Muhammad Alfatih Suryadilaga Kaprodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Ketua Asosiasi Ilmu Hasis Indonesia (ASILHA)

Saatnya Kembalikan Fungsi Rumah sebagai Pusat Kegiatan Keseharian

3 min read

Covid-19 mewabah dan semakin hari semakin banyak korban baik positif maupun yang meninggal dunia. Catatan WHO 120 ribu jiwa melayang sejak mewabahnya virus tersebut dari hampur dua juta orang tertular langsung. Berbagai cara dilakukan untuk menahan laju virus ini mulai dari cara hidup bersih hingga jaga jarak. Tak ayal, terjadi berbagai perubahan sosial di masyarakat kita, baik dari aspek pendidikan, sosial dan sebagainya.

Sejak mewabahnya Virus Corona (Covid-19) perkuliahan dilaksanakan secara online atau jarak jauh. Hal tersebut dilakukan untuk meminimalisir kontak antar-individu sebagai sebuah ikhtiar dalam mencegah banyaknya korban yang lagi mewabah di Indonesia. Dahulu kuliah ini sering di lakukan oleh Universitas Terbuka (UT) dan kini sudah tidak terhitung lagi PT yang menggunakan model daring termasuk UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Kuliah daring merupakan salah satu solusi atas wabah mematikan tersebut. Setidaknya dosen dapat memilih beragam sarana media pembelajaran online seperti e-learning yang disediakan kampus, google classroom, zoom atau bahkan media sosial seperti facebook, whatsapp, dan sebagainya. Pemilihan berdasarkan kebiasaan masing-masing dosen dalam kuliah daring.

Respons mahasiswa atas kuliah daring sangat beragam. Setidaknya keluhan dan kualitas perkuliahan yang semakin meningkat dengan model daring. Terbatasnya kuota mahasiswa menjadi alasan utama sehingga banyak yang lebih senang dengan Whatsapp. Terbatasnya kuota ini memaksa mahasiswa mencari wifi di titik-titik yang menyediakan dengan gratis. Selain itu, mahasiswa merasa beban kerjaan tugas akibat kuliah sistem ini semakin meningkat. Sedangkan di mata dosen, kuliah daring menjadikan partisipasi mahasiswa meningkat dan kualitas pertanyaan dan respons papernya meningkat.

Fenomena di atas tidak saja dialami oleh mahasiswa. Proses pembelajaran online juga dilakukan oleh semua tingkatan pendidikan baik di sekolah dasar maupun menengah pertama dan atas. Daerah yang nenjadi pandemi virus diliburkan bertahap 14 hari dan jika belum ada tanda-tanda nenurun kemudian diperpanjang lagi, seperti Pemprop Jateng, DKI Jakarta dan Jatim yang sudah melakukan pembatasan interaksi lagsung. Hal tersebut dilakukan sejak meningkatnya jumlah masyarakat yang ODP. Sekarang, transfer keilmuan dilakukan lewat daring lewat rumah masing-masing.

Baca Juga  Menjamurnya Ustaz Gadungan Penyebab Umat Mabuk Agama

Bahkan kemendikbud membuat layanan sejak 13 April 2020 di TVRI sebagai media pembelajaran. Pelajaran dimulai dari PIAUD sampai SMA dengan jadwal masing-masing jenjang 30 menit. Ikhtiar ini untuk memudahkan jalan pembelajaran di mana banyak wilayah yang koneksi internet tidak baik. Solusi ini memang sangat baik dan masih banyak yang belum familiar dengan acara tersebut. Bahkan ada yang memberi kritik atas tayangan TVRI yang dimulai sejak jam 08.00 sampai selesai.

Social distancing juga dilakukan dalam rumah ibadah. Sejak tanggal 20 Maret 2020 beberapa masjid meniadakan salat Jumat berjemaah dan diganti salat zuhur di rumah. Himbauan tersebut sudah disampaikan oleh MUI. Bahkan imbasnya juga sampai ibadah salat selain Jumat juga disarankan di rumah karena masjid tidak menyelenggarakannya selama dua minggu lamanya.

Beberapa masjid ada yang melaksanakan himbauan tersebut, ada yang tidak. Masjid terbesar di Surabaya, Masjid al-Akbar tetap menyelenggarakan jamaah salat Jumat meski dengan jarak saf yang tidak seperti biasanya. Imam dan seluruh jemaah menggunakan masker dan imam membaca qunūt nāzilah untuk kebaikan seluruh umat Islam.

Masjid Istiqlal Jakarta sebagai masjid terbesar di Indonesia berbeda dengan masjid di Surabaya. Jemaah masjid tetap berkumpul di masjid tersebut di waktu salat Jumat. Namun, penyelenggara mengumumkan tidak ada salat Jumat. Mereka yang terlanjur datang di masjid akhirnya mengadakan salat zuhur berjemaah. Kejadian ini juga terjadi di bulan Maret 2020 sampai mingggu ini, berarti sudah empat kali jumatan tidak diselenggatakan dengan alasan wabah ini.

Jika merujuk pada hadis, peniadaan salat Jumat bukan menjadi alasan untuk tetap salat zuhur di masjid. Salat berjamaah dapat dilakukan di rumah masing-masing. Di awal Islam, bangunan Masjid tidak seperti sekarang. Sehingga, Nabi Muhammad memberi kelonggaran berbagai peribadatan seperti ketika shalat ied yang bersamaan dengan salat Jumat, maka salat Jumat diperbolehkan diganti salat zuhur di rumah. Atau peristiwa saat musim yang dingin atau hujan lebat. Bahkan kasus tersebut menjadikan panggilan azan diubah dengan salatlah kalian di rumah masing-masing.

Baca Juga  Seni Musik dan Spiritualitas Islam

Dalam konteks seperti ini, menghadiri walimah nikah juga menjadi tidak sunnah lagi. Hal tersebut dikarenakan berkumpulnya banyak orang menjadi bagian menularnya wabah virus yang sedang merebak di Indonesia. Sebuah perhelatan pesta pernikahan di Australia yang dihadiri 120 orang bisa menyebabkan lebih dari 135 orang terkena virus yang belum ditemukan obat dan anti-virusnya. Pemerintah tegas melarang resepsi pernikahan diadakan, akibatnya seorang perwira dipecat dari jabatannya karena masa Covid-19 tetap lakukan pesta dengan meriah.

Social distancing atau istilah jaga jarak fisik menjadi bagian memutus mata rantai virus. Upaya menghindari beragam pergumulan merupakan sebuah ikhtiar manusiawi yang dilakukan untuk kebaikan bersama. Selain itu, doa dan tawakal menjadi penting dilakukan setiap Muslim. Allah memberikan kemudahan bagi seluruh umat manusia dalam melewati masa pandemi dan menjadi bagian umat manusia untuk semakin dekat dengan Tuhannya.

Hadis Nabi memberikan model penanganan Covid-19, yaitu melaluu isolasi atas daerah yang terkena wabah menular. Orang-orang dari luar tidak boleh masuk ke daerah terkena wabah dan yang di dalam tidak boleh keluar. Di masa Rasulullah saw. jika mendapati orang yang dekat dengan membawa wabah menular, Nabi menyuruh menghindari seperti larinya orang ketika bertemu singa yakni dengan sekencang-kencangnya. Cara ini lantas dikontekstualisasikan di Indonesia dengan istilah PSBB [Pembatasan Sosial Berskala Besar] sebagaimana di Jakarta dan beragam kota penyanggahnya. Seperti inilah mestinya kita maknai.

Terakhir, peran kedua orang tua dalam masa pandemi sangat penting. Ayah sebagai penjaga keluarga dari neraka tidak saja menjadi penjaga neraka di akhirat saja melainkan sejak di dunia ini. Minimal penjagaan itu dari wabah Covid-19 dengan anak tetap belajar di rumah dengan ditemani ayah dan ibunya. Kini model Madrasat al-Awlād kembali lagi ke model lama di rumah saja. Sehingga kehidupan dalam rumah dan kebersamaan tetap ada di rumah. Selamat bekerja di rumah, beribadah di rumah dan semoga kita sukses selalu. [HM, MZ]

Muhammad Alfatih Suryadilaga Kaprodi Ilmu Hadis UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta; Ketua Asosiasi Ilmu Hasis Indonesia (ASILHA)

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *