Moh Faishol Khusni Mahasiswa Program Doktor PAI Multikultural UNISMA; Pegiat Islam Multikultural pada Centre of Islamic Multicultural Studies UNISMA; Direktur FAST Spirit International

Memperkuat Social Closeness di tengah Social Distancing

3 min read

https://www.mindful.org/why-we-need-an-empathy-revolution/

New Normal, inilah langkah baru dalam rangka mengajak berdamai dengan Covid-19. Dunia akhirnya memilih bersabahat dengan Covid-19 ketimbang melakukan perlawanan sengit dengan isolasi mutlak yang telah terbukti membuat goncangan yang begitu keras di semua sektor kehidupan manusia. New Normal adalah menerapkan protokol kesehatan ber-mainstreaming Covid-19 pada seluruh ruang privat dan publik agar semua sektor dapat kembali bergerak normal.

Tidak ada negara di dunia yang mendeklarasikan diri siap menghadapi pandemi global ini sehingga seluruh negara harus mencari cara hidup berdampingan dengan virus ini melalui konsep relaksasi atau pelonggaran terbatas. Bahkan ada yang ekstrim menawarkan konsep Herd Community (imunitas kawanan), sebuah upaya menghentikan laju penyebaran virus dengan cara membiarkan imunitas alami tubuh. Sehingga, daya tahan atau imunitas diharapkan akan muncul dan virus akan reda dengan sendirinya. Semua pilihan cara “bersabahat” dengan Corona bukan tanpa risiko, tetapi sepertinya sulit menahan lebih lama lagi dampak sosial dan ekonomi akibat pandemi ini. Simalakama yang harus dihitung benar untung ruginya.

Tulisan ini tidak bermaksud menjawab bagaimana tatanan New Normal, tetapi mengingatkan agar Allah segera mengakhiri tugas Covid-19 ini. Pilihan diksi New Normal dipilih sebagai strategi adaptasi menuju kondisi baru, baik karena “menang” atau “kalah”. Tentu, idealnya the real normal bukan new normal. Artinya semua bisa pulih seperti sedia kala bahkan akan berganti lebih baik lagi.

Dalam pencegahan Covid-19, tidak ada yang salah dengan protokol mengharuskan semua orang melakukan physical distancing, social distancing bahkan territorial lockdown antar daerah atau antar negara dalam rangka menghentikan laju tak terkendali pandemi, asal tidak kebablasan dengan merubahnya menjadi sikap selfish yang mematikan nilai-nilai kemanusiaan dan persaudaraan. Berjarak fisik bukan justru menjauhkan kedekatan hati dan rasa kemanusiaan, tetapi seharusnya justru memupuk kedekatan sosial (social closeness). Istilah Social Closeness dipilih sebagai penegasan bahwa berjarak secara fisik tetapi tak berjarak secara hati, sehingga dengan “pertautan hati”, rasa empati dan saling membantu menjadi lebih lebih kuat.

Baca Juga  Hoaks Agama dan Kecemasan Kita

Salah satu contoh penting social closeness adalah bahwa setiap individu memikul tanggung jawab turut memutus transmisi penyebaran virus dengan mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan, seperti memakai masker, cuci tangan, menjaga jarak, tidak berkerumun dan seterusnya. Tidak merasa sok jagoan bahwa dirinya kebal dan tidak mungkin tertular, tetapi justru membaliknya menjadi “saya harus jaga diri agar tidak menulari siapa saja”.

Jika komitmen ini yang dipegang, maka sesungguhnya kita telah memiliki jiwa social closeness. Dalam bentuk yang lain, social closeness dapat diwujudkan dengan sikap kesukarelawanan, kedermawanan dan kepedulian sosial lainnya. Jadi kata kunci pertama munculnya social closeness hanya bisa terjadi jika setiap orang berani memikul tanggung jawab sebagai pribadi yang manusiawi (mengamalkan nilai-nilai insaniyyah).

Sebagai manusia yang beragama, harus meyakini bahwa Covid-19 adalah makhluk Allah, yang tentu saja diciptakan untuk menunjukkan kebesaran-Nya dan mempunyai maksud tertentu. Oleh karena itu, sebagai insan beriman tidak boleh memaki kehendak Allah ini, tetapi harus pandai melihat beyond of phenomena.  Melalui Covid-19 ini Allah sedang memaksa kita melihat kembali orientasi hidup sebagai manusia dan manusia yang beragama, ternyata benar manusia lemah dan tiada daya tanpa pertolongan Allah.

Allah hanya dengan menurunkan makhluk-Nya yang bahkan tidak kasat mata, dunia sudah menjadi kacau balau, ilmu pengetahuan yang diagung-agungkan ternyata gagap menghadapi pandemi ini. Manusia “ditampar sangat keras” bahwa hanya Allah satu-satunya tempat bergantung. Tidak pandang bulu, Corona menyerang masyarakat biasa, orang kaya, tua muda, maupun kelompok dengan status sosial tinggi seperti menteri, perdana menteri, putra mahkota kerajaan yang secara matematika harusnya terlindung secara fisik dan kesehatan karena memiliki semua modal fisik dan sosial untuk mengamankan diri.

Baca Juga  Distorsi Informasi dalam Perselisihan Mobil PCR Antara Pemprov Jatim Dan Pemkot Surabaya

Hingga pada akhirnya kita bisa menyadari bahwa Allah satu-satunya tempat kembali. Sebagaimana Allah firmankan dalam Al Qur’an: ٱلَّذِينَ إِذَآأَصَٰبَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوٓا۟ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَٰجِعُونَ. Semua milik Allah dan semua kembali kepada-Nya (Q.S Al Baqarah:156).

Dengan Bahasa mudahnya, jika adanya Corona ini bandulnya semakin dekat dengan Allah, maka kita menuju arah yang benar (religiusitas/keimanan kita menjadi meningkat), tetapi jika sebaliknya, kita menjadi jauh dari Allah, maka semakin sesatlah perjalanan hidup (menurun kualitas keimanan seorang hamba).

Meningkatnya jiwa kemanusiaan ditambah dengan rasa keimanan yang lebih kuat, akan melahirkan sikap social closeness. Sikap empati, simpati dan “ketagihan” untuk membantu sesama tanpa memandang latar belakangnya tidak akan dapat terbendung sesuai dengan kemampuannya. Bagi yang hanya memiliki tenaga ia akan menyumbangkan tenaganya menjadi relawan Covid-19 untuk berbagai tugas, bagi yang memiliki kelebihan harta maka berdermalah dengan hartanya, bagi yang berilmu maka berjihadlah dengan ilmunya, bagi seniman (seperti Alm. Didi Kempot) akan memanfaatkan posisinya untuk menggalang kepedulian Bersama. Dan tentu saja bagi yang berkuasa, mohon memanfaatkan kekuasaan demi kebaikan semua secara nyata bukan lips service dan pencitraan semata.

Jika social closeness telah menguat, budaya hidup bersih terjaga, kepedulian terhadap lingkungan sosial dan kelestarian alam menebal, hilangnya sikap sombong/pamer, meningkatnya toleransi, kepedulian sosial serta semakin meningkatnya iman dan ketakwaan kepada Allah dzat yang maha segalanya, maka insyaAllah Covid-19 ini akan segera diakhiri tugasnya oleh Allah.

Sebagaimana firman Allah (Qs. Al-A’raf: 96 ): “Dan jika penduduk negeri beriman dan bertaqwa ( kepada Allah sesungguhnya Kami (Allah) bukakan kepada mereka (pintu-pintu) berkah dari langit dan bumi; Tetapi mereka mendustakan ( ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka lantaran apa yang telah mereka kerjakan.” Jadi semua kembali kepada kita, sungguh Allah tidak akan merubah nasib sebuah kaum sebelum kaum itu merubah sendiri nasibnya.

Baca Juga  Hamka dan Etika Politik Para Politisi Kita

Dengan demikian, kita tidak harus beradaptasi dengan konsep New Normal, tetapi the Real Normal. Kita bisa kembali berjabat tangan, merapatkan shaf, saling berkunjung dengan bebas, bekerja dengan leluasa dan seterusnya. Inilah the real normal. Bulan Ramadhan ini sejatinya momentum terbaik menguatkan social closenesssekaligus berupaya meraih derajat Takwa agar Corona selesai menyelesaikan tugasnya. Wallahu a’lam bish showab. [FYI]

Moh Faishol Khusni Mahasiswa Program Doktor PAI Multikultural UNISMA; Pegiat Islam Multikultural pada Centre of Islamic Multicultural Studies UNISMA; Direktur FAST Spirit International

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *