atau bahkan salat tarawih berjamaah tidak dapat dilaksanakan di tengah wabah yang masih saja “gentayangan”.

Upaya pencegahan penularan secara sporadis dengan kampanye menghindari kerumunan, meniscayakan pelaksanaan kerja maupun ibadah dilakukan di rumah. Dengan demikian rumah dijadikan tempat pelaksanaan salat lima waktu dan tarawih serta beragam aktivitas lainnya. Sehingga, akhir-akhir ini rumah seperti layaknya tempat ibadah yang tersebar di unit terkecil masyarakat yaitu keluarga.

Fenomena di atas juga menghasilkan beragam imam dan penceramah. Tradisi kultum tarawih dan setelah salat subuh tetap dilaksanakan seperti layaknya di masjid atau musala. Hal yang membedakan adalah keterlibatan dalam pelaksanaannya dilakukan terbatas oleh anggota di dalam keluarga atau rumah tersebut.

Kenyataan di atas melahirkan banyak generasi ustaz dan ustazah yang dimulai dari keluarga. Mereka ini mampu menjadi imam dan sekaligus penceramah yang dapat digunakan di masyarakat luas ke depannya. Dengan demikian Ramadan mampu menghasilkan generasi baru dalam hal ini.

Optimisme ini menepis anggapan banyaknya orang yang “pensiun” menjadi ustaz. Hal tersebut terjadi sebab ditiadakannya jadwal yang sudah tersusun rapi sebagai khatib Jumat, kuliah shubuh serta tarawih di beberapa masjid dan musala. Terkadang, di tempat tertentu tetap melaksanakannya namun banyak di antaranya yang tidak melaksanakan kegiatan selama Ramadan.

Baca Juga  Fikih Korona: Agama dan Politik Penyelamat

Diam di rumah menjadi sarana melahirkan generasi muda yang mampu menjadi ustaz. Kesempatan belajar dalam menjelaskan ajaran Islam dapat dilakukan bergiliran dalam seisi rumah. Tentu saja, peran orang tua baik ayah maupun ibu menjadi hal pokok dan sekaligus kuncinya. Sehingga anggota keluarga dapat mencontohnya.

Sebagai ayah harus memberikan contoh yang baik dalam hal ini. Selain itu, ayah dapat memberikan umpan balik untuk perbaikan. Setidaknya penyampaian hasil review terkait materi dan penyampaiannya. Sehingga ke depannya lahir dari anggota rumah tersebut sosok-sosok yang mampu tampil di publik dengan baik dan memukau.

Berdasarkan pengalaman pribadi dalam sejarah kehidupan, saya memulai untuk menjadi khatib di masyarakat sejak 1998 ketika di Yogyakarta. Hal tersebut bukan berarti sebelummya belum pernah menjadi imam dan penceramah, tetapi pada tahun 1992 ,semenjak kuliah S1 pun sudah melakukannya meskipun dalam hitungan jari saja. Artinya, bahwa usia ini dianggap senja, berbeda dengan sekarang di mana anak-anak mampu menjadi pencermah di saat usia yang masih sangat muda, mulai dari 10, 16 sampai 18 tahun.

Kenyataan di atas mungkin tidak akan pernah dijumpai dalam tradisi pengkaderan ala pesantren. Di beberapa pesantren, banyak ditemukan gus-gusnya (putra/putrinya) belajar selain ke orang tuanya dengan mondok di tempat lain. Setelah selesai baru memiliki peran sebagai badal (pengganti) orang tuanya untuk kemudian baru mandiri setelah mereka dipercaya menggantikan posisi ayahnya sebagai pimpinan pesantren. Mungkin ini karena sikap tawadu yang dikedepankan. Tentu, berbeda dengan femomena dai zaman milenial ini.

Tetap di rumah menjadikan pengkaderan berkelanjutan. Hal tersebut memaksa semuanya untuk mampu menghadirkan yang hilang di rumah masing-masing. Ceramah Tarawih dan Subuh tetap dinikmati dengan sajian khatib bergiliran antara seluruh komponen di dalam keluarga. Akhinya, dari rumahlah lahir generasi-generasi bangsa terbaik sehingga benar kata pepatah “Baiti Jannati” (rumahku adalah surgaku). [HM, MZ]

Muhammad Alfatih Suryadilaga Kaprodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Ketua Asosiasi Ilmu Hasis Indonesia (ASILHA)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *