Mahbub Ghozali Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Ketaatan Beribadah Ramadan ‘Terusik’ di Era Covid-19

2 min read

Semenjak kasus Covid-19  di Indonesia diumumkan langsung oleh Presiden Joko Widodo tanggal 2 Maret 2019, telah banyak perubahan sosial keagamaan yang terjadi di tengah masyarakat. Berbagai kebijkan dikeluarkan baik bernuansa sosial seperti kebijakan social distancing hingga Pembatasan Sosial Berskala Besar (PBSB), atau kebijakan dalam wilayah agama seperti ibadah di rumah, seperti pelarangan salat Jumat berjemaah di masjid dan pembatasan ibadah di bulan Ramadan. Kebijakan terakhir ini yang akan menjadi perhatian dalam tulisan singkat ini.

Ramadan, yang dipandang sebagai bulan suci penuh dengan rahmat dan ampunan, merupakan momen untuk meningkatkan kualitas ibadah. Bahkan beberapa di antara umat Muslim secara sengaja meninggalkan seabrek aktivitas duniawinya demi kekhusukan ibadah di bulan tersebut. Di lain pihak, momen ini juga dimanfaatkan oleh banyak kalangan untuk mendukung atau bahkan mengambil keuntungan di tengah meningkatnya keinginan mayoritas masyarakat untuk beribadah. Misalnya para mubaligh menggunakan momen ini untuk meningkatkan intensitas dakwahnya, para penulis lagu menggunakan momen ini untuk mendukung suasana ibadah di bulan Ramadan, bahkan industri fashion, menggunakan momen ini untuk meningkatkan produksinya.

Pembatasan aktivitas dalam bulan Ramadan pasti akan menuai pro dan kontra masyarakat. Beberapa Muslim—individu atau kelompok—bisa jadi tidak mengindahkan larangan beribadah di masjid, karena merasa bulan termulia ini harus dijalaninya dengan sering datang beribadah ke masjid. Anggapan ini disebabkan oleh pandangan mereka yang menganggap bahwa kewajiban kepada Tuhan harus didahulukan, karena Tuhan adalah sumber segalanya hingga kepasrahan terhadap keputusan Tuhan merupakan kebanggaan bagi mereka meskipun mengancam jiwa mereka sendiri dan orang lain.

Hak Manusia lebih Utama daripada Hak Allah

Pemahaman kepada masyarakat terkait pemenuhan hak-hak dalam agama harus menjadi perhatian banyak kalangan demi mensukseskan pembatasan ibadah di bulan Ramadan. Allah sebagai pusat dari segala aktivitas di dunia memiliki hak khusus, akan tetapi manusia sebagai hamba juga memiliki hak-haknya sendiri.

Baca Juga  Benarkah Islam Agama Teroris?

Said bin Umar al-Taftazani dalam Sharh al-Talwīh alā al-Tawdīh li Matn al-Tanqīh fī Usūl al-Fiqh membagi hak Allah dengan hambanya menjadi empat bagian: hak murni yang dimiliki Allah (huqūq Allah al-Khālisah), hak murni yang dimiliki manusia (huqūq al-‘ibād al-khālisah), hak yang menyanggut keduanya, tetapi yang diunggulkan hak Allah (mā ijtama‘a fīhā haqqānī wa haqq Allah ghālib), dan hak yang menyanggut keduanya, tetapi yang diunggulkan hak manusia (mā ijtama‘a fīhā haqqānī wa haqq al-‘ibād ghālib).

Abu Ishaq al-Syatibi dalam al-Muwāfaqāt juga membagi hak-hak tersebut ke dalam tiga klasifikasi, yakni: hak yang berhubungan dengan Allah, hak yang berhubungan dengan Allah dan manusia tetapi hak Allah lebih diutamakan, dan hak yang berhubungan dengan Allah dan manusia tetapi hak Allah lebih diutamakan.

Garis yang jelas dalam membatasi hak-hak tersebut adalah pendapat al-Syatibi yang mengatakan bahwa hak manusia dibatasi oleh kemaslahatan atas dunia, sedangkan hak Allah dibatasi dengan kemaslahatan di akhirat. Sedangkan ibadah dalam pandangan al-‘Izz bin Abd al-Salam adalah kemaslahatan manusia. Hal demikian berarti bahwa pembatasan ibadah di rumah tidak melanggar hak Allah, ataupun mengurangi kesempurnaan ibadah Ramadan.

Ibadah dalam bulan Ramadan mengandung dua hak secara bersamaan, akan tetapi yang diunggulkan adalah hak manusia untuk selamat dari wabah dan hak untuk melidungi diri, harta dan keluarganya. Masyarakat Muslim Indonesia seharusnya tidak memaksakan diri untuk melakukan ibadah Ramadan di tempat-tempat ibadah, hanya untuk mencapai kesempurnaan ibadah. Kesempurnaan ibadah dalam suasana wabah semacam ini justru terletak pada kepatuhan terhadap himbauan untuk melindungi diri, keluarga, dan hartanya dengan tetap beribadah di rumah.

Baca Juga  Sains Tidak untuk Mencemooh Agama, Tapi Mengkritiknya: Tanggapan untuk Opini Aziz Anwar Fachruddin

Perlunya Konsep Theology of Crisis Hadapi Pandemi

Dalam konteks wabah semacam ini, himbauan dari banyak kalangan tidak cukup untuk memberikan kesadaran lebih bagi masyarakat untuk meningkatkan kualitas ibadah ditengah krisis semacam ini. Peningkatan ibadah di tengah suasana krisis dapat disebut sebagai theology of crisis. Konsep ini telah dahulu muncul dalam pemikiran Eropa di awal abad ke-20 dengan perdebatan mengenai krisis keimanan.

Dampak dari wabah yang mendunia ini, paling tidak membangkitkan keresahan setiap umat beragama atas kemungkinan dosa yang dimiliki, sehingga Tuhan memberikan “azab kepada seluruh umat manusia. Perasaan semacam ini akan mengakibatkan setiap orang akan melanggar seluruh pelarangan yang terkait dengan keagamaan. Bagi mereka, upaya “penebusan” dosa lebih penting dari pada ketaatan mereka terhadap pemerintah atau pihak lain di luar Tuhan. Jika hal demikian tidak diatasi, maka kebijakan apapun tidak akan dijalankan, karena dianggap menghalangi umat beriman untuk menebus “dosa” yang menyebabkan “azab” tersebut hadir.

Penekanan terhadap the freedom of the living God in relation to man harus juga ditekankan pada diri setiap Muslim. Penekanan ini harus dipahami ulang dengan gagasan bahwa kesempurnaan ibadah dapat dicapai dengan melakukan perlindungan terhadap diri dan keluarga terhadap penularan wabah. Umat Islam harus meyakini bahwa di tengah wabah ini biarlah Tuhan menjadi Dzat-Nya, yang menilai kesempurnaan dan kesalahan ummatnya (Let God be God).

Konsep keberimanan dalam wabah ini harus mendapat perhatian lebih, agar umat beragama di Indonesia tidak salah arah. Apalagi satu minggu ke depan, seluruh umat Islam di dunia akan memasuki bulan agung yang dinantikan. Jika hal ini tidak dipikirkan secara serius, maka dapat memungkinkankan bencana wabah ini akan sangat meluas dan menjangkiti banyak umat Islam di Indonesia. [AH, MZ]

Baca Juga  Pandangan Fatima Mernissi terhadap Peran Politik Khadijah dan Aisyah di Masa Awal Islam

 

Mahbub Ghozali Dosen UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *